Sampit, BPost
Sejumlah rumah bekas panti pijat serta kafe di kawasan Bundaran KB Jalan HM
Arsyad, Sampit, diduga berfungsi ganda.
Sepertinya kejadian memilukan beberapa waktu lalu tidak menjadi pelajaran berarti bagi
pemilik kafe atau panti pijat. Beberapa tahun lalu di kawasan itu tepatnya di
Karaoke Giza yang kini berubah menjadi kafe sempat diserang sejumlah massa
bertopeng. Mereka membakar tempat hiburan itu hingga tiga wanita di dalamnya tewas
terpanggang.
Setelah peristiwa itu, kawasan yang diduga sebagai lokasi prostitusi ini sempat tutup
beberapa tahun.
Namun belakangan, di lokasi itu banyak berdiri rumah yang dijadikan panti pijat plus.
Ini seiring dengan diperbolehkannya pengusaha hiburan untuk beroperasi, namun bukan untuk
kareoke tetapi kafe.
Terkuaknya kabar fungsi ganda itu sempat menimbulkan protes warga setempat. Bahkan
sejumlah warga sempat melakukan protes ke Kantor Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK)
atas menjamurnya lokasi prostitusi terselubung yang berkedok kafe atau panti pijat.
Kepala Kantor Kesatuan dan Persatuan Bangsa Kotim Asyikin Arfan membenarkan tentang
kesepakatan atas penutupan sejumlah lokasi panti pijat di beberapa lokasi di Sampit.
Dikatakan, munculnya informasi sejumlah panti pijat yang berfungsi ganda itu atas
protes yang disuarakan sejumlah warga ke Kantor Kecamatan MBK.
Terhitung sejak rapat tersebut, katanya, secara total sejumlah lokasi panti pijat di
lokasi dinyatakan terlarang untuk beroperasi. Komandan Satpol PP Pemkab Kotim Djohan
Arifin kepada BPost mengatakan, sejak keluarnya larangan dibukanya usaha panti
pijat, dirinya bersama anak buahnya terus melakukan penertiban di beberapa lokasi.
Beberapa hari setelah ditertibkan, katanya, sejumlah rumah yang digunakan untuk usaha
panti pijat terlihat tidak lagi beroperasi. Bahkan, papan nama panti pijat pada
rumah-rumah tersebut juga telah dicopot karena takut terkena penertiban.
Namun pantauan BPost di beberapa lokasi, terutama di kawasan Bundaran KB Sampit
hingga kini sejumlah rumah dan kafe masih difungsikan secara ganda. Di dalam rumah masih
terlihat sejumlah wanita yang diduga sebagai PSK.
Seorang warga Sampit, Ferri mengatakan modus operandi usaha terselubung itu biasanya di
depan rumahnya tersedia warung penjual minuman. Kepada tamu sipemilik menawarkan minum
sekaligus menawarkan pijat plus dengan harga antara Rp50-100 ribu. Untuk kelas kafe lebih
tinggi berkisar antara Rp100-300 ribu. tur