RATUSAN orang berjejal memenuhi ruang tunggu Pelabuhan Bandarmasih di Trisakti
Banjarmasin, Kamis (30/3). Cuaca yang cukup gerah meski langit mendung membuat beberapa di
antara para penumpang mengipas-ngipaskan tangan, koran atau benda apapun yang dipegangnya.
Di antara para penumpang itu tampak mendominasi penumpang keluarga. Namun yang menarik
perhatian adalah barang bawaan mereka yang cukup banyak dan terlihat berat.
 |
| PULANG KAMPUNG - Hampir 75 persen penumpang kapal laut tujuan Surabaya
dan Semarang yang berangkat dari Pelabuhan Bandarmasih, Banjarmasin, Kamis (30/3), adalah
mantan karyawan PT Barito Pacific. Mereka pulang kampung karena tidak punya tempat tinggal
lagi di Banjarmasin. Mess perusahaan, yang selama ini ditinggali, harus dikosongkan
sebelum Sabtu (1/4). Foto: BPost/Apunk |
Tak hanya itu. Di halaman parkir pelabuhan, berjejer sejumlah truk besar yang ditutupi
terpal. Ketika diperhatikan isinya sejumlah perabot rumah tangga seperti kasur dan almari.
Perabotan rumah tangga yang dimuat di fuso-fuso itu milik sejumlah penumpang, yang
merupakan mantan karyawan PT Barito Pacific Timber. Kemarin, puluhan eks karyawan
perusahaan kayu yang terletak di Desa Jelapat, Kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala,
itu mudik ke kampung halamannya di Pulau Jawa.
Selain memboyong seluruh anggota keluarga, mereka juga membawa serta perabot rumah
tangganya dengan menyewa truk secara patungan agar lebih murah. Maklum saja, sewa sebuah
truk di atas Rp5 juta, tergantung rute yang dituju. Satu truk biasanya disewa dua hingga
tiga keluarga.
Pasangan Wardi dan Noor merupakan salah satu pemudik yang kemarin menumpang KM Egon
tujuan Semarang yang bertolak sekitar pukul 19.00 Wita. Rencananya mantan karyawan salah
satu perusahaan kayu terbesar di Kalsel itu pulang ke Klaten, Jawa Tengah.
"Sebenarnya kami sudah lama ingin pulang sejak keadaan perusahaan mulai gonjang
ganjing. Rencananya mau memulangkan istri yang sudah hamil tua. Tapi belum persiapan malah
sudah keburu ada penawaran pengunduran diri, ya sudah sekalian saja," kata Wardi.
Selain ke Pulau Jawa, ada pula yang mudik ke pulau lainnya atau ke daerah seputar
Kalsel dan Kalteng. Khusus pemudik lokal ini pulang dengan memanfaatkan sarana
transportasi truk atau kelotok.
Seperti dilakukan keluarga Ipung dari Kapuas. Pria berkulit putih, yang masih keturunan
Suku Dayak, ini pulang ke kampung halamannya bersama istri dan dua anak mereka.
Saat ditemui BPost, Ipung menumpang kelotok terbuka memuat perabot rumah tangga
seperti kasur, almari, sepeda sampai drum penyimpan air. Sedangkan istrinya akan menyusul
Sabtu nanti, setelah menginap di tempat kerabatnya.
Penawaran pensiun dini kepada seluruh karyawan tetapnya membuat PT Barito Pacific mulai
ditinggalkan penghuninya. Praktis suasana di areal perusahaan sepi dan berantakan. Soalnya
sarana dan fasilitas yang ada tidak lagi terawat. Bilik-bilik mess juga tampak semrawut
karena ditinggal penghuninya.
Sedangkan yang tersisa cuma fasilitas umum seperti poliklinik dan kantin untuk supplai
makan karyawan yang masih bertugas. Kendati demikian jam kerja petugas di bagian tersebut
dibatasi menyesuaikan kondisi perusahaan.
Menurut Direktur PT Barito Pacific, Marzuki, para karyawan yang belum menerima pesangon
tinggal 70 orang. Rencananya Jumat ini perhitungan pesangon selesai.
"Kita sebenarnya target tanggal 29 selesai. Tapi ternyata uangnya datang kesorean
sehingga tertunda sampai besok (hari ini). Tapi setelah itu tidak ada lagi tanggungan
karena sudah selesai," katanya dihubungi via telepon, Kamis (30/3).
Lebih lanjut dikatakan dia, dalam rangka menjaga kondisi di perusahaan agar tetap aman
dan stabil saat ini perusahaan masih dijaga sejumlah personil keamanan yang statusnya
kontrak. Mereka dibantu sejumlah aparat dari kepolisian dan ditpolair.
"Mereka akan menjaga aset perusahaan selama transisi. Soalnya saat ini belum bisa
diputuskan apakah langsung beroperasi lagi atau tidak. Untuk itu perlu waktu 1 sampai 2
bulan," imbuhnya.
Sementara itu, aktivitas mudik para mantan karyawan berdampak pada naiknya jumlah
penumpang armada angkutan laut seperti KM Egon. "Hari ini lumayan lebih banyak dari
kemarin mencapai 214 penumpang. Sedangkan untuk truk besar tercatat 15 unit, dimana 8 di
antaranya memuat perabot pemudik," kata Kepala Cabang PT Pelni Banjarmasin, Bachtiar
Sipahutar kemarin.
Kendati demikian pihak operator justru khawatir dengan kelangsungan jasa pelayarannya
jika semakin banyak perusahaan merugi dan mem-PHK karyawannya. "Kalau di sini mata
pencaharian mereka diputus masa mereka mau kemari lagi. Padahal selama ini mereka yang
paling sering bolak balik menggunakan jasa kita," imbuhnya. anjar wulandari