- Bingung tentukan dukungan
- Syaifullah: Kalsel solid
- Yudhoyono buka muktamar
- Digagas koalisi jegal Suryadharma
Jakarta, BPost
Muktamar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) telah dibuka Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, malam tadi. Persaingan merebut kursi ketua umum kian terbuka. Namun, perwakilan
Kalimantan masih bingung menentukan pilihan.
Di saat sejumlah kandidat ketua umum seperti Suryadharma Ali, Arief Mudatsir Manan,
Endin J Soefihara, Yunus Yosfiah, Egi Sudjana dan Ali Marwan Hanan kian aktif berkampanye
memperebutkan 1.164 suara peserta, utusan Kalsel dan provinsi-provinsi lain di Kalimantan
justru bingung menentukan sosok calon ketua umum partai berlambang Kabah itu.
Bahkan, Senin (29/1) malam, petinggi PPP se-Kalimantan mengunjungi Ketua Umum DPP PPP
Hamzah Haz di kediaman kawasan Kebon Pedas Bogor, Jawa Barat. Tujuan rombongan yang
dipimpin Ketua DPW PPP Kalsel, Rudy Ariffin ini, meminta petunjuk mengenai calon-calon
tersebut.
Sekretaris DPW PPP Kalsel, Syaifullah Tamliha yang ikut dalam pertemuan itu mengatakan
arahan dari Hamzah diperlukan agar utusan Kalimantan tidak salah memilih. "Pak Hamzah
berpesan agar kita benar-benar melihat back ground para calon sebelum menentukan
pilihan. Yang penting kualitas orang, bukan fulus (uang) karena semua calon punya fulus,"
katanya.
Dalam pertemuan ini, Hamzah juga menyatakan Suryadharma Ali lebih baik mengundurkan
diri sebagai Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM). "Sebab jika terpilih,
akan terjadi benturan antara kepentingan pemerintah dan rakyat yang diwakili PPP,"
kata Hamzah sebagaimana ditirukan Syaifullah.
Bahkan, Hamzah mengaku telah menyampaikan harapannya ini kepada Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono. Presiden menanggapinya dengan mengatakan dirinya tidak akan ikut-ikutan dalam
pemilihan ketua, sebab menyadari memang berada di luar sistem.
"Alasan lain, Pak Hamzah mengatakan itu adalah kinerja Suryadharma sebagai menteri
sedang menjadi sorotan. Kalau dia memimpin PPP, kemudian di tengah jalan diganti oleh
presiden, tentu ini akan memengaruhi PPP," jelasnya.
Dalam pertemuan ini juga disinggung soal sinyal dukungan dari tokoh ulama PPP KH Maemum
Zubair terhadap Arief Mudatsir. "Tanda-tandanya, waktu Muswil PPP Jawa Tengah, Mbah
Maemun menyebut Mudatsir, jelas-jelas ini Arief Mudatsir. Jadi sekarang ada dua calon yang
kuat, Suryadharma Ali dan Arief Mudatsir," katanya.
Didesak calon yang banyak mendapat dukungan dari perwakilan Kalsel, Syaifullah enggan
menyebutkan. "Kita belum menentukan. Tetapi 40 suara Kalsel pasti solid. Demikian
pula dengan Kalimantan," tegasnya.
Dengan mengenakan baju hijau berkerah Shanghai, Yudhoyono membuka muktamar yang
berlangsung hingga 3 Februari mendatang. Dia didampingi Wakil MPR Hidayat Nurwahid dan
Ketua DPR Agung Laksono.
Sebanyak 1.164 suara diperebutkan dalam muktamar bertema Berkhidmat Melayani Umat
ini. Kalimantan memiliki 137 suara, Sumatera sebanyak 350 suara, Jawa dan DKI Jakarta
sebanyak 347 suara, dan sisanya suara milik Bali, NTB dan Indonesia Timur.
Permainan Uang
Rumor telah terjadinya money politics, kian berembus pada hari pertama muktamar
yang digelar di Hotel Mercure, Ancol ini. Modusnya bermacam-macam, menjanjikan uang hingga
ratusan juta sebagai ucapan terima kasih telah memilih, membiayai perjalanan dan
menanggung akomodai peserta hingga menempatkan peserta di hotel-hotel berbintang.
Tragisnya, Ketua Departemen Kaderisasi dan Keanggotaan DPP PPP Ahmad Gozali Harahap
membenarkan adanya politik uang itu. Ia menyebutnya sebagai ongkos politik. "Hal itu
lumrah di dunia demokrasi Indonesia. Sebutannya pun bukan politik uang, melainkan ongkos
politik yang harus dikeluarkan dalam proses pemenangan calon," ujar Gozali.
Saat dikonfirmasi, seperti biasa para kandidat Kandidat Ketua Umum Endin AJ Soefihara
menyatakan ia antipolitik uang. "Saya proklamasikan diri anti-money politics.
Saya sudah tanda tangani," ujar Endin diamini Suryadharma dan Ali Marwan.
Lucunya, agar pendukungnya tidak tergiur tawaran uang kandidat lain, pendukung
Suryadharma diisolusi di hotel mewah, Hotel Borobudur. Ongkosnya tentu saja ditanggung
Suryadharma.
"Sejak Minggu (28/1), 720 pendukung kami telah menginap di Hotel Borobudur,"
ujar tim sukses Suryadharma, Emron Pangkapi.
Pun dengan Arief Mudatsir. Dia menempatkan para pendukungnya di Hotel Sofyan Betawi.
"Tidak bukan permainan uang. Kita mendukung setelah bertemu di daerah. Tidak ada
kaitan dengan ongkos politik," kata Sekretaris DPC Blitar Syafii Zamzam yang
mendukung Arief Mudatsir.
Koalisi
Informasi yang diperoleh BPost, sejumlah kandidat sedang menjajaki koalisi
untuk menjegal Suryadharma yang dinilai menjadi titipan Istana.
Secara diam-diam, mereka melakukan pertemuan di rumah Hamzah Haz, Minggu (28/1) malam.
Mereka yang hadir adalah Yunus Yosfiah, Ali Marwan, Arief Mudatsir, Endin Soefihara dan
Dimyati Natakusumah. "Dalam politik, kemungkinan ke arah itu (berkoalisi) bisa saja
terjadi," kata Arief.
Endin pun mengaku tak mempermasalahkan wacana koalisi untuk menjadi orang nomor satu di
PPP. "Tidak tertutup kemungkinan akan terjadi penggabungan sesama calon. Saya akan
melakukan kemungkinan itu," katanya.
Menyikapi jegalan terhadap dirinya itu, Suryadharma balik menantang dibuktikannya rumor
itu. "Saya bukan titipan dari siapa pun. Presiden sudah secara tegas menyatakannya.
Buktikan kalau saya titipan Istana," sangkalnya.
Wakil Ketua DPP Partai Demokrat Achmad Mubarok juga menegaskan Yudhoyono tidak
melakukan intervensi ke Muktamar PPP. "Itu gaya politik kuno. Yudhoyono tidak punya
tipikal seperti itu," tandasnya. mur/rbt/dtc/kcm/ant