Jakarta, BPost
Survei Pusat Kajian Kebijaksanaan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) menyatakan,
sebanyak 1,5 juta pemilih di Jakarta, tidak akan menggunakan hak pilihnya alias golput.
Survei ini berkait tentang perilaku pemilih dalam rangka Pilkada DKI Jakarta untuk
mencari pasangan cagub dan cawagub yang populer di mata masyarakat, per bulan Maret-April
2007.
Survei dilakukan di lima wilayah kotamadya dan Kepulauan Seribu dari 30 Maret 2007
sampai 6 April 2007 terhadap 2.640 responden dari 5,8 juta jiwa pemilih penduduk potensial
Pilkada.
"Berdasarkan survei, 26 persen responden menyatakan untuk tidak memilih pasangan
calon dari kalangan mana pun," kata Direktur Ekskutif Puskaptis Husin Yazid kepada
wartawan di Balai Kota, Kamis (12/4).
Ia mengatakan, sebelumnya di bulan Maret 2007, angka golput di Jakarta hanya 10 persen.
Peningkatan angka terhadap pengabaian hak pilih ini, dari 10 persen ke 26 persen terjadi,
karena masyarakat tidak diberikan pilihan yang cukup banyak.
Pada April 2007, hanya ada dua nama kuat pasangan calon, yakni Fauzi Bowo dan Adang
Daradjatun. Sedangkan pada Maret, masih ada empat nama cagub, Fauzi Bowo, Adang
Daradjatun, Sarwono Kusumaatmadja, dan Agum Gumelar.
"Dengan adanya dua nama ini, pemilih yang tadinya mau memilih Sarwono dan Agum
akhirnya memilih golput. Makanya, angka golput naik dari 10 persen ke 26 persen,"
katanya.
Selain angka golput yang meningkat menjadi 26 persen, berdasarkan hasil survei, 65
persen responden menyukai pasangan calon yang berlatar belakang militer dan
sipil/birokrasi (65 persen). Hanya 9 persen responden yang menyukai pasangan calon dari
sipil dan sipil.
Dari hasil survei juga terungkap, Fauzi Bowo merupakan gubernur favorit pilihan
masyarakat. Ada 36 persen responden yang memilih Fauzi Bowo.
Pasangan cawagub yang diinginkan masyarakat untuk mendampingi Fauzi Bowo yaitu Slamet
Kirbiyantoro yang memperoleh 36 persen dari total suara responden. Sisanya, Ferial Sofyan
(28 persen), Djasri Marin (26%), Asril Tanjung (8%), dan Abdul Wahab Makodongan (6%).
Pengebirian Aspirasi
Pemuda Muhammadiyah dan Gerakan Pemuda Ansor menilai telah terjadi proses pengebirian
aspirasi masyarakat dengan munculnya dua nama kuat calon gubernur dan calon wakil gubernur
pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI.
"Setelah dicermati perkembangan yang terjadi, ada penggiringan pilihan masyarakat
kepada dua pasangan calon," kata Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah DKI
Jakarta Yahya Abdul Habib.
Menurut dia, Jakarta sebagai kota metropolitan yang multikultural, multilevel, dan
multiproblem seharusnya bisa memunculkan lebih dari dua nama pasangan calon. Seperti
Pilkada yang berlangsung di luar Jakarta yang menghadirkan tiga, empat, atau lima pasangan
calon.
"Munculnya banyak nama kan bukan sesuatu yang haram, mengapa demokrasi dikebiri.
Padahal, ada calon lain yang merupakan aspirasi rakyat," kata kata Sekretaris
Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Rachmad Sofian.ant/mio/dtc