Banjarmasin, BPost
Pengumuman hasil seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) jalur honorer di
lingkungan Pemerintah Kota Banjarmasin, Kamis (30/3), ternyata kacau. Pasalnya, terdapat
tiga nama yang awalnya dinyatakan lulus ujian, dianulir dengan alasan usia dan formasi
yang tersedia tidak cocok, serta masa kerja belum memenuhi syarat.
Selain itu, penempelan lembar pengumuman juga sangat lamban. Berdasar pantauan BPost
di Balaikota, sekitar pukul 09.00 Wita lembar pengumuman kelulusan tenaga honorer belum
juga ditempelkan oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) setempat. Di papan pengumuman justru
masih terpajang nama-nama yang lulus dari pelamar umum.
Padahal, seperti yang telah dijanjikan, lembar pengumuman tersebut ditempel di tiga
tempat yakni, Balaikota, Balai Diklat dan Kantor Diknas dan bisa dilihat mulai pukul 08.00
Wita. Hal ini membuat tenaga honorer yang sudah menanti sejak pagi menjadi harap-harap
cemas. Mereka terpaksa harus bolak-balik di tiga tempat tersebut, namun tetap saja
hasilnya nihil.
Mereka pun akhirnya mencari namanya di salah satu media. "Di koran pengumumannya
ada, tetapi kok tidak ditempelkan di papan pengumuman. Ini benar atau tidak ya,
kalau benar kok tidak ditempelkan?" keluh seorang tenaga honorer.
Lembar pengumuman kelulusan tenaga honorer Pemko tersebut, baru dipasang sekitar pukul
14.00 Wita. Dari pengumuman itu, ternyata ada yang telah diralat. Tiga nama tenaga honorer
yang sebelumnya dinyatakan lulus dicoret, digantikan tiga nama baru.
Saat dikonfirmasi, Pelaksana tugas (Plt) Kepala BKD Kota Banjarmasin, M Nispuani
mengatakan, pihaknya tidak menempelkan lembar pengumuman tersebut karena data nama-nama
tenaga honorer yang lulus (seperti juga yang telah dirilis salah satu media) akan
diperbaiki atau diralat terlebih dulu.
"Nama-nama tenaga honorer yang telah diumumkan lulus itu tidak salah, tetapi
memang perlu perbaikan sedikit atau ralat. Kami sadari pagi tadi menemukan kesalahan. Di
mana tenaga honorer yang dinyatakan lulus seharusnya tidak lulus," ungkapnya.
Kata Nispuani, pihaknya terpaksa mencoret tiga nama yang telah dinyatakan lulus itu.
Mantan pejabat Propinsi Kalsel itu meminta pengertian dari yang bersangkutan, dan
menjanjikan akan mendapat prioritas pada pengangkatan selanjutnya. "Asalkan tidak
bertentangan dengan PP No 48/2005, mereka juga kan pasti diangkat sampai 2009
nanti, jadi tidak perlu kuatir," sambungnya. Ketiga nama yang dianulir, yakni Nuur
Jannah Hayati dengan formasi jabatan guru kimia SMA. Pertimbangannya, karena usia dan
formasi yang tersedia. Nuur Jannah (32) digantikan Rusdiyansyah (36) dengan formasi
jabatan yang sama. Kemudian dua orang tenaga honorer di Satpol PP, Hamsan (37) dan
Sulaiman (37). Keduanya digantikan oleh Syarifudin (31) dan Machmud Riaz (31). Alasan
pencoretan dengan pertimbangan masa kerja belum memenuhi syarat.
Ancam Demo
Di Kota Banjarbaru, sejumlah honorer usia kritis, untuk ukuran menjadi PNS
(menjelang 45 tahun), yang tidak lulus dalam penerimaan CPNS, kemarin mengancam melakukan
demo besar-besaran ke BKD pada Senin, 3 April mendatang.
Mereka menganggap, kriteria para tenaga honorer yang diterima menjadi PNS, sama sekali
tak jelas. Karenanya, banyak tenaga honorer yang memasuki masa kritis dan telah lama
mengabdi, dinyatakan tak lulus.
Beberapa honorer yang datang ke Redaksi BPost Biro Banjarbaru, mengaku sedih dan
kecewa, sekaligus terpukul. Pasalnya, di samping sudah memasuki usia kritis, mereka juga
mengaku sudah mengabdi bertahun-tahun sebagai tenaga honorer.
"Saya sudah sangat yakin akan lulus. Di samping usia sudah kritis, yakni 42 tahun
dan masa pengabdian juga sudah lebih dari 21 tahun sebagai guru bantu di satu SDN di
Banjarmasin," ujar seorang honorer dengan mimik kecewa. Tapi, lanjutnya, ternyata
namanya tak tercantum di daftar tenaga honorer yang lulus.
Dari daftar yang lulus itu, dia menemukan sejumlah keganjilan-keganjilan. "Banyak
yang lulus usianya jauh lebih muda dari saya. Selain itu, ada yang baru setahun atau dua
tahun mengabdi sebagai guru bantu, tapi bisa lulus," cetusnya, seraya mewanti-wanti
namanya tidak dikorankan.
Menanggapi ancaman demo sejumlah honorer usia kritis yang gagal lolos dalam penerimaan
CPNS, Kepala BKD Kalsel Drs HM Thamrin MSi, menyatakan siap melayaninya.
Thamrin mengatakan, BKD siap memperlihatkan kepada mereka data-data hasil pengolahan
LJK seluruhnya.
Menanggapi pertanyaan para honorer yang merasa usia mereka kritis namun ternyata tak
lulus, Thamrin mengatakan ini akibat formasi jabatan dan pendidikan yang dialokasikan
Menneg PAN tak sesuai dengan database honorer di Kalsel.
Thamrin membantah anggapan para honorer bahwa usia 42 tahun termasuk usia kritis.
"Yang kami maksud usia kritis adalah usia 45 tahun, karena bila tidak diangkat tahun
ini, mereka tidak akan bisa diangkat menjadi pegawai pada penerimaan berikutnya,"
ujarnya. c2/adi/ary