Ide cerita tentang anak yang terbuang yang akhirnya dijadikan anak angkat oleh
seorang tomanang (mandul,red) memang menyimpan keunikan tersendiri. Apalagi gaya
bakisah Fahdi yang komunikatif, sehingga wajar dinobatkan menjadi pemenang pertama Lomba
Bakisah Bahasa Banjar 2006.
 |
| Pionir - Jawara
lomba Bakisah Bahasa Daerah Banjar 2006 diharapkan menjadi pionir memantapkan pemahaman
kaum muda memakai bahasa asli Banjar. |
Disamping itu cerita peserta asal Hulu Sungai tengah ini juga berisi sentilan,
pengalaman dan kisah serta kenyataan hidup memang terasa khas Banjarnya.
Alhasil dalam event yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel, Kamis (30/3)
cerita mahasiswa Universitas Islam Kalimantan (Uniska) mampu memikat 5 juri sekaliber Drs
H Syamsiar Seman, Drs Jarkasi,Mudjahidin, Drs H Bahtiar Sanderta serta Drs M Syafrullah,
dan mendapatkan nilai tertinggi 1.125.
Selain Fahdi sebagai juara kedua Hepni Albuni kemudian juara tiga Risa Risdariani.
Terdapat juga harapan 1 Fauzi Rahmansyah, lalu Farid Fadillah di harapan dua serta Narhani
di harapan tiga. Semua pemenang mendapatkan trophy dan uang perhargaan dari panitia.
Seniman Kalsel, Yanto Madal menilai selain memberikan apresiasi baru dalam
mengembangkan budaya tradisional lokal, lomba bakisah ini akanmengembangkan wawasan
berbahasa Banjar.
"Saya lihat antusiasme peserta yang sebagian besar kawula muda cukup besar
mengikuti lomba ini. Paling tidak ini adalah bukti budaya belum ditinggalkan dan malah
harus dikembangkan lagi," kata Yanto.
Hal sama dikemukakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Drs H Bihman Muliansyah.
Menurutnya dengan pelaksanaan lomba ini target jangka panjangnya minimal dapat memantapkan
kemampuan dan pemahaman peserta dalam menguasai bahasa asli Banjar.
"Disamping itu kita juga salut ternyata semua peserta memang benar-benar pencerita
atau tukang kisah yang memiliki kualitas terbaik dan layak menjadi pemenang," kata
Bihman. mansyur