HARI, bukan nama sebenarnya, terlihat begitu semangat bolak-balik mengambil air
dari selokan yang ada di seberang rumahnya, untuk disiramkan ke jalan aspal di depan
rumah. Pekerjaan baru itu ia lakukan dalam sepekan terakhir.
Awalnya, hal itu ia lakukan hanya untuk menanggulangi agar debu jalanan tidak
beterbangan saat truk-truk batu bara melintas. Maklum, rumahnya yang berada di sisi Jalan
Barito Hilir, Trisakti menjadi langganan debu jika aspal depan rumahnya tidak disiram.
Namun beberapa hari berselang, otak Hari menuntunnya untuk memanfaatkan situasi. Ember
yang digunakan untuk menyiram aspal, ia gunakan sebagai wadah untuk meminta imbalan dari
para sopir truk.
"Dari pada kami tidak dapat apa-apa, mending sekalian minta sumbangan dari sopir
truk sebagai upah menyiramkan jalan. Lagipula saya tidak memaksa kok," ujarnya
kepada BPost, Kamis (12/4).
Begitu konvoi truk-truk itu bergerak melewati tempat ia berdiri, Hari menadahkan ember
ke sopir. Sebagian sopir memberinya uang dalam bentuk recehan, ada pula yang tidak
tahu-menahu sehingga memilih jalan terus.
Terik matahari ditambah panas mesin mobil truk batu bara tersebut membuat aspal dengan
cepat mengering. Hari pun buru-buru kembali ke got mengambil seember air untuk disimburkan
ke jalan sampai basah kembali.
Beberapa meter dari tempat Hari beraktivitas, tepatnya di simpang empat menuju terminal
Pelabuhan Trisakti, tampak seorang lelaki berpakaian dan perempuan berlagak sebagai polisi
sibuk mengatur arus jalan.
Iring-iringan truk batu bara mereka manfaatkan untuk mendapatkan imbalan. Menurut,
Rahmat, warga RT 37 Kelurahan Telaga Biru, Trisakti, warga yang melakukan hal itu hanya
meminta dana suka rela. Mereka tidak lagi berani memasang tarif seperti saat portal truk
batu bara marak beberapa waktu lalu. ais