DUA kejadian yang melibatkan suporter saat Manchester United berlaga melawan AS
Roma, namun ditangani oleh satuan kepolisian dari negara berbeda, Inggris dan Italia,
mendapat perhatian Asosiasi Sepakbola Eropa (UEFA).
EUFA pun mengkritik cara aparat kepolisian Italia menangani bentrokan di Stadion
Olimpico, Roma. Mereka bahkan menyebut kepolisian negeri pizza itu bodoh.
Di insiden kekerasan pada pertandingan leg pertama babak perempatfinal AS Roma versus
Manchester United di Olimpico, pekan lalu, melibatkan fans United dan aparat
kepolisian lokal.
Cara penanganan aparat negeri Spagetti itulah yang menuai reaksi miring dari UEFA.
Selain dituding bodoh, Italia kembali diminta untuk belajar dari Inggris dalam hal
menangani bentrokan suporter sepakbola.
"Presiden kami (UEFA) kerap meminta kepolisian belajar dari pengalaman Inggris
menangani hal semacam ini," ungkap Direktur Komunikasi UEFA, William Gaillard kepada
BBC.
"Juga tidak ada keraguan, jika dalam rombongan suporter ada polisi yang mengerti
budaya mereka, para fans niscaya dapat dikontrol, itu akan sangat membantu. Bodohnya,
pekan lalu tampaknya tidak ada seorang pun di dalam kepolisian Roma yang bisa berbahasa
Inggris," sesal Gaillard.
Dia melanjutkan koordinasi dan kerjasama di dalam kepolisian itu sendiri. "Yang
penting adalah membina kerjasama diantara dan didalam unit kepolisian itu sendiri. Semakin
baik, hasilnya juga akan semakin terlihat."
Dalam bentrokan aparat dan fans di Olimpico pekan lalu, 11 suporter Inggris dilarikan
ke rumah sakit. Beberapa bahkan menderita luka tusukan di tubuhnya.
Lusa kemarin, insiden terupa nyaris terulang menjelang pertandingan MU-Roma di Old
Trafford. Namun petugas kepolisian Inggris mampu meredam aksi yang terjadi di sekitar
stadion sehingga tidak meluas. dtc/lbc