:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Jumat, 31 Maret 2006 02:41:14


Tiap Jam Disuntik Morfin

LIMA hari pascaoperasi rekonstruksi wajah total atau face off, kondisi Siti Nur Jazilah alias Lisa (22) kian stabil. Tim dokter RSUD Dr Soetomo Surabaya, Jawa Timur, yang memantau kondisi Liza, Kamis (30/3), menerangkan Lisa sudah mulai sadar dan dapat mengikuti perintah dokter yang merawatnya seperti menggerakkan tangan.

"Itu Masa Lalu Dia"

BAGAIMANA ceritanya Lisa yang lahir di Malang 13 Januari 1984 itu sampai harus menjalani operasi face off? Selama ini publik hanya tahu wajah dia rusak karena disiram air keras oleh temannya, tiga tahun lalu.

Post mencoba menelusurinya dengan mendatangi rumah Lisa yang katanya telah menikah dengan Mulyono di Jalan Bangunrejo IV Surabaya (sesuai alamat di surat perjanjian praoperasi). Setelah bertanya ke sana ke mari, BPost berhasil menemukan rumah sederhana itu. Namun hanya ditemui kakak kandung Mulyono, Rosidah. Lucunya, saat ditanya kapan Mulyono dan Lisa menikah, Rosidah mengaku tidak tahu.

"Kami mulai mengenalnya sejak empat tahun lalu. Tapi Mulyono dan Lisa tidak tinggal di sini. Jadi kami tahu hanya saat mereka berkunjung ke sini," ujarnya.

Hal menarik yang diungkapkan Rosidah adalah kondisi Lisa sebelum insiden tiga tahun lalu itu. Saat itu, menurutnya, Lisa berwajah cantik dan kecantikan itu semakin menonjol karena kulitnya putih bersih. "Boleh dibilang Lisa itu pendiam dan sopan. Kami tidak tahu kejadiannya kok tiba-tiba tiga tahun lalu ia datang lagi dengan wajah yang sudah seperti itu," tambah Rosidah.

Rupanya keluarga itu ingin menutup rapat-rapat tragedi yang menimpa Lisa, karena Rosidah juga enggan menceritakan yang sesungguhnya terjadi. "Ceritanya panjang. Kami tidak ingin mengingatnya. Biar itu menjadi masa lalu. Dilupakan saja," kilahnya.

Ia hanya tahu selama ini pasangan itu tinggal di Malang dan Mulyono kerja serabutan. Terakhir, mereka datang ke Surabaya untuk mengobati hidung Siti yang buntu gara-gara insiden penyerangan dengan air keras itu. "Karena tiap kali pilek, ia selalu merasa tersiksa. Tidak bisa buang ingus. Tapi kok kemudian ada yang nawari untuk operasi wajah, jadi kami dukung saja," ungkapnya. SRY

Kendati demikian, Ketua Tim Operasi, Sjaifuddin Noer mengatakan Lisa masih harus melewati masa-masa kritis empat hari lagi sebelum bisa melihat hasil operasi pada wajahnya itu.

Dia juga mengatakan hingga saat ini tim dokter masih memberi suntikan morfin sebanyak satu milimeter setiap jam untuk mengurangi rasa sakit. Namun, tim dokter sudah dapat bernapas lega karena sudah ada pendarahan di sekitar wajah yang menunjukkan peredaran darah di bekas operasi sudah bekerja dengan baik

Di sisi lain, suasana haru dirasakan Samsuri dan Wakinah. Mereka adalah kakek dan nenek Lisa yang baru mengetahui bahwa cucunya baru saja menjalani operasi pengangkatan wajah. Menurut Samsuri, sejak tiga tahun lalu dirinya bersama istrinya tidak pernah berhubungan dan mengetahui keberadaan Lisa setelah pergi tanpa pamit dari rumahnya di Desa Jeru, Turen, Malang, Jatim. Padahal, Lisa adalah salah satu cucu yang mereka rawat sejak berusia tiga tahun hingga dewasa.

