Samarinda, BPost
Samarinda, ibukota Propinsi Kalimantan Timur yang akhir-akhir ini menjadi
langganan banjir, tahun depan situasinya akan menjadi lebih parah lagi yakni terancam
tenggelam, karena berdasarkan perkiraan BMG setempat curah hujan akan lebih besar dari
sekarang yang sempat mengakibatkan banjir dibeberapa kawasan kota.
Wakil Ketua DPRD Kaltim Drs H Kasyful Anwar Asad mengatakan banjir memang menjadi
ancaman serius bagi Kota Samarinda, dan kalau tidak ditangani mulai sekarang maka tahun
depan kota ini terancam akan tenggelam.
"Saya selaku anggota DPRD Kaltim telah mengusulkan kepada Gubernur Kaltim agar
membantu Pemkot Samarinda sebesar Rp50 miliar melalui dana tak terduga yang juga masuk
APBD, karena Pemprop tidak bisa lepas tangan menghadapi kendala yang dihadapi Samarinda
ini," tegas Kasyful Anwar yang dihubungi di Samarinda, Rabu (12/5).
Wakil