Kemenangan Hamas
di pemilu parlemen Palestina baru-baru ini
menyusul tren Islam politik serupa tahun lalu dalam berbagai bentuknya, mencuri perhatian
dunia. Di Irak, partai Syiah berbasis agama mendapat perolehan suara sangat signifikan,
kendati terdapat usaha oleh AS untuk mendongkrak imej kelompok rivalnya. Di Iran, Mahmoud
Ahmedinejad, pemimpin generasi baru yang menjanjikan kaum miskin masa depan yang lebih
baik di bawah prinsip revolusi Islam, terpilih sebagai presiden.
Di Libanon, Hizbullah --kelompok Islam Syiah garis keras yang memiliki hubungan kuat
dengan Iran-- menunjukkan perolehan suara cukup mengesankan saat pemilu tahun lalu. Arab
Saudi juga mengadakan eksperimen pertamanya dengan demokrasi, ketika negara ini mengadakan
pemilu untuk kaum lelaki dalam pemilihan walikota. Hasilnya tidak mengherankan, banyak
orang kalangan islamis menang besar. Pemilu Mesir juga mengantar kalangan Ikhwanul
Muslimin (IM) memenangkan 88 kursi dari 150 kursi yang mereka ikuti. Di Indonesia, partai
dengan spirit IM semacam PKS pelan tapi pasti juga menunjukkan kemajuan signifikan dalam
pemilu paling demokratis pertama pada 2004. Pada akhir 2005, partai ini juga memenangkan
pemilihan walikota Depok.
Dalam tatanan teori, fenomena ini menggoda kita untuk berasumsi bahwa suatu kekuatan
besar yang terkoordinasi sedang menyeruak dalam kehidupan demokrasi, sebuah sistem politik
yang berfondasi sekularisme.
Realitasnya, kondisi lokal pada setiap negara telah membentuk variasi besar
pengelompokan yang tidak monolitik dan aktivitasnya jelas tidak terkoordinasi. Sebagian
besar dari kelompok ini, tidak dikenal memiliki hubungan aktif apa pun dengan kelompok
teroris semacam Al Qaidah.
Di kawasan Palestina, partai Fatah yang didirikan almarhum Yasser Arafat dan mengalami
kekalahan besar dari Hamas, dipandang sangat korup dan elitis. Di kalangan akar rumput,
umum terdengar bahwa kalangan pimpinan Fatah telah mengeksploitasi jutaan dolar bantuan
Barat.
Banyak pemilih muda tidak dapat mengidentifikasi diri dengan kalangan generasi tua
Palestina yang hidup di pengasingan, yang baru tinggal di kawasan Palestina dari Tunis
menyusul perjanjian Oslo 1003. Fatah berusaha keras membujuk pemilih dengan memproyeksi
Marwan Barghouti, pemimpin lokal muda karismatik yang saat ini berada di penjara Israel,
dengan memasang posternya di sejumlah kota selama kampanye.
Sebaliknya, Hamas berhasil membangun jaringan layanan masyarakat yang sangat
terorganisasi. Terbunuhnya pemimpin spiritualnya, Shaikh Yassin dan Abdelaziz Rantisi,
oleh Israel juga semakin mengikat hubungan emosional dengan kalangan akar rumput.
Penarikan unilateral Israel dari Gaza, semakin menguntungkan Hamas yang mengklaim kampanye
militannya berhasil memaksa Israel menarik diri dari kawasan itu.
Tidak sebagaimana kebangkitan cepat dan dramatis yang dialami Hamas, IM mulai menantang
otoritas politik di Mesir dengan proses yang jauh lebih lambat. Kekalahan Arab atas Israel
di bawah pimpinan Mesir pada 1967 menjadi titik balik historik. Hal ini memberikan IM
peluang besar pertama untuk memperoleh pengaruh politik signifikan. Sudah menjadi persepsi
umum di Mesir waktu itu, semangat religius Israel yang luar biasa menjadi penyebab atas
kekalahan Arab. Oleh karena itu, Islam menjadi jawaban yang tepat untuk melawannya.
Dengan tampilnya Anwar Sadat, pengganti Nasser, pemberangusan atas gerakan IM sedikit
terhenti. Represi mulai lagi ketika Husni Mubarak mengambil alih kekuasaan. Tetapi dengan
adanya fakta, pemerintahan Mubarak yang hanya menguntungkan sebagian kecil kelompok elit,
IM kembali berhasil melakukan gerakan politik baru dengan memproyeksikan diri sebagai
alernatif dari garis politik sekular sosialisme Nasser, dan ekonomi pasar bebas
pro-Amerika-nya Mubarak.
Bangkitnya politik Islam yang didominasi Syiah di Irak, tampak mengambil jalur berbeda.
Syiah mengalami diskriminasi sejak berdirinya tampuk kekuasaan Usmaniah pada 1638,
mengingat komunitas minoritas Sunni mulai berkuasa sejak saat itu. Banyak dari kalangan
ini menderita deprivasi serius di bawah rezim Partai Baath, tetapi komunitas Syiah
berhasil membangun jaringan dukungan bawah tanah selama masa-masa sulit itu. Syiah
melakukan usaha serius untuk mengisi kekosongan politik, menyusul longsornya kekuasaan
kelompok Baath akibat dari invasi Amerika ke Irak pada 2003. Pada pemilu Irak terakhir,
Syiah memenangkan hampir 80 persen kursi di Irak.
Di sisi lain, kaum Sunni bergabung dengan gerakan agama setelah penindasan politik dan
militer mulai dilakukan pasukan AS. Gerakan religius Sunni kembali bangkit setelah
pengeboman membabi buta AS atas Fallujah, dan sejumlah laporan seputar penyiksaan atas
napi yang kebanyakan Sunni di Abu Ghuraib memenuhi berita utama internasional.
Tidak mengejutkan, apabila Front Irak memenangkan sejumlah kursi yang cukup mengesankan
di kawasan yang didominasi Sunni pada pemilu lalu.
Agak mirip dengan fenomena di Mesir, kalangan akar rumput di Indonesia, walau dengan
sedikit enggan dan ragu, pelan tapi pasti mulai melirik partai berideologi agama yang
terkenal dengan slogan sebagai partai bersih dan santun: PKS (Partai Keadilan Sejahtera).
Partai berbasis kader ini relatif berhasil memosisikan dirinya sebagai partai yang tampil
beda: partai yang antikorupsi dan egaliter. Aral satu-satunya yang menghambat laju
perkembangan PKS saat ini adalah ketakutan masyarakat yang umumnya sekular, atas
pemberlakuan Syariat Islam apabila partai ini berkuasa.
Sementara penyebab kebangkitan islamis cukup bervariasi. Di sini perlu ditekankan,
fenomena ini sebenarnya mewakili aspirasi ketertindasan dan keputusasaan kalangan kelas
bawah. Di tengah tiadanya alternatif partai nasionalis sekular yang kredibel, bersih dan
egalitarian saat ini, partai Islam menjadi unsur yang cepat bangkit sebagai piranti
ekspresi diri dan mobilisasi massa di dunia Islam, baik di Timur Tengah maupun di
Indonesia.
Sudah waktunya bagi partai nasionalis untuk tidak take for granted atas suara
pemilih.
* Mahasiswa Ilmu Politik Agra University, India
e-mail: syuhud@gmail.com