| "Semoga Anakku Cepat Ketemu"
SUASANA duka masih menyelimuti keluarga Nur Haini (58), warga Jalan Rawasari 27
Gang Ruhui Rahayu, Banjarmasin. Ibu tiga anak ini, masih terlihat syok meratapi musibah
yang menimpa anak keduanya Rizani Rahim (21) yang terseret arus Sungai Martapura saat
bermain perahu plastik, Minggu (11/3) sore.
Sambil duduk di teras rumah, sorot kedua matanya terlihat kosong. Dia tidak tahu harus
berbuat apa, terkait musibah tersebut. Hanya berharap, semoga buah hatinya segera
ditemukan baik dalam kondisi selamat atau sebaliknya.
"Saya masih bingung mau mencari ke mana. Sungainya luas dan panjang. Semoga saja
cepat ketemu, biar perasaan ini menjadi lega. Kalau bisa dalam kondisi selamat,"
ujarnya sambil mengusap air mata.
Dia hanya berharap kepedulian anggota BPK dan Tim SAR agar terus menerus mencari
keberadaan anaknya sampai ketemu. Karena dirinya tidak mampu jika harus mencarinya
sendiri, lantaran tidak punya peralatan seperti perahu.
"Kalau mencari sendiri bagaimana, alat saja tidak punya. Ya, mohon kepada Tim SAR
agar terus melakukan pencarian sampai ketemu," pintanya.
Disinggung firasat sebelum kejadian, janda tiga anak ini menuturkan tidak punya
perasaan buruk terhadap buah hatinya. Hanya saja, sebelum kejadian anaknya sempat minta
diantar ke Kimpraswil untuk pinjam bahan-bahan tentang pembuatan jembatan di sungai yang
ada di Kalsel.
Padahal, dia sudah memilih judul dan mengangkat masalah pembangunan jalan. Dan saat
ini, tugas akhir tersebut juga sudah mulai dikerjakan dan bahan-bahannya juga sudah
lengkap semua.
"Kemarin sebelum kejadian, dia minta diantar ke Kimpraswil mau pinjam bahan
pembuatan skripsi. Katanya, dia ganti judul dan lebih senang mengerjakan masalah jembatan
biar sungai yang ada ini tertib dan rapi. Tapi tidak mengira kalau bakal seperti
ini," tukasnya.
Bahkan kenang dia, saat itu sempat terjadi tarik ulur antara dirinya dengan anaknya.
Karena gantinya judul skripsinya dikhawatirkan bakal menunda-nunda proses pengerjaan yang
berakibat pada pelaksanaan ujian maupun wisudanya.
"Saya sempat memarahi dia. Buat apa ganti judul, yang ada saja hampir selesai
pengerjaannya. Lagi-lagi dia bilang tidak senang dengan masalah yang diangkatnya itu dan
pilih masalah jembatan dan sungai," urainya.
Sementara itu, selain pencarian yang dilakukan para anggota BPK, tim SAR, Tagana dan
Dishub, juga terlihat beberapa warga yang melakukan ritual.
Mereka ada yang membakar kemenyan di bawah Pohon Beringin samping Kantor Pariwisata.
Tak ayal, bau kemenyan tersebut langsung menyeruak ke kawasan tersebut.
Selain itu, juga ada yang membuang sesaji yang berisi aneka makanan di tengah perairan
itu, setelah dibawa menggunakan kelotok. Bahkan juga ada yang melempar bantal ke sungai. coi |