SAAT berkunjung ke Ponpes Darunnajah, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, PM Inggris
Tony Blair ditodong sejumlah pertanyaan berat dan membuatnya kaget. Pertanyaan para santri
meliputi invasi Amerika Serikat dan Inggris ke Irak, kebebasan beragama, masalah Palestina
dengan Israel serta perasaan Blair jika dirinya adalah warga Irak.
Soal invasi ke Irak, Blair menegaskan itu diperlukan agar negeri tersebut menjadi
demokratis dengan tersingkirnya Saddam Hussein. "Kita perlu menyingkirkan Saddam.
Kini di Irak dan Afganistan, rakyatnya mendapat hak yang sama seperti di Inggris dan
Indonesia memilih pemimpin mereka," ujar Blair.
Tentang kebebasan beragama, Blair menilai itu merupakan hak asasi setiap orang dan dia
melihat hal tersebut telah tercapai di Indonesia. "Saya juga belajar mengenai
agama-agama lain. Pada dasarnya agama mengajarkan cinta dan perdamaian. Kita harus
menghormati negara lain dan memahami," jelasnya.
Santri mengajukan pertanyaan kalau Blair orang Irak, apa yang dirasakan. Atas
pertanyaan ini, Blair mengeluarkan senyuman. "Apa yang saya rasakan pasti berbeda
dengan anda. Tapi bukan anda atau saya yang menentukan, tapi mereka sendiri yang
merasakan. Untuk itu pemahaman itu perlu. Itu kenapa saya berada di sini untuk
berdialog," urai Blair.
Investasi
Inggris ternyata menduduki urutan kedua sebagai investor setelah Singapura. Pada 2005,
realisasinya 1,5 miliar dolar AS. Sedang volume perdagangan menoreh nilai 1,4 miliar dolar
AS.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika menerima kunjungan PM Inggris Tony Blair di
kantor Kepresidenan, Kamis (30/3), berharap terjadi peningkatan kerja sama di bidang
ekonomi, investasi dan perdagangan antar kedua negara.
"Kita berharap investasi dan perdagangan bisa ditingkatkan lebih besar lagi di
waktu mendatang. Kedatangan pebisnis dari Inggris diharapkan lebih meningkatkan investasi
dan perdagangan diantara ke dua negara," kata Yudhoyono di sela-sela jumpa pers.
Meski Inggris merupakan investor kedua terbesar di Indonesia, sebut presiden, tapi jika
melirik sepak terjang di negara tetangga China dan Vietnam, investasi Inggris di Indonesia
jauh ketinggalan. Karenanya Yudhoyono mencibir, dunia investasi ternyata tidaklah selalu
terkait dengan gembar-gembor demokrasi ala dunia barat.
PM Blair mengatakan, soal bisnis, investasi dan perdagangan antarkedua negara akan
terus meningkat. Kata Blair, reformasi dan perubahan yang terjadi di Indonesia telah
memberikan peluang bisnis dan potensi untuk menjadikan kerja sama lebih dekat di masa
mendatang antara kedua negara.
"Saya tahu, saat ini semakin banyak perusahaan Inggris percaya bahwa Indonesia
merupakan tempat yang aman berinvestasi, dan kami ingin bekerja sama sejauh yang bisa kami
capai bersama," jelas Blair.JBP/ade/zil/h10