ketika religiositas masyarakat hanya berkutat di ranah ibadah ritual, ajaran
agama yang menyentuh manajemen pemerintahan seolah terkesan mengada-ada.
Oleh: Ahmad Barjie B
Pemerhati Sosial
Banyak berita, reportase dan tulisan mengiringi HUT ke-4 Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu)
April 2007. Selain bernada memberi support, ada pula yang mengkritisi. Helmi Apendi
mempertanyakan seberapa jauh moto Tanbu sebagai Kota Bersujud (bersih, subur,
syukur, jujur dan damai) terealisasi. Syaiful Adhar melihat ada banyak hal yang dapat
menghambat Manajemen Ilahiyah (MI) di Tanbu. Di antaranya tidak adanya standar mutu
tertentu dalam mendongkrak profesionalitas kerja birokrasi, contoh langsung aplikasi MI di
daerah lain, payung hukum MI yang jelas di Tanbu dibanding NAD misalnya dengan Qanun
Syariahnya (BPost, 9-10/4).
Sebagai sebuah konsep baru minimal dalam aplikasi, wajar MI yang diterapkan di Tanbu
masih mencari bentuk. Dalam proses pencarian ini, wajar pula dalam beberapa hal terlihat
penonjolan aspek verbal. Misalnya, pelantikan pejabat pakai sarung, baju takwa dan kopiah
haji selain sangat seringnya digelar kegiatan keagamaan berskala besar dan kolosal.
Seiring perjalanan waktu, kita yakin realisasi dan esensi MI akan semakin menemukan
polanya yang khas. Yang jelas, ide cemerlang dan keberanian Bupati Tanbu Zairullah Azhar
mengenalkan konsep MI yang masih terasa asing ini, patut diamini dan didukung.
Ketika religiusitas masyarakat hanya berkutat di ranah ibadah ritual, ajaran agama yang
menyentuh manajemen pemerintahan seolah terkesan mengada-ada. Padahal sekiranya kita gali
ajaran Islam, sesungguhnya di dalamnya terkandung nilai moralitas politik yang tak pernah
kering, yang akan sangat fungsional jika diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Dilihat dari analisis SWOT memang ada kelemahan dan tantangan, namun kekuatan
dan peluang MI juga besar termasuk tuntutan terwujudnya Good Governance di Kalsel.
Tentunya konsep MI dapat dijadikan variable model.
Menyikapi MI di Tanbu, dalam tahap awal akan sangat bijak bila kita posisikan sebagai
pendorong etos kerja saja. Beberapa fungsi manajemen modern yang dikenal selama ini
seperti planning, actuating, organizing, budgetting, controlling dan evaluating
perlu diberi suntikan ajaran agama sehingga MI benar-benar fungsional dan realible.
Biarlah semua berjalan secara alami sesuai religiusitas kita, tanpa perlu repot mencari
model rujukan daerah lain.
Dalam merencanakan pembangunan Tanbu terutama berkaitan dengan dana, kita sangat
berharap agar titik tekannya tidak pada penggalian SDA saja. Masyarakat Kalsel dan Tanbu
khususnya tentu memiliki kekhawatiran jika SDA terus dieksploitasi sebagai sumber utama
PAD, risikonya sangat besar. Karena itu, perencanaan pembangunan ke depan hendaknya lebih
diarahkan ke kegiatan berwawasan lingkungan dan menjanjikan kesejahteraan.
Perencanaan pembangunan berwawasan lingkungan sejalan dengan ajaran Islam yang menolak
pengrusakan alam. "Dan, janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." Ulama menegaskan, berbuat mafsadat
di muka bumi, selain bermaksiat kepada Allah merusak alam dengan mengeksploitasinya secara
berlebihan dan tanpa kendali.
Berbasis keahlian
Dalam merealisasi berbagai ide pembangunan, diperlukan ahli di segi conseptual
skills, human skills dan technical skills. Islam sangat menekankan kepada
keahlian dalam menangani setiap urusan. "Jika suatu urusan diserahkan kepada orang
yang bukan ahlinya, maka tunggu kehancurannya ...." Begitu sabda Nabi.
Pengamatan saya di daerah lain, dalam era otonomi dan pilkada langsung ini, pembangunan
berbasis keahlian banyak terabaikan. Pasalnya, pejabat dan pegawai diposisikan sekehendak
pimpinan, tanpa melihat latar belakangnya. Misalnya, lulusan IAIN mengurusi ekonomi dan
kehutanan, orang pertanian mengurusi administrasi dan sosial. Dalam kerangka otonomi,
kepala daerah seperti merasa bebas melakukan apa saja: memutasi, rolling dan
menggeser orang tanpa melihat kompetensinya. Kemudian, sebagai dampak pilkada ada pejabat
yang sebelumnya kurang mendukung calon kepala daerah terpilih, sehingga muncul like and
dislike. Pejabat itu langsung saja disingkirkan ke bidang lain, yang belum tentu
sesuai kompetensi dan semangatnya.
Ketika terjadi penaklukan Makkah, banyak sahabat mengusulkan pergantian juru kunci
Kabah sebab juru kunci sebelumnya musyrik dan baru saja masuk Islam. Ide ini ditegur
Allah dan Rasul Nya, sehingga juru kunci tetap dipegang orang eks musyrik itu karena ia
yang lebih ahli dan berpengalaman dalam urusan pengelolaan Kabah. Ini berarti Islam
menghendaki, dalam menempatkan orang bukan karena suka atau tidak suka tetapi harus
berdasar keahlian. Kita berharap, di Tanbu semua penempatan pejabat selalu berpegang
prinsip the right man on the right place.
Kompetensi yang ditekankan Islam, tidak semata keahlian teknis profesional. Tetapi juga
kompetensi personal (jujur dan amanah) dan sosial (punya sense of crisis yang
tinggi). Penting diadopsi empat sifat Nabi: siddiq (jujur), amanah
(tepercaya), tabligh (mampu menyosialisi ide bagus dan menyampaikan hak rakyat), fathonah
(cerdas dan kaya inovasi). Nabi dan khalifah rasyidah mendahulukan rakyat kenyang daripada
mereka sendiri.
Di sini diperlukan pula koordinasi, kontrol dan transparansi budgetting sehingga
setiap anggapan dapat dipertanggungjawabkan pemanfaatannya dan dimaksimalkan untuk
kesejahteraan rakyat. Kerangka akuntabilitas publik tidak hanya dalam konteks sekarang
(kepada rakyat atau DPRD), tetapi juga nanti pada pengadilan Allah di akhirat, di mana
tidak ada lagi dusta dan rekayasa. Jadi motivasi maupun aktualisasi pekerja, semua dalam
kerangka ibadah, tidak semata diukur dengan gaji, tunjangan dan reward materi.
Agar kepala daerah dan aparat penuh semangat dan konsentrasi bertugas, kontrol harus
bersifat konstruktif. Boleh tajam dan tegas tetapi masih produktif, dalam istilah almarhum
Nurcholish Madjid adalah oposisi loyal. Pemerintah terus diberi support dan
masukan. Bukan kecaman kasar yang bisa memanaskan telinga yang muaranya kontraproduktif.
Akhirnya selamat untuk bupati, jajaran pemkab dan segenap masyarakat Tanbu. Dirgahayu.