"Saya baru mengetahui soal operasi Lisa dari berita televisi dan surat kabar. Dan, Saya yakin itu cucu saya," ungkap Samsuri. Kakek dan nenek pasien face off ini memiliki keinginan kuat untuk menemui cucunya yang kini masih terbaring di ruang isolasi di RSUD Soetomo.

Kemarin, tim operasi berhasil melepaskan kulit wajah Lisa. Sebelumnya, kulit wajah Lisa ditempelkan sementara untuk menunggu proses pembenahan kulit punggung. Pelepasan kulit wajah berlangsung relatif cepat agar kulit punggung yang sudah diambil tidak terlalu lama terpisah dari tubuh pasien.

Pemasangan kulit wajah diperkirakan membutuhkan waktu sekitar enam jam.

Sebelumnya, tim dokter telah berhasil menutup kulit punggung dengan kulit paha. Proses itu memakan waktu sekitar 45 menit atau lebih cepat dari perkiraan semula yaitu satu jam.

Setelah menutup kulit punggung, tim dokter kemudian menutupnya dengan bantalan kasa dan menjahitnya atau disebut tie over. Hal itu dilakukan untuk menekan kulit punggung agar tidak berubah dari posisinya karena masih baru ditempelkan kulit. Menurut dokter, bantalan kasa akan digunakan selama lima hari oleh sang pasien. Sejauh ini, operasi sudah berjalan hampir 50 persen.

Operasi face off tergolong operasi yang rumit. Setelah pasien dibius total, proses pertama operasi adalah pemasangan CVT dan arteri lion induksi untuk bantuan pernafasan di tenggorokan. Setelah itu, bagian kulit wajah yang akan dilepas dibersihkan dengan cairan disinfektan.

Operasi berikutnya adalah pelepasan kulit yang rusak dari wajah pasien, namun jaringan otot dan saraf tetap ada di wajah sementara pembuluh darah dijepit sebelum operasi. Dalam tahap ini, juga serempak dilakukan pelepasan kulit punggung dan paha. Kulit punggung dipotong sesuai bentuk wajah. Kulit yang dilepas termasuk pembuluh darah.

Sementara, kulit punggung ditutup kulit paha dengan metode skin grafting. Teknik ini menutup luka dengan kulit tanpa menyambung pembuluh darah. Proses ini diperkirakan memakan waktu tiga hingga empat jam. Tahap selanjutnya, kulit punggung setebal tiga hingga lima milimeter dijahit ke wajah.

Tahap ini merupakan tahap yang paling rumit karena harus menyambung pembuluh darah. Jaringan pembuluh darah kulit punggung akan disambung dengan pembuluh darah wajah. Penyambungan pembuluh darah dilakukan di bawah mikroskop karena sangat kecil bagian-bagiannya.

Proses penyambungan dilakukan dengan metode warm ischemic di mana pembuluh darah disambung tanpa melalui proses pendinginan. Karena itu, tim dokter harus segera melakukan penyambungan karena pembuluh darah hanya tahan enam hingga 12 jam.

Setelah operasi, wajah akan tampak tembem akibat tebalnya kulit punggung. Tim dokter juga harus terus memantau keadaan pasien karena kulit wajah setelah operasi tidak boleh terpelintir.

Sepekan kemudian, dokter baru memulai tahap pemulihan, termasuk menyedot lemak dari kulit punggung yang ditransplantasi ke wajah. Proses itu dilakukan bertahap hingga enam bulan. lp6/dws/SRY


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Aa Gym ‘Tundukkan’ Blair

Pertanyaan Berat Santri


Tiap Jam Disuntik Morfin


Tiga Nama Dianulir


Digoyang Skandal Seks


Partai Balas Dendam


Kisah Honorer Yang Dianulir Kelulusannya Sempat Banjir Ucapan Selamat, Namun....


Lima Perusahaan Kayu Kolaps


Nasib Eks Karyawan Barito Pacific
Mudik Bareng Naik Kapal


Fikrah: Para Penghina Rasulullah SAW (2-Habis)


Noordin M Top Siapkan Serangan Juni


Giliran Deplu Dibobol Maling


Demo Nasional Buruh Dibahas


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123