BAGI Syaipuddin, perjalanan panjang yang melelahkan dari Muara Teweh, Kalteng ke
Sumedang, Jabar tidak ada artinya dengan kebahagiaannya bertemu dengan putra tercinta,
Hikmat Faizal.
Meski pertemuan selama 15 menit itu terjadi ketika anaknya itu sedang mendekam di
tahanan Polres Sumedang, namun Syaipuddin tetaplah lega karena Faizal dalam kondisi sehat.
"Meski senang bisa bertemu, namun saya sempat tidak bisa menahan tangis. Namanya
juga orangtua, melihat anaknya ditahan, tentu sangat sedih. Kita menyekolahkan agar ia
menjadi anak yang baik, rela berpisah dengan orangtua dijalani, tapi musibah datang tidak
diduga. Tapi saya tidak boleh larut, karena diberi waktu bertemu hanya seperempat
jam," tutur Syaipuddin kepada BPost, malam tadi.
Begitu nelihat Faizal, Pegawai Badan Pertanahan Nasional Muara Teweh ini langsung
memeluknya. Dia pun meminta putranya itu tabah menghadapi cobaan yang sedang menerpanya.
"Saya minta dia jangan down. Tetap tabah dan semangat," ujarnya.
Satu hal lain yang membuat Syaipuddin sedikit lega adalah pengakuan Faizal yang
mengatakan tidak melakukan kekerasan terhadap praja Cliff Muntu. "Faisal menyakinkan
saya kalau tidak terlibat langsung dalam peristiwa kekerasan itu. Saat itu, dia tengah
nonton televisi. Namun karena dia Ketua Pataka diminta ikut bertanggungjawab. Padahal
kalau langsung memukul, tidak pernah," tegas Syaipuddin.
Suami Fatimah ini yakin dengan kebenaran pengakuan anaknya itu. "Dia anak baik,
pendiam, tidak mungkin sampai mencederai orang lain apalagi membunuh," katanya.
Karena itu, Syaipudin berharap warga Kalimantan, khususnya Kalteng untuk dapat
memahaminya. Sesuatu yang menimpa Hikmat Faisal lanjutnya adalah musibah, bukan ulah yang
sengaja dilakukan putranya.
Untuk mendampingi anaknya selama menjalani proses hukum, Syaipudin menunjuk dua orang
pengacara."Mungkin besok (hari ini) saya pulang ke Kalteng karena harus kembali
bekerja. Saya sudah tunjuk pengacara agar setiap proses hukum yang dijalani Hikmat Faisal
mendapat pendampingan," tuturnya.ais/ck6