DI TENGAH dentam
bahana musik yang bertalu-talu dan ruang penuh kepulan asap, beberapa wanita muda
berlenggok ria di pentas yang dikerumuni penonton. Gaun tipis yang minim, membalut tubuh
putihnya. Sejengkal kain penutup aurat paling rahasia itu, nyaris membuat sosoknya seperti
telanjang bulat. Sorot lampu panggung yang terang benderang, tidak mampu menyembunyikan
bagian tubuh terlarang yang seharusnya terhindar dari tatapan. Mereka beralasan dengan
ungkapan klise, kebebasan berekspresi yang bernilai seni.
Pakaian tak seronok mempertontonkan tubuh yang mampu mengumbar nafsu erotik serta
dandanan sensual, dianggap sebagai bagian dari gaya hidup masa kini. Maka, tatkala
kebebasan yang menyeret anak bangsa ke lembah kemerosotan moral itu digugat, mereka
serentak bereaksi bak cacing kepanasan. Padahal kehadiran RUU yang akan memantapkan
permasalahan pornografi dan pornoaksi itu, ingin mengembalikan martabat bangsa dari
kebebasan sekuler Barat yang hedonis dan melecehkan. Kebebasan yang membuat harga dirinya
jatuh berkeping-keping, kecuali yang mengagungkan kebebasan itu sendiri. Dan, mereka
seolah tidak menyadari, jikalau hak asasi paling fitri itu telah mereka nodai dengan
argumen HAM yang relatif dan permissif.
Fenomena seperti itu menjadi fakta keseharian hidup masyarakat. Tengoklah betapa
besarnya dampak pengaruh media massa elektronik dan cetak, dalam membentuk opini umat.
Dengan intensitas tayangan media terutama televisi yang dikemas secara runtut dan rapi,
tak hanya menawarkan beragam hiburan tapi juga tatanilai, tatanan atau gaya hidup.
Terkadang tatanilai yang ditawarkan itu diserap begitu saja, tanpa mempertimbangkan apakah
bertentangan dengan budaya atau norma agama.
Padahal, kebebasan semacam itu sudah memasuki wilayah akidah. Dalam akidah hanya satu
yang berlaku, yakni aturan atau perintah Tuhan berdasarkan syariat atau Kitabullah. Bagi
seorang hamba Allah, adakah yang lebih luhur dan mulia kecuali melaksanakan setiap
perintah dan larangan Nya secara istiqamah? Islam memandang keelokan tubuh, suara,
kecantikan wajah dan perhiasan yang membalut badan itu dapat membawa fitnah (ujian). Maka
sangat tidak beralasan, jika mereka menganggap kelebihan itu sebagai jalan mencapai
kemulian dan kehormatan. Apalagi untuk meraih sanjungan dan pujian yang membuatnya menjadi
makhluk yang sombong, bangga diri (ujud) dan riya.
Islam sama sekali tidak menolak keinginan untuk mencapai kemulian dan kehormatan,
bahkan sangat menganjurkannya. Namun langkah menggapai kemuliaan dan kehormatan itu di
antara manusia dan di sisi Allah, harus berpijak pada ketentuan yang ditetapkan Nya.
Seperti firman Nya: "... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Mangenal." (Al Hujuraat: 13). Firman ini yang seharusnya dijadikan
parameter, agar kebebasan yang diberikan Tuhan itu tidak menjadi kebablasan alias lepas
kendali.
Mengubah Fitrah
Setiap wanita secara naluriah mendambakan tubuh yang elok, wajah cantik dan pakaian
indah berbalut perhiasan mewah. Ini fakta yang tidak perlu lagi dibahas. Sebaliknya, pria
menginginkan wajah tampan dan gagah untuk mengawal kelelakiannya. Kecantikan seakan
ditakdirkan bagi wanita, sebagaimana ketampanan dan kejantanan bagi pria. Naluri itu tidak
mengenal ras atau warna kulit.
