Jakarta, BPost
Mayoritas kiai Nahdlatul Ulama (NU) tidak akan mengikuti Pemilu Presiden
(Pilres) 5 Juli mendatang. Sikap golput para kiai ini dilakukan jika calon presiden dari
PKB KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak masuk dalam daftar capres yang ditetapkan Komisi
Pemilihan Umum.
"Para kiai itu sudah mengancam kalau saya tidak jadi masuk daftar capres maka
mereka akan golput," ungkap Gus Dur di kantor Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu)
Jakarta, Kamis (13/5).
Saat ini saja, jelas mantan ketua PBNU itu, KH Ahmad Sofyan dari Situbondo, Jawa Timur,
sudah menyatakan golput. Dia khawatir sikap para kiai itu akan diikuti oleh para warga
nahdliyin.
Gus Dur sendiri telah terdaftar menjadi capres berpasangan dengan Ketua DPP Partai
Golkar Marwah Daud Ibrahim, sebagai calon wakil presiden (cawapres). Namun, langkah Gus
Dur bakal terhambat dua SK KPU; No 26/2004 dan No 31/2004 tentang syarat pencalonan dan
kesehatan jasmani dan kesehatan.
Upaya Gus Dur dan PKB mengajukan permohonan judicial review terhadap UU No
23/2003 telah ditolak Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA). MK menilai
persyaratan kesehatan capres dan cawapres tidak bertentangan dengan hak asasi manusia.
Sedangkan Ketua MA Bagir Manan menyatakan, keputusan MA mengenai uji materiil yang
diajukan PKB dan Gus Dur sudah final. "Keputusan MA sudah final. Ketua MA tidak punya
posisi hukum apa pun meninjau kembali keputusan majelis," ucap Bagir Manan.
Gus Dur juga kembali menegaskan bahwa dirinya tidak akan mendukung Partai Golkar dalam
pemilihan umum presiden dan wakil presiden mendatang. "Kalau saya izinkan adik saya
(Shalahuddin Wahid) menjadi calon (Cawapres) Golkar, bukan berarti saya mendukung,"
tegas dia.
Mengenai pernyataan Ketua Umum DPP PKB Alwi Shihab yang menyatakan partainya akan
mendukung pasangan Wiranto-Shalahuddin, menurut Gus Dur, bukan urusan dirinya. "Itu
urusan Alwi Shihab, bukan urusan saya," cetusnya.
Alwi yang kemarin ikut menemani Gus Dur, mengelak memberikan komentar. Sebelumnya,
mantan Menlu di masa Gus Dur berkuasa ini memang menyatakan PKB akan memberikan dukungan
kepada Golkar bila pencalonan Gus Dur ditolak KPU.
Yang menarik, Gus Dur menyatakan bahwa dirinya akan keluar dari PKB dan membentuk
partai baru. Sikapnya itu menyusul persoalan internal di tubuh PKB, terkait soal calon
legislatif.
Dilaporkan sejumlah calon legislatif PKB yang tak mendapat kursi tetap ngotot minta
tetap dilantik. Para caleg menilai, kegagalan mereka disebabkan susunan caleg yang tidak
benar. Karena itu, mereka meminta daftar caleg diubah.
"Kalau nanti lebih dari separo caleg PKB yang tidak jadi tetap minta dilantik
(menjadi anggota DPR), maka saya akan keluar dari PKB. Bikin partai baru namanya Partai
Demokrasi Bebas," tandas Gus Dur.
Cucu KH Hasyim Asyari pendiri NU ini, mengaku tidak takut akan kehilangan massa
NU. Kata dia, massa NU tetap akan berada di belakangnya. "Massa NU itu ikut saya kok,
nggak usah khawatir," ucapnya.
Alwi Shihab kembali menolak berkomentar mengenai pernyataan Gus Dur yang ingin
membentuk partai baru. Dia hanya mengatakan tetap akan mendukung Gus Dur. "Nanti saya
ikut di sana (PDB)," cetus Alwi.
