:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Jumat, 31 Maret 2006 01:45


Jikalau Maksiat Bersarang Di Hati

Oleh: RE Nadalsyah

DI TENGAH dentam bahana musik yang bertalu-talu dan ruang penuh kepulan asap, beberapa wanita muda berlenggok ria di pentas yang dikerumuni penonton. Gaun tipis yang minim, membalut tubuh putihnya. Sejengkal kain penutup aurat paling rahasia itu, nyaris membuat sosoknya seperti telanjang bulat. Sorot lampu panggung yang terang benderang, tidak mampu menyembunyikan bagian tubuh terlarang yang seharusnya terhindar dari tatapan. Mereka beralasan dengan ungkapan klise, kebebasan berekspresi yang bernilai seni.

Pakaian tak seronok mempertontonkan tubuh yang mampu mengumbar nafsu erotik serta dandanan sensual, dianggap sebagai bagian dari gaya hidup masa kini. Maka, tatkala kebebasan yang menyeret anak bangsa ke lembah kemerosotan moral itu digugat, mereka serentak bereaksi bak cacing kepanasan. Padahal kehadiran RUU yang akan memantapkan permasalahan pornografi dan pornoaksi itu, ingin mengembalikan martabat bangsa dari kebebasan sekuler Barat yang hedonis dan melecehkan. Kebebasan yang membuat harga dirinya jatuh berkeping-keping, kecuali yang mengagungkan kebebasan itu sendiri. Dan, mereka seolah tidak menyadari, jikalau hak asasi paling fitri itu telah mereka nodai dengan argumen HAM yang relatif dan permissif.

Fenomena seperti itu menjadi fakta keseharian hidup masyarakat. Tengoklah betapa besarnya dampak pengaruh media massa elektronik dan cetak, dalam membentuk opini umat. Dengan intensitas tayangan media terutama televisi yang dikemas secara runtut dan rapi, tak hanya menawarkan beragam hiburan tapi juga tatanilai, tatanan atau gaya hidup. Terkadang tatanilai yang ditawarkan itu diserap begitu saja, tanpa mempertimbangkan apakah bertentangan dengan budaya atau norma agama.

Padahal, kebebasan semacam itu sudah memasuki wilayah akidah. Dalam akidah hanya satu yang berlaku, yakni aturan atau perintah Tuhan berdasarkan syariat atau Kitabullah. Bagi seorang hamba Allah, adakah yang lebih luhur dan mulia kecuali melaksanakan setiap perintah dan larangan Nya secara istiqamah? Islam memandang keelokan tubuh, suara, kecantikan wajah dan perhiasan yang membalut badan itu dapat membawa fitnah (ujian). Maka sangat tidak beralasan, jika mereka menganggap kelebihan itu sebagai jalan mencapai kemulian dan kehormatan. Apalagi untuk meraih sanjungan dan pujian yang membuatnya menjadi makhluk yang sombong, bangga diri (ujud) dan riya’.

Islam sama sekali tidak menolak keinginan untuk mencapai kemulian dan kehormatan, bahkan sangat menganjurkannya. Namun langkah menggapai kemuliaan dan kehormatan itu di antara manusia dan di sisi Allah, harus berpijak pada ketentuan yang ditetapkan Nya. Seperti firman Nya: "... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mangenal." (Al Hujuraat: 13). Firman ini yang seharusnya dijadikan parameter, agar kebebasan yang diberikan Tuhan itu tidak menjadi kebablasan alias lepas kendali.

Mengubah Fitrah

Setiap wanita secara naluriah mendambakan tubuh yang elok, wajah cantik dan pakaian indah berbalut perhiasan mewah. Ini fakta yang tidak perlu lagi dibahas. Sebaliknya, pria menginginkan wajah tampan dan gagah untuk mengawal kelelakiannya. Kecantikan seakan ditakdirkan bagi wanita, sebagaimana ketampanan dan kejantanan bagi pria. Naluri itu tidak mengenal ras atau warna kulit.