Untuk meraih semua dambaan itu, mereka rela melakukan latihan kebugaran tubuh atau
pergi ke salon kecantikan. Artis tersohor di Indonesia rela merogoh kocek jutaan rupiah
setiap bulan, demi mempertahankan imej citra dirinya di kalangan pemujanya. Mereka juga
rela melakukan pola diet yang keras agar tubuh tetap fit dan tidak gembur, sehingga
membuat mereka tetap percaya diri.
Tampaknya fenomena kecantikan itu bukan menjadi milik khas wanita. Meniru kaum Hawa,
kaum Adam pun mendatangi salon khusus pria dan mencontoh perilaku wanita seperti melakukan
facial agar tampak bugar, memotong rambut model terkini, atau melakukan creambath.
Tidak semata merawat keelokan tubuh, kaum wanita tidak segan pula melakukan operasi
plastik untuk mengencangkan payudara, memperindah mata, bibir atau memutihkan kulit yang
kusam dan hitam. Michael Jackson bahkan berkali-kali mengoperasi hidungnya agar menjadi
mancung, melancipkan dagu atau memutihkan kulitnya yang hitam.
Apakah makna semua fenomena itu? Mengapa untuk tampil indah dan cantik harus mengubah
fitrah penciptaan yang sudah digariskan Nya? Bukankah setiap hamba Allah seyogiyanya
mensyukuri dan ridha atas anugerah yang dimilikinya, karena hal itu sudah menjadi
ketetapan Nya?
Dengan mengubah bentuk tubuh seperti payudara, dagu, bibir atau kulit melalui operasi
kecantikan bukan hanya melakukan perbuatan haram yang dilaknat Allah dan Rasulullah SAW,
tapi juga menentang sekaligus mengubah ciptaan Nya tanpa ada suatu sebab yang
mengharuskannya berbuat demikian. Mereka lebih mendahulukan kulit daripada inti, atau
jasmani dari rohani. Padahal, semua itu di hadapkan Allah Azza Wajalla sama sekali tidak
ada nilainya.
Islam menentang sikap berlebihan dalam berhias hingga menjurus kepada mengubah ciptaan
Nya. Dalam Alquran sikap itu disebut sebagai salah satu ajakan setan kepada pengikutnya.
"Sungguh akan kami pengaruhi mereka itu sehingga mereka mau mengubah ciptaan
Allah." (an-Nisa: 119). Islam juga mengharamkan perempuan memakai pakaian tipis
hingga menampakkan lekuk tubuhnya, khususnya bagian tubuh yang membawa fitnah.
Mereka memang berpakaian yang melilit tubuhnya. Tapi pakaian itu pada hakikatnya tidak
berfungsi menutup auratnya, karena itu disebut telanjang. Nabi mengatakan, perempuan yang
menyambung rambut termasuk dosa yang dilaknat Allah. (HR Bukhari)
Terhadap semua fenomena itu, tepat sekali sabda Rasulullah SAW: sesungguhnya Allah SWT
tidak melihat seseorang dari bentuk tubuhnya tapi melihat hati dan amalnya. Kemulian pria
dan wanita, manakala ia mampu menjaga martabatnya dengan iman, ridha menerima semua
karunia yang Allah berikan, mampu menghijab dirinya dari perbuatan maksiat, dan menghiasi
semua aktivitasnya sehari-hari dengan ibadah serta berbuat baik terhadap sesama.
Berkacalah kepada wanita mulia yang namanya tetap harum sepanjang masa. Seperti
Khadijah ra, Aisyah ra, Asma binti Yazid, atau Rabiah Al-Adawiyah yang demikian
besar kecintaanya kepada Allah. Cernakanlah doanya yang bermuatan cinta itu: "Ya
Rabbi, bila aku menyembah Mu karena takut kan neraka, bakarlah diriku di dalamnya.
Bila aku menyembah Mu karena harapkan surga, jauhkan aku dari sana. Namun jika aku
menyembah mu hanya demi Engkau, maka janganlah Kau tutup Keindahan Abadimu ...."
* Wartawan, tinggal di Banjarmasin