Rakyat Timor Leste kembali mencatat sejarah dalam menjalani babak baru kehidupan
bernegara mereka, setelah lepas dari status Provinsi ke-27 RI. Pada 9 April,
negeri yang baru berusia delapan tahun itu melaksanakan pemilu perdana.
Walaupun sempat dibayangi kecemasan terjadi kerusuhan dan ketidaksiapan pelaksanaannya,
pemilu putaran pertama ini berjalan lancar. Presiden Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao,
menyatakan rasa gembira dan terima kasih kepada masyarakat dan elit politik di negaranya
serta badan penyelenggara pemilu.
Sebagai negara tetangga paling dekat dan pernah satu ibu pertiwi dengan Timor Leste,
Indonesia tentu gembira dengan hasil yang dicapai negeri yang dulunya pernah dijajah
Portugis itu. Karena bagaimana pun, sebagian warga Timor Leste masih memiliki sanak
saudara di Indonesia. Selain itu, tak sedikit warga Indonesia yang masih mencari nafkah di
negera itu.
Di sisi lain, Indonesia sangat berkepentingan terhadap situasi dan kondisi Timor Leste.
Jika terjadi kerusuhan di negara itu, sedikit banyak imbasnya pasti ke Indonesia.
Buktinya, ketika negara itu diguncang pemberontakan dipimpin Reinado Alfedo, Indonesia
terpaksa menyiagakan pasukan TNI di perbatasan.
Bahkan Indonesia sempat menutup pintu perbatasan. Saat itu pula, tak sedikit warga
Indonesia yang berada di Timor Leste terpaksa eksodus kembali ke Indonesia. Bahkan kabar
terakhir yang beredar, Alfredo diduga masuk wilayah Indonesia dan bersembunyi di sini.
Selama pelaksanaan Pemilu Timor Leste sendiri, Pemerintah RI menyiagakan 1.000 personel
pasukan di perbatasan guna menghindari kemungkinan adanya aksi anarkis yang merambat ke
wilayah Indonesia.
Walaupun rakyat Timor Leste memutuskan berpisah dengan saudaranya provinsi
di Indonesia melalui referendum pada 30 Agustus 1999, kita tetap prihatin atas apa pun
yang menimpa negara itu, terlepas dari kepentingan keamanan.
Pasca-Pemilu Timor Leste pada 9 April lalu, tercatat dua nama yang bakal masuk putaran
II yaitu Jose Ramos Horta (Perdana Menteri Timor Leste) dan Francisco Guterres (Lu Olo).
Bagi Indonesia, siapa pun yang bakal terpilih nanti menjadi Presiden Timor Leste bukan
sebuah persoalan. Karena siapa pun pemimpinnya, sebagai negara tetangga Indonesia tentu
saja siap berhubungan dan bekerja sama dengan Timor Leste.
Tak kalah penting, harapan besar dari pelaksanaan Pemilu putaran II adalah bagaimana
negara itu bisa melalui fase penting dalam kehidupan bernegara dan berbangsa secara rukun
dan damai. Apalagi proses dan keberhasilan pelaksanaan pemilu adalah sebuah barometer bagi
terlaksananya kehidupan berdemokrasi di negara itu.
Meskipun sebagian masyarakat Timor Leste mengaku menyesali berpisah dengan NKRI, namun
bagaimana pun karena mayoritas rakyat bekas provinsi terakhir di Indonesia itu menghendaki
merdeka dan menjadi sebuah negara sendiri, itulah yang harus dihormati.
Seperti juga negara yang menjunjung tinggi nilai demokrasi, kita berharap semua rakyat
Timor Leste bisa menerima hasil pemilu tersebut. Kalah atau menang, toh semuanya
untuk negara dan rakyat. Timor Leste sudah kenyang dengan konflik. Bahkan sejak masih
bergabung dengan RI selama 23 tahun, tak pernah lepas dari masalah. Pengalaman masa lalu
ini seharusnya menjadi gambaran dan pijakan bagi rakyat Timor Leste, sebelum mereka
memutuskan dan mengambil tindakan.
Pada 8 Mei 2007, menjadi momentum paling menentukan bagi rakyat Timor Leste dalam
memaknai pilihan kemerdekaan yang telah mereka putuskan melalui referendum. Saat itulah
akan diketahui pemimpin baru Timor Leste yang lahir dari pemilu pertama. Sebagai
mantan saudara, kita berharap negeri itu mampu melalui tahap ini dengan aman
dan menghasilkan pemimpin yang mampu membawa negeri itu lebih baik dari sebelumnya.