Jakarta, BPost
Perdana Menteri Inggris Tony Blair dibuat tak berkutik di depan lima tokoh
Islam Indonesia. PM Blair bahkan hanya bisa tertunduk ketika KH Abdullah Gymnastiar alias
Aa Gym memberikan wejangan dan pandangannya tentang kebijakan negara barat yang kerap
memandang negatif terhadap Islam.
 |
| DENGAN ULAMA - Perdana Menteri Inggris Tony Blair bersalaman dengan KH
Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, Kamis (30/3), sebelum berdialog dengan sejumlah tokoh
agama setelah mengunjungi Pesantren Darunnajah, Jakarta. Blair, yang melakukan kunjungan
kerja selama sehari di Indonesia, sebelumnya melakukan pembicaraan dengan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono. Foto: AP/Achmad Ibrahim |
"Pemimpin dunia yang dapat menjadikan dunia ini lebih baik adalah pemimpin yang
punya hati nurani, yang melihat bangsa-bangsa di manapun sebagai saudaranya sendiri.
Pemimpin dunia harus punya rasa adil dan tidak sampai menggunakan double standar,"
kritik Aa Gym kepada PM Blair, di kantor Kepresidenan, Kamis (30/3).
Menurut Aa Gym ditemui usai pertemuan, PM Blair hanya tertunduk saat diberikan
wejangan. "Tadi Pak Blair hanya nunduk, mudah-mudahan kalau dilihat dari kata-kata
yang disampaikan dia, pesan-pesan itu akan sampai di hati Blair. Allah yang
membolak-balikin hatinya nanti," tutur pemimpin Ponpes Darut Tauhid, itu.
Kata Aa Gym, PM Blair memang tidak melulu tertunduk ketika diberikan wejangan,
"Dia juga banyak memberikan sanggahan dan tanggapan," imbuhnya.
Diakui Aa Gym bahwa memang terjadi banyak perbedaan pemahaman. Untuk itu, dialog
seperti itu terus menerus dilakukan sehingga dimengerti perasaan dan pemikiran umat Islam.
Selain Aa Gym, empat tokoh Islam lainnya ikut menyampaikan pesan dan pandangannya
terhadap kebijakan Inggris dalam politik global. Keempat tokoh itu adalah Rektor UIN
Syarif Hidatullah Prof Dr Azyumardi Azra, Ketua PP Muhammadiyah Dr Din Syamsuddin,
Nazaruddin Umar dan mantan Menteri Agama Quraish Shihab.
Kelima tokoh Islam ini diundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono khusus untuk
berdialog langsung dengan PM Blair yang tiba, Rabu (29/3) malam. Pertemuan yang juga
dihadiri sejumlah anggota Kabinet Indonesia Bersatu, itu berlangsung singkat sekitar 45
menit. Namun baik PM Blair maupun lima tokoh Islam mengaku puas dengan hasil dialog
tersebut.
PM Tony Blair menyampaikan terima kasih kepada para tokoh dan petinggi agama yang
bersedia meluangkan waktu berdialog dengannya.
"Mereka semua sosok moderat namun tetap kritis. Bagi saya ini merupakan pertanda
baik yang saya dapatkan dari politik yang saya terapkan selama ini. Sekali lagi saya
mengucapkan terima kasih banyak dan ini akan menjadi inspirasi yang saya dapatkan di sini
dari pertemuan itu," kata PM Blair.
Menurut dia, pertemuan itu merupakan era baru membangun hubungan antara Inggris dan
Indonesia dan diharapkan menjadi awal untuk membuka peluang dan kerja sama yang
berkelanjutan dan menguntungkan antara dua negara.
Aa Gym sendiri berharap dari pertemuan singkat itu PM Tony Blair mendapat informasi
baru tentang Islam di Indonesia dan dunia.
"Tugas saya hanya menyempurnakan ikhtiar, bedanya waktu Bush datang kan
perang baru mulai, jadi masih semangat-semangatnya. Sekarang kan sudah terkena
getahnya, tidak enaknya. Mudah-mudahan input itu dapat memberikan pemahaman yang
lebih baik dan bisa menjadi solusi terbaik di depannya," ucap Aa Gym disinggung hasil
dialog tersebut.
Hanya memang, Aa Gym menegaskan kepada PM Blair bahwa Islam masuk ke Indonesia tanpa
kekerasan, tanpa darah, dan ternyata Indonesia bisa menjadi mayoritas terbesar di dunia
umat Islam. "Justru dari Eropa lah yang membawa senjata dan sebagainya. Indonesia
menjadi negara Islam terbesar tanpa kekerasan," tuturnya.
Ketua PP Muhammadiyah, Dien Syamsuddin ditemui usai pertemuan, mengatakan dalam
pertemuan semua pihak sepakat bahwa terorisme adalah musuh bersama sebagai kejahatan
kemanusian dan peradaban. Namun menurut dia, dia dan empat rekannya mengusulkan pada PM
Tony Blair agar cara memberantas dan memerangi terorisme jangan mengambil bentuk teror itu
sendiri.
"Kami mengkritik pendekatan Inggris mendukung AS dalam memerangi terorisme yangg
mengambil pendekatan unilateral secara sepihak dan mengabaikan peran dari lembaga
multilateral seperti PBB," kata Dien.
Terkait Irak, sebut dia, PM Blair tidak menanggapi permintaan penarikan pasukan Inggris
dari Irak. "Saya berharap mudah-mudahan itu bisa dibawa di dalam mimpinya. Sehingga
nanti malam akan saat bangun dari mimpi, dia akan sadar bahwa saran itu sangat baik,"
tutur Dien.
PM Blair, katanya, sempat terkesima dengan pandangan bahwa barat mengembangkan
stereotip terhadap Islam, bahwa Islam itu agama kekerasan, agama terorisme, dan bahwa
Islam ancaman bagi barat. "Itu dugaan dan tuduhan kita."
Ternyata, PM Blair sendiri menilai adanya kesalahpahaman Islam terhadap barat. Hal-hal
semacam inilah yg saya kira menarik dan penting dibicarakan lagi lebih lanjut dalam forum
dialog.
Melunak
Sementara Azyumardi Azra pada kesempatan itu meminta Inggris pasukannya dari Irak
dan pasukan sekutu lainnya dan menggantinya dengan pasukan pemelihara keamanan dari PBB
dan negara-negara konferensi Islam.
"PM Blair bilang setuju jika memang PBB dan organisasi konferensi Islam segera
mengkonsolidasikan kekuatan untuk bisa menggantikan peran AS dan sekutunya di Irak,"
jelasnya.
Menurut Rektor UIN Syarif Hidatullah ini, PM Blair cukup terbuka, dan mendengarkan
kritik-kritik yang disampaikan terkait kebijakan-kebijkannya yang selama ini kurang
kondusif menciptakan situasi yang lebih baik dan dunia yang lebih adil.
Terkait Palestina dan Israel, Blair mendukung two state solution. Namun, kalau
sekarang Inggris dan AS menolak Hamas dan tidak mau berunding dengan Hamas, maka itu
mencerminkan sikap standar ganda. "Saya kritik itu dan menilai Inggris tidak
konsisten dengan demokrasi."
Terpenting, Azyumardi melihat kunjungan Blair menunjukkan Indonesia tetap merupakan
negara penting bagi kekuatan besar seperti Inggris. "Itu artinya Indonesia
diperlukan. Tidak hanya pada tingkat pemerintah, tapi juga masyarakatnya." JBP/ade/zil