- BIN pastikan data baru
- Asetnya di Indonesia jutaan dolar AS
Jakarta, BPost
Di tengah gencarnya tudingan keterlibatan Dulmatin di Poso, Badan Intelijen Negara
(BIN) menemukan data baru. Lembaga ini memastikan bahwa kelompok Jamaah Islamiyah (JI)
Semarang (Jateng) yang bermain di Poso.
Wakil Kepala BIN M Asad membantah keterlibatan Dulmatin, gembong teroris di Asia
Tenggara dalam konflik Poso yang berujung bentrok baku-tembak kelompok sipil bersenjata
dengan kepolisian, 22 Januari lalu.
M Asad justru menuding kelompok JI Semarang lah yang telah membantu menyediakan
senjata bagi kelompok DPO Poso.
"Tidak, tidak (Dulmatin). Ini murni dibantu gerakan Jawa Tengah," kata
Asad, Senin (29/1).
Kelompok Jawa Tengah, katanya, menyuplai senjata via pelabuhan. "Kita
melihat ada komunikasi ke Poso," ujarnya.
Siapa sosok JI asal Jawa Tengah tersebut? Asad lupa nama-namanya. "Mereka
itu memang dari Semarang. Namanya saya lupa. Dari mereka ini bahkan sudah ada yang
ditangkap," jelasnya.
Menyangkut indikasi kaburnya sejumlah DPO dan pelaku teror Poso ke Jawa Tengah,
Asad juga tak mau mengiyakannya. "Yang pasti ruang gerak mereka di Poso sudah
sempit," paparnya.
Prof Zachary Abuza, seorang cendekiawan terkemuka bidang terorisme di Asia Tenggara,
dalam tulisannya yang diterbitkan The Australian edisi 10 September 2006, juga
memperingatkan akan adanya peningkatan ancaman JI. Apalagi setelah pada 2005, Noordin M
Top mengumumkan kelompok baru, Tanzim Qaidat al-Jihad. "Kelompok ini merupakan
sempalan JI yang paling beringas," ujarnya.
Kelompok ini, kata Abuza, mengubah taktiknya dengan memberikan bantuan kemanusiaan di
wilayah setempat, sehingga menarik lebih banyak dukungan publik.
"Dengan menggunakan selubung strategi layanan publik, JI dapat membentuk ikatan
yang lebih akrab dengan kaum Islam yang menentang kekerasan," ujarnya.
Menurut Abuza, keengganan pemerintah untuk menghancurkan infrastruktur JI sebenarnya
tindakan yang gegabah. Sebab JI memiliki visi untuk jangka waktu sangat panjang.
Abuza menduga, JI di Indonesia memiliki aset senilai jutaan dolar AS. Dalam tulisannya
yang lain dan diterbitkan di Herald Sun edisi 8 November 2006, Abuza menyebut, aset
JI yang sesungguhnya tersimpan dalam bentuk real estate, yaitu sejumlah kantor
pusat dan kantor cabang. Bahkan, Abuza yang mengaku pernah singgah di salah satu madrasah
milik Baasyir, al-Mukmin, menyatakan bila dirinya pernah diperlihatkan gambar
arsitektur sebuah kampus baru.
"Bangunan itu tidak jauh berbeda dari National University of Singapore," ujar
Abuza.
Serahkan diri
Sementara itu, satu per-satu tersangka kekerasan di Poso menyerahkan diri kepada
polisi. Terbaru, Syukur alias Ukung dan Yuyun, menyerahkan diri, Senin (29/1), sekitar
pukul 11.00 Wita dengan diantar oleh Muspika Poso Pesisir dan tokoh masyarakat setempat.
Menurut keterangan Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Anton Bachrul Alam, Syukur alias
Ukung adalah salah satu tersangka pengeroyokan dan penganiayaan yang menewaskan anggota
polisi Bribda Dedi Hendra saat pemakaman DPO Riyan pada 11 Januari lalu.
Sementara Yuyun adalah pemilik rumah di Jalan Irian, Poso Kota. Rumah Yuyun dipakai
sebagai tempat persembunyian dan penyerangan kelompok sipil bersenjata saat terjadi
penggerebekan pada 11 Januari lalu. Polisi juga menemukan senjata api dan bahan peledak di
rumah Yuyun.
"Saat ini keduanya masih diperiksa. Sejauhmana keterlibatan dan peran mereka, kami
masih memeriksanya," jelas Anton. Polri juga mengaku telah berhasil mengungkap 32
kasus kekerasan yang menonjol di Poso.
Menurutnya, sejak November 2005 hingga Mei 2006, Detasemen 88, Bareskrim dan Polda
Sulteng mengungkap 13 kasus kekerasan menonjol. Terungkap pula 19 kasus kekerasan lainnya,
sehingga keseluruhan mencapai 32 kasus.
.Sedangkan operasi penyisiran yang dilakukan Senin pagi di Gebang Rejo juga membuahkan
banyak hasil.
"Ditemukan beberapa pucuk senjata api dan bahan peledak. Ada satu senjata organik
MK-3, satu senjata organik SKS, Revolver, 3 senpi rakitan laras panjang, 5 magasin SS-1,
10 peluru GLM, 1 senpi Colt, 1 rompi anti peluru, 23 bom rakitan, 3 pasang sepatu PDL
Polri, 7 tas pinggang berisi total 700 butir amunisi, 3 buah alat merakit bom ,"
jelas Anton.
Sedangkan penyisiran anggota Brimob Polda Sulteng di bukit pohon jati belakang Tanah
Runtuh, juga menemukan 30 bom aktif, 589 amunisi, yakni dua karung berisi 280 butir
amunisi kal 5,56 mm, 299 butir amunisi kal 3,8 mm, dan 10 butir amunisi jenis kal 7,62 mm.
Selain itu ditemukan pula 7 pucuk senjata api rakitan laras panjang, 3 sangkur, 2 bilah
pedang, 4 magazen M16, 1 magazen Mk3, 2 buah pipa peluncur, 2 KTP An Sugianto dan Rahmad,
1 cadar warna hitam, 1 topi rimba, 1 avometer, 2 gulung kabel listrik warna merah, 1 botol
minyak singer, dan 1 busur.
Secara terpisah Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Sisno Adiwinoto mengungkapkan adanya
dugaan kelompok sipil bersenjata di Poso memiliki koneksi dengan kelompok bersenjata di
tempat lain, seperti di Ambon dan Aceh.
Dugaan ini terkait dengan temuan senjata yang dipakai para kelompok sipil selama ini.
"Tiga senjata diantara teridentifikasi dari Gudang Brimob. Yang lain ada yang diduga
berasal dari daerah lain, seperti Ambon, Papua dan Aceh," ujar Sisno.
Tiga senjata yang diidentifikasi dari Gudang Brimob adalah senjata jenis SKS T23304,
Revolver 4862, dan Brand MK3. Menurut Sisno untuk memastikan asal senjata tersebut, polisi
akan melakukan pengecekan ke Filipina dan sejumlah negara ASEAN.
"Yang tidak terdaftar patut diduga dari luar. Kita akan melakukan pengecekan. Tapi
patut diduga pula ini sisa senjata dari Aceh dan Papua," katanya. jbp/ugi/ade