GONG Piala Eropa 2004 tinggal selangkah lagi ditabuh. Enam belas tim terbaik
dunia pun telah menyiapkan diri untuk unjuk diri, siapa yang paling jago di jagad ini.
Tepatnya, 12 Juni 2004, perhelatan akbar dibuka di Stadion Dragao Porto Portugal.
Ketika itulah tim Seleccao Nacional mengawali laga dengan Yunani dan jutaan
publik dunia bakal tertuju ke rumput hijau di negeri yang masuk Semenanjung Liberia itu.
Sejarah pun bakal mencatat, Portugal kali pertama dalam 44 tahun sejarah Piala Eropa
dipercaya menjadi tuan rumah. Pilihan UEFA terhadap Portugal sungguh tepat di abad 21 ini,
di negara inilah gairah sepakbola terasa begitu hangat dan mendalam.
Akankah Portugal mampu membuktikan sebagai penyelenggara yang sukses, sekaligus keluar
sebagai tim terbaik dunia? Keyakinan dan kegamangan pun menyaput seantero Portugal.
Negeri berpenduduk 10.084.245 jiwa ini meyakini mampu menggelar turnamen bergengsi
Eropa. Chief Executive UEFA, Lars Christer Olsson percaya betul otoritas Portugal. Bahkan
konsep keamanan demi terciptanya situasi ideal dinilai sempurna, tak ada setitik lubang
pun yang bisa mengacaukan Euro 2004.
Hampir 99 persen infrasutruktur rampung. Di balik hasrat menyala-nyala ini, mencuat
pesimisme di kalangan publik Portugal. Sukses menggelar Euro saja, akan hambar jika Seleccao
gagal meraih juara. Gilberto Madail, bos FPF (PSSI Portugal) yang menjadi Chairman of the
Board Euro 2004 mengatakan, sia-sia tanpa trofi tertinggi di daratan Eropa.
Sudah setengah jalan tugas yang dilaksanakan Madail. Separo lagi harus diwujudkan Luiz
Felipe Scolari, Luis Figo. Manuel Rui Costa dkk di lapangan hijau. Mampukah Luis Figo
mewujudkan impian rakyat sekaligus mengangkat harkat Portugal di mata dunia?
Ketika hasil pengundian 30 November 2003 diumumkan, mayoritas penggila bola pesimis.
Mulai jurnalis hingga masyarakat awam setempat ragu Seleccao bisa melewati
perempatfinal. Prancis dan Inggris yang yang menghuni Grup B menjadi momok Portugal yang
berada di Grup A bersama Yunani, Rusia dan Spanyol.
Andai semua strategi Scolari mulus, di perempatfinal Portugal hampir pasti dihadang
David Beckham dkk dan tim biru-putih Prancis. Inilah momok Portugal. Memang, tahun ini
skuad Seleccao tak kalah jauh dengan Inggris maupun Prancis.
Perpaduan generasi Luis Figo, Rui Costa dan Vitor Baia yang disebut Gen Emas dengan
generasi platinum Deco, Cristiano Ronaldo maupun Ricardo Quaresma membangkitkan keyakinan
baru.
Momen Euro 2004 inilah kesempatan emas Luis Figo dkk membuktikan diri. Its now
or never! Generasi Figo telah membuktikan diri saat merajai kejuaraan dunia junior
(U-20) 1989 dan 1991. Hingga tahun inipun Figo masih bersinar di klub raksasa Real Madrid.
Minimal Semifinal
Satu-satunya kesempatan pembuktian di level senior, ya Euro 2004. Apalagi, medio
Euro 2000, Portugal yang mengawali laga cantik, akhirnya tersodok Prancis di semifinal.
Hanya kolaborasi Gen emas dan platinum lah yang potensial menjawab keraguan publik.
Faktor tuan rumah, bagaimanapun memberi kontribusi positif terhadap langkah Figo dkk.
Paling tidak bisa melewati sandungan di Grup A, meski eksistensi Spanyol tak bisa
disepelekan. Dari bioritmik prestasi Portugal, masih imbang dengan Spanyol dalam ajang
internasional.
Pertemuan terakhir di ajang Euro 1984 di Marseille, tim Samba Eropa ini menahan 1-1
Spanyol. Kini, skuad Seleccao boleh dibilang lebih baik dibanding Raul Gonzalez Cs,
peluang menjuarai Grup A pun terbuka lebar.
Di atas kertas Portugal cukup konfiden, tapi bagaimana kesiapan mental Figo dkk?
Kucuran dana 550 juta euro dari rakyat plus harapan juara, secara psikologis menjadi beban
berat. Kematangan generasi Figo memang tak diragukan, tapi debutan Ronaldo dan Deco?
Masih ada lagi, faktor lolos otomatis sebagai tuan rumah. Setidaknya, minimnya jam
tanding bakal mengurangi aroma ketatnya persaingan di kualifikasi. Mental tempur, terutama
pemain belia dalam tim pun belum teruji benar.
Pilihan meminang Scolari sebagai arsitek boleh dibilang jitu, harapnnya bisa membawa
Portugal juara, seperti saat mengantar Brasil merebut Piala Dunia 2002. "Saya tak
akan datang melatih Portugal jika berpikir tak bisa membawa tim ini ke final," tegas
Scolari, kemarin.
Sayang, optimisme Scolari tak dikuatkan bukti. Saat uji coba melawan Spanyol, Seleccao
malah dibantai 3-0. Ramuan Scolari bermain cantik, menyerang dan bertahan frontal, belum
terlihat betul dalam tim.
Mencermati peta kekuatan bola Eropa dan aral Seleccao, Portugal akhirnya hanya mematok
target minimal empat besar. Scolari diminta mengantar Luis Figo dkk mencapai semifinal di
arena Euro 2004 yang berlangsung 12 Juni-4 Juli itu. "Hasil minimum yang saya cari,
babak empat besar. Jika kami dapat mewujudkan, saya akan bahagia," pungkas Scolari. ban/bv/go/bbl