Banjarmasin, BPost
Ambruknya kerajaan perkayuan di Kalimantan Selatan karena persoalan bahan baku
menyebabkan 5.000 lebih buruh kehilangan pekerjaan. Sementara itu sepanjang 2005 hingga
2006 tercatat lima perusahaan di sektor ini dinyatakan kolaps. Sisanya bertahan karena
melakukan efisiensi dan rasionalisasi.
Lima perusahaan yang kolaps tersebut tiga di antaranya di Kabupaten Barito Kuala, yakni
PT Katan Prima Permai, PT Gucci dan PT Ratu Miri. Dua lainnya adalah PT Menara Hutan Buana
di Banjarbaru dan PT Kodeco Plywood di Kotabaru. Kolapsnya lima perusahaan tersebut
menyebabkan 2.299 orang kehilangan pekerjaan.
Berdasarkan data jumlah industri pengolahan kayu lapis di Kalsel dari Dinas Tenaga
Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalsel, saat ini tercatat ada 32 perusahaan kayu
atau perusahaan pendukungnya dari semula 37 perusahaan.
Jumlah tenaga kerja dari perusahaan yang masih aktif tersebut diperkirakan mencapai
27.763 orang. Terbanyak dari Kabupaten Batola sebanyak 18 perusahaan dengan total tenaga
kerja mencapai 16.713 orang, menyusul Kota Banjarmasin 10 perusahaan dengan 10.170 tenaga
kerja, Tanah Laut 2 perusahaan dengan 358 tenaga kerja dan Tabalong 2 perusahaan dengan
522 tenaga kerja.
Namun sejumlah perusahaan yang masih aktif itu pun kini melakukan efisiensi seperti
meliburkan atau merumahkan karyawannya. Bahkan adapula yang mulai melakukan rasionalisasi
dengan memutuskan hubungan kerja (PHK) terhadap seluruh atau sebagian karyawannya.
Hal itu seperti terjadi pada perusahaan kayu PT Daya Sakti Unggul yang merumahkan
karyawannya sejak 22 Maret lalu. Rencananya karyawan dirumahkan sampai 17 April 2006.
PT Barito Pacific Timber, yang memiliki areal di sejumlah daerah di kawasan timur
Indonesia, juga akan memberhentikan sekitar 1.800 karyawan tetapnya. Proses PHK dengan
tawaran pensiun dini dilakukan per 31 Maret 2006.
Kasubdin Hubin dan Syaker Disnakertrans Kalsel Antonius Simbolon mengatakan pailitnya
sejumlah perusahaan perkayuan tidak hanya karena bahan baku. Buruknya manajemen juga
membuat beberapa perusahaan tak siap menghadapi perkembangan ekonomi yang cukup labil saat
ini.
Kendati demikian ia mengatakan rasionalisasi yang ditempuh para pengusaha perkayuan
sudah cukup baik karena tidak melakukan PHK secara serentak, melainkan bertahap.
"Kalau kondisi terakhir sih mungkin masih sama saja. Tapi memang sudah ada
beberapa dari perusahaan-perusahaan yang telah meliburkan karyawannya itu mulai
mempekerjakan karyawannya lagi, seperti PT Hendratna. Soalnya kayu yang semula di tahan
polisi sudah diserahkan karena selesai dihitung," ungkapnya, Rabu lalu.
Dijelaskan Anton, saat ini pihaknya merumuskan solusi menangani membludaknya jumlah
pengangguran termasuk malalui padat karya dan pelatihan. Dana, yang akan diajukan dalam
anggaran belanja tahunan (ABT) sedang dihitung. Apalagi itu telah mendapat lampu hijau
dari Gubernur Rudy Arifin.
Berdasarkan pemantauan BPost di sekitar kawasan industri di pinggiran Sungai
Barito kemarin memang hanya PT Hendratna dan PT Surya Satria yang sibuk beroperasi, meski
waktu telah menunjukkan pukul 18.00 Wita. Hal itu tampak dari cerobong perusahaan setempat
yang tetap berasap.
Sedangkan sejumlah perusahaan lainnya seperti PT Barito Pacifik, PT Daya Sakti, PT
Tanjung Raya Plywood yang juga terletak di kawasan sekitar tidak lagi terlihat aktivitas
bekerja. Padahal sejumlah tongkang dengan muatan kayu-kayu gelondongan masih terlihat di
depan area masing-masing perusahaan. nda