Untuk meraih semua dambaan itu, mereka rela melakukan latihan kebugaran tubuh atau pergi ke salon kecantikan. Artis tersohor di Indonesia rela merogoh kocek jutaan rupiah setiap bulan, demi mempertahankan imej citra dirinya di kalangan pemujanya. Mereka juga rela melakukan pola diet yang keras agar tubuh tetap fit dan tidak gembur, sehingga membuat mereka tetap percaya diri.

Tampaknya fenomena kecantikan itu bukan menjadi milik khas wanita. Meniru kaum Hawa, kaum Adam pun mendatangi salon khusus pria dan mencontoh perilaku wanita seperti melakukan facial agar tampak bugar, memotong rambut model terkini, atau melakukan creambath. Tidak semata merawat keelokan tubuh, kaum wanita tidak segan pula melakukan operasi plastik untuk mengencangkan payudara, memperindah mata, bibir atau memutihkan kulit yang kusam dan hitam. Michael Jackson bahkan berkali-kali mengoperasi hidungnya agar menjadi mancung, melancipkan dagu atau memutihkan kulitnya yang hitam.

Apakah makna semua fenomena itu? Mengapa untuk tampil indah dan cantik harus mengubah fitrah penciptaan yang sudah digariskan Nya? Bukankah setiap hamba Allah seyogiyanya mensyukuri dan ridha atas anugerah yang dimilikinya, karena hal itu sudah menjadi ketetapan Nya?

Dengan mengubah bentuk tubuh seperti payudara, dagu, bibir atau kulit melalui operasi kecantikan bukan hanya melakukan perbuatan haram yang dilaknat Allah dan Rasulullah SAW, tapi juga menentang sekaligus mengubah ciptaan Nya tanpa ada suatu sebab yang mengharuskannya berbuat demikian. Mereka lebih mendahulukan kulit daripada inti, atau jasmani dari rohani. Padahal, semua itu di hadapkan Allah Azza Wajalla sama sekali tidak ada nilainya.

Islam menentang sikap berlebihan dalam berhias hingga menjurus kepada mengubah ciptaan Nya. Dalam Alquran sikap itu disebut sebagai salah satu ajakan setan kepada pengikutnya. "Sungguh akan kami pengaruhi mereka itu sehingga mereka mau mengubah ciptaan Allah." (an-Nisa’: 119). Islam juga mengharamkan perempuan memakai pakaian tipis hingga menampakkan lekuk tubuhnya, khususnya bagian tubuh yang membawa fitnah.

Mereka memang berpakaian yang melilit tubuhnya. Tapi pakaian itu pada hakikatnya tidak berfungsi menutup auratnya, karena itu disebut telanjang. Nabi mengatakan, perempuan yang menyambung rambut termasuk dosa yang dilaknat Allah. (HR Bukhari)

Terhadap semua fenomena itu, tepat sekali sabda Rasulullah SAW: sesungguhnya Allah SWT tidak melihat seseorang dari bentuk tubuhnya tapi melihat hati dan amalnya. Kemulian pria dan wanita, manakala ia mampu menjaga martabatnya dengan iman, ridha menerima semua karunia yang Allah berikan, mampu menghijab dirinya dari perbuatan maksiat, dan menghiasi semua aktivitasnya sehari-hari dengan ibadah serta berbuat baik terhadap sesama.

Berkacalah kepada wanita mulia yang namanya tetap harum sepanjang masa. Seperti Khadijah ra, Aisyah ra, Asma binti Yazid, atau Rabi’ah Al-Adawiyah yang demikian besar kecintaanya kepada Allah. Cernakanlah doanya yang bermuatan cinta itu: "Ya Rabbi, bila aku menyembah Mu karena takut ‘kan neraka, bakarlah diriku di dalamnya. Bila aku menyembah Mu karena harapkan surga, jauhkan aku dari sana. Namun jika aku menyembah mu hanya demi Engkau, maka janganlah Kau tutup Keindahan Abadimu ...."

* Wartawan, tinggal di Banjarmasin


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


O P I N I
Opini - Jikalau Maksiat Bersarang Di Hati

Opini - Fenomena Bangkitnya Islam Politik


Tajuk - Korban Kebijakan


Hot Line - Usul Pak Dewan


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123