- Terpaksa belok arah
- Pencarian masih nihil
- Agung: Saya tidak menghindar
Jakarta, BPost
Empat hari sudah, pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI 574 tidak diketahui
keberadaannya. Tim pencari gabungan berbagai instansi dibantu AU Singapura terus melakukan
penyisiran di berbagai lokasi. Namun, hasilnya tetap nihil.
Setelah kabar pesawat berpenumpang 96 orang dan enam awak itu jatuh di Desa Rangoan
Kecamatan Matanga, Kabupaten Polman, Sulawesi Berat, tidak terbukti kebenarannya, pada
Kamis (4/1) ada dua informasi baru tentang keberadaan pesawat itu.
Informasi pertama menyebutkan pesawat jatuh di hutan Kecamatan Noangan, Bolaang
Mongondow, Sulawesi Utara. Untuk mengecek kebenaran informasi, tim penolong langsung
melakukan pengecekan.
"Saya sempat berkomunikasi dengan Camat Noangan ketika hendak memasuki hutan.
Namun, terputus karena di sana sinyal komunikasi tidak ada. Kita masih menunggu kabar
selanjutnya apakah benar pesawat Adam Air jatuh di hutan tersebut. Hutannya sangat lebat
dan susah ditempuh," ungkap Ketua DPRD Sulut Sahrial Damopoli, malam tadi.
Lain lagi dengan pengakuan warga Desa Tammalantik, Kecamatan Tandu Kalua, Kabupaten
Mamasa, Sulawesi Barat. Mereka mengaku pada Senin (1/1) siang mendengar ledakan dari
pesawat yang baru saja melintasi desanya.
"Seorang warga bernama Halimah mengaku mendengar ledakan setelah pesawat yang dia
lihat menghilang. Pesawat yang terbang rendah itu sempat berputar dua kali di atas
desanya. Setelah itu pesawat menghilang di balik pegunungan dan tidak lama kemudian
terdengar suara ledakan. Kita sedang memeriksa mereka," kata Kepala Polres Polewali
Mandar, AKBP Sukria Gaos.
Operasi pencarian pun kian intensif dilakukan. Daerah yang diubek-ubek adalah Selat
Makassar, Mamuju dan Tanatoraja. "Tapi kita belum mendapatkan hasil. Konsentrasi kita
adalah mencari lokasi sinyal ELBA (sinyal pesawat menyentuh bumi) itu. Sebenarnya sinyal
itu sudah tertangkap tiga hari lalu. Tapi baru kami terima laporannya," kata Danlanud
Hasanuddin Marsekal Pertama Eddy Suyanto.
Berubah Arah
Terlepas dari kebenaran informasi itu, Menteri Perhubungan (Menhub) Hatta Radjasa
mengungkapkan pesawat dengan pilot Kapten A Widodo itu diduga kuat telah berbalik arah
karena terdorong angin kencang.
"Berdasarkan rekaman percakapan terakhir pilot dengan ATC Makassar, mereka
mengalami cross wind (tertiup angin dari arah samping) sebesar 74-76 knots atau
lebih dari 100 km/jam dan minta agar dipandu ke titik baru yang aman," ungkap Hatta
di Kantor Presiden, Jakarta.
Hal tersebut disampaikannya seusai mengikuti rapat khusus membicarakan musibah Adam
Air. Rapat yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dihadiri tiga pakar
penerbangan, yaitu Cheppy Hakim, Dudi Sudibyo, dan Sri Bekti.
Hatta menduga, karena kerasnya dorongan angin itu, pesawat berubah arah. Pasalnya, saat
pilot menyampaikan adanya cross wind, di radar telihat pesawat mengarah ke barat.
Tapi ketika pembicaraan putus, arah pesawat (heading) berbalik ke timur. "Saat
itulah pesawat mulai menghilang dari radar," papar Hatta.
Ditambahkan Cheppy Hakim, sebenarnya cross wind merupakan fenomena biasa dalam
penerbangan. Tapi bisa menjadi luar biasa bila kekuatannya sampai 74 knots. Dia menilai
permintaan pilot agar dipandu ke titik yang lebih aman dinilai sudah benar. Sebab demi
keselamatan memang seharusnya jalur rawan tersebut dihindari dengan berganti arah terbang.
Bisa mengambil jalur di atas atau bawahnya.
Santunan
Musibah ini juga memancing Ketua DPR Agung Laksono angkat bicara. Dalam kapasitas
sebagai pendiri, Agung menyatakan maskapai tetap memperhatikan keluarga korban. Dia pun
menegaskan tidak akan menghindar dari tanggung jawab terkait dengan musibah itu.
"Sejak saya jadi Ketua DPR, saya tidak lagi jadi komisaris, sebagai pendiri. Kita
sudah komitmen memberikan santunan kepada keluarga korban. Saya pun tidak akan menghindar.
Namun, yang terpenting saat ini adalah upaya pencarian pesawat yang belum ditemukan. Kita
berdoa saja karena kita tidak tahu nasib 102 orang di sana," ujarnya.
Untuk mengantisipasi terulangnya kembali kecelakaan penerbangan, Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono meminta pengawasan pelaksanaan keamanan penerbangan diperketat, baik
dari sisi regulator maupun dari sisi operator. "Hanya butuh pengawasan. Karena dari
sisi regulasi kita sudah memadai sesuai standar aturan penerbangan sipil," tegasnya. dtc/mio/JBP/ewa