LIMA hari pascaoperasi rekonstruksi wajah total atau face off, kondisi
Siti Nur Jazilah alias Lisa (22) kian stabil. Tim dokter RSUD Dr Soetomo Surabaya, Jawa
Timur, yang memantau kondisi Liza, Kamis (30/3), menerangkan Lisa sudah mulai sadar dan
dapat mengikuti perintah dokter yang merawatnya seperti menggerakkan tangan.
"Itu Masa
Lalu Dia"
BAGAIMANA ceritanya Lisa yang lahir di
Malang 13 Januari 1984 itu sampai harus menjalani operasi face off? Selama ini publik
hanya tahu wajah dia rusak karena disiram air keras oleh temannya, tiga tahun lalu.
Post mencoba menelusurinya dengan mendatangi
rumah Lisa yang katanya telah menikah dengan Mulyono di Jalan Bangunrejo IV Surabaya
(sesuai alamat di surat perjanjian praoperasi). Setelah bertanya ke sana ke mari, BPost
berhasil menemukan rumah sederhana itu. Namun hanya ditemui kakak kandung Mulyono,
Rosidah. Lucunya, saat ditanya kapan Mulyono dan Lisa menikah, Rosidah mengaku tidak tahu.
"Kami mulai mengenalnya sejak empat tahun
lalu. Tapi Mulyono dan Lisa tidak tinggal di sini. Jadi kami tahu hanya saat mereka
berkunjung ke sini," ujarnya.
Hal menarik yang diungkapkan Rosidah adalah kondisi
Lisa sebelum insiden tiga tahun lalu itu. Saat itu, menurutnya, Lisa berwajah cantik dan
kecantikan itu semakin menonjol karena kulitnya putih bersih. "Boleh dibilang Lisa
itu pendiam dan sopan. Kami tidak tahu kejadiannya kok tiba-tiba tiga tahun lalu ia datang
lagi dengan wajah yang sudah seperti itu," tambah Rosidah.
Rupanya keluarga itu ingin menutup rapat-rapat
tragedi yang menimpa Lisa, karena Rosidah juga enggan menceritakan yang sesungguhnya
terjadi. "Ceritanya panjang. Kami tidak ingin mengingatnya. Biar itu menjadi masa
lalu. Dilupakan saja," kilahnya.
Ia hanya tahu selama ini pasangan itu tinggal di
Malang dan Mulyono kerja serabutan. Terakhir, mereka datang ke Surabaya untuk mengobati
hidung Siti yang buntu gara-gara insiden penyerangan dengan air keras itu. "Karena
tiap kali pilek, ia selalu merasa tersiksa. Tidak bisa buang ingus. Tapi kok kemudian ada
yang nawari untuk operasi wajah, jadi kami dukung saja," ungkapnya. SRY |
Kendati demikian, Ketua Tim Operasi, Sjaifuddin Noer mengatakan Lisa masih harus
melewati masa-masa kritis empat hari lagi sebelum bisa melihat hasil operasi pada wajahnya
itu.
Dia juga mengatakan hingga saat ini tim dokter masih memberi suntikan morfin sebanyak
satu milimeter setiap jam untuk mengurangi rasa sakit. Namun, tim dokter sudah dapat
bernapas lega karena sudah ada pendarahan di sekitar wajah yang menunjukkan peredaran
darah di bekas operasi sudah bekerja dengan baik
Di sisi lain, suasana haru dirasakan Samsuri dan Wakinah. Mereka adalah kakek dan nenek
Lisa yang baru mengetahui bahwa cucunya baru saja menjalani operasi pengangkatan wajah.
Menurut Samsuri, sejak tiga tahun lalu dirinya bersama istrinya tidak pernah berhubungan
dan mengetahui keberadaan Lisa setelah pergi tanpa pamit dari rumahnya di Desa Jeru,
Turen, Malang, Jatim. Padahal, Lisa adalah salah satu cucu yang mereka rawat sejak berusia
tiga tahun hingga dewasa.
"Saya baru mengetahui soal operasi Lisa dari berita televisi dan surat kabar. Dan,
Saya yakin itu cucu saya," ungkap Samsuri. Kakek dan nenek pasien face off ini
memiliki keinginan kuat untuk menemui cucunya yang kini masih terbaring di ruang isolasi
di RSUD Soetomo.
Kemarin, tim operasi berhasil melepaskan kulit wajah Lisa. Sebelumnya, kulit wajah Lisa
ditempelkan sementara untuk menunggu proses pembenahan kulit punggung. Pelepasan kulit
wajah berlangsung relatif cepat agar kulit punggung yang sudah diambil tidak terlalu lama
terpisah dari tubuh pasien.
Pemasangan kulit wajah diperkirakan membutuhkan waktu sekitar enam jam.
Sebelumnya, tim dokter telah berhasil menutup kulit punggung dengan kulit paha. Proses
itu memakan waktu sekitar 45 menit atau lebih cepat dari perkiraan semula yaitu satu jam.
Setelah menutup kulit punggung, tim dokter kemudian menutupnya dengan bantalan kasa dan
menjahitnya atau disebut tie over. Hal itu dilakukan untuk menekan kulit punggung
agar tidak berubah dari posisinya karena masih baru ditempelkan kulit. Menurut dokter,
bantalan kasa akan digunakan selama lima hari oleh sang pasien. Sejauh ini, operasi sudah
berjalan hampir 50 persen.
Operasi face off tergolong operasi yang rumit. Setelah pasien dibius total,
proses pertama operasi adalah pemasangan CVT dan arteri lion induksi untuk bantuan
pernafasan di tenggorokan. Setelah itu, bagian kulit wajah yang akan dilepas dibersihkan
dengan cairan disinfektan.
Operasi berikutnya adalah pelepasan kulit yang rusak dari wajah pasien, namun jaringan
otot dan saraf tetap ada di wajah sementara pembuluh darah dijepit sebelum operasi. Dalam
tahap ini, juga serempak dilakukan pelepasan kulit punggung dan paha. Kulit punggung
dipotong sesuai bentuk wajah. Kulit yang dilepas termasuk pembuluh darah.
Sementara, kulit punggung ditutup kulit paha dengan metode skin grafting. Teknik
ini menutup luka dengan kulit tanpa menyambung pembuluh darah. Proses ini diperkirakan
memakan waktu tiga hingga empat jam. Tahap selanjutnya, kulit punggung setebal tiga hingga
lima milimeter dijahit ke wajah.
Tahap ini merupakan tahap yang paling rumit karena harus menyambung pembuluh darah.
Jaringan pembuluh darah kulit punggung akan disambung dengan pembuluh darah wajah.
Penyambungan pembuluh darah dilakukan di bawah mikroskop karena sangat kecil
bagian-bagiannya.
Proses penyambungan dilakukan dengan metode warm ischemic di mana pembuluh darah
disambung tanpa melalui proses pendinginan. Karena itu, tim dokter harus segera melakukan
penyambungan karena pembuluh darah hanya tahan enam hingga 12 jam.
Setelah operasi, wajah akan tampak tembem akibat tebalnya kulit punggung. Tim dokter
juga harus terus memantau keadaan pasien karena kulit wajah setelah operasi tidak boleh
terpelintir.
Sepekan kemudian, dokter baru memulai tahap pemulihan, termasuk menyedot lemak dari
kulit punggung yang ditransplantasi ke wajah. Proses itu dilakukan bertahap hingga enam
bulan. lp6/dws/SRY