MERENUNG dan memohon ampun kepada Sang Hyang Widhi Wasa atas dosa yang telah
diperbuat selama satu tahun lalu. Itulah yang dilakukan umat Hindu di Banjarmasin dan
sekitarnya dalam merayakan Nyepi, Kamis (30/3).
Bagi yang berkeluarga, memilih melakukan ritual di rumah. Sedang mereka yang jauh
keluarga, misalnya tinggal di asrama, berbondong-bondong mendatangi Pura Agung Jagat Natha
di Jalan Gatot Subroto 36 Banjarmasin.
Pintu pura yang biasanya terbuka, kemarin tampak tertutup. Selain umat Hindu, dilarang
masuk tempat ibadah itu. Menurut Sekretaris II Persatuan Hindu Dharma Indonesia Kalsel,
Made Budiarsa, itu dilakukan agar persembahyangan Nyepi tidak terganggu.
"Berhubung dilaksanakan perayaan Nyepi, umat Hindu dianjurkan memanjatkan doa dan
permohonan ampun kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Untuk itu supaya lebih khusuk, pintu masuk
pura kami tutup rapat agar mereka yang sedang melaksanakan ibadah persembahyangan Nyepi
tidak terganggu," katanya, kemarin.
Mereka yang hadir di pura kurang lebih 150 orang. "Usai pelaksanaan persembayangan
Nyepi ini, pada Jumat (31/3) ini akan dilanjutkan dengan pemotongan nasi tumpeng.
Potongannya akan dibagikan kepada seluruh umat Hindu yang ada di pura sambil
bersalam-salaman dan memita maaf atas kesalahan yang diperbuat kepada umat Hindu
lainnya," jelasnya.
I Kade Dwiariyani (20), salah seorang umat Hindu yang tinggal di Kayu Tangi Banjarmasin
mengatakan memilih menjalankan ibadah Nyepi di Pura Agung Jagat Natha. Dia memilih dari
pagi sampai sore di pura itu, kemudian pada sore harinya kembali di rumah, menyepikan diri
di kamar sambil memanjatkan doa dan memperdalam kerohanian melalui buku agama Hindu.
"Kebiasaan saya di Bali, ketika Nyepi tiba, bersama orangtua hanya berdiam di
rumah. Tidak diperkenankan bepergian dan menerima tamu agar suasana Nyepi makin bermakna.
Berbeda dengan di Banjarmasin, karena umat Hindu di daerah ini minoritas jadi ibadah
terfokus di Pura Agung Jagat Natha Banjarmasin," ungkapnya. c7