Pernyataan Gus Dur untuk membentuk partai baru selain PKB bukan pertama kali
diungkapkan. Ketika sedang bersengketa dengan kubu Matori Abdul Djalil, Gus Dur sempat
mengganti nama PKB menjadi Partai Kebangkitan Nasional (PKN). Namun PKN tidak jadi
terbentuk karena MA memutuskan PKB versi Gus Dur adalah sah.
Dukung Mega-Hasyim
Sementara itu dukungan kalangan NU terhadap duet Mega-Hamzah terus mengalir. Yang
menarik, dukungan kalangan NU muda datang dari Kalimantan dan Sulawesi --yang justru bukan
basis massa NU.
Menamakan diri Barisan remaja Nahdlatul Ulama Bersatu (Baranusa), kelompok ini dengan
tegas memberikan dukungan terhadap KH Hasyim Muzadi menjadi cawapres mendampingi capres
PDIP, Megawati Soekarnoputri.
Baranusa secara resmi memberikan dukungan kepada Cak Hasyim pada tahap pertama ini
terdiri dari Zona Sumatra dan Kalimantan. Dalam waktu dekat juga akan disusul daerah
lainya, seperti Jawa, Sulawesi, Irian Jaya serta sejumlah daerah lainya.
Lembaga kepemudaan yang didirikan dua hari lalu dan berada di luar struktur NU, Kamis,
mengimbau seluruh remaja NU mendukung pasangan Mega-Hasyim dalam pemilu presiden 5 Juli
mendatang.
"Pasangan Mega-Hasyim merupakan respresentasi kelompok sipil berbasis
nasionalis-religius diharapkan mampu menjadi titik perekat antara-komponen masyarakat di
Indonesia," kata Ali Masdar Hasibuan, koordinator Baranusa.
Dalam deklarasinya kelompok ini menolak kembalinya kekuatan orde baru dan kepemimpinan
militerisme. Karena selama ini telah terbukti dalam sejarah bangsa melakukan penodaan
terhadap demokratisasi dan pelanggaran HAM.
"Maka kami sebagai kader NU perlu merapatkan barisan dan mengkonsolidasikan
kekuatan remaja NU untuk mendirikan Baranusa," tambah Sulanto, koordinator Baranusa
kalimantan Timur.
Ali mengelak jika dukungan itu dianggap perwujudan kembalinya NU kekancah politik. Ali
mengatakan Baranusa bukan termasuk di dalam struktur PBNU, tetapi berada di luar struktur
NU yang didirikan sebagai upaya menyikapi banyaknya kader NU yang menjadi capres maupun
cawapres.
Selain Cak Hasyim, ada nama Jusuf Kalla yang menjadi cawapres Partai Demokrat (PD),
Salahuddin Wahid yang digandeng Wiranto untuk memenangkan Partai Golkar, dan Ketua Umum
Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurahman Wahid (gus Dur).
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Ali Maschan Moesa mengharapkan warga
nahdliyin memberikan dukungan penuh pada figur yang paling berkeringat untuk NU, anti
korupsi dan memberikan keteladanan moralitas yang tidak diragukan lagi.
"Meski PBNU maupun PWNU tidak mengeluarkan tausyiah atau fatwa, nahdliyin mesti
memahami langkah yang diambil pimpinan tertinggi nahdliyin. Kita mesti makmum kepada
pimpinan yang akhlakul karimah. Siapa lagi kalau bukan KH Hasyim Muzadi," ujar Ali
Maschan, di Surabaya, kemarin. Mengenai tidak adanya restu dari Ketua Umum Dewan Syuro DPP
PKB KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atas pencalonan Hasyim, menurut Ali Maschan, hal itu
tidak perlu dipusingkan.
Di sisi lain, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia dalam pertemuannya di
Bandung, Kamis, menyatakan sikap menolak terhadap capres/cawapres yang akan mengikuti
Pilpres 5 Juli mendatang. Para mahassiwa menilai semua capres/cawapres tidak berpihak
kepada rakyat.
"Capres/cawapres lebih mengedepankan kekuasaan," kata anggota BEM
se-Indonesia yang juga Presiden Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM-ITB)
Annas Fadillah.
Annas menambahkan capres/cawapres itu tidak memiliki hati nurani untuk membela rakyat
yang sebaliknya lebih kepada kekuasaan. JBP/jho/k4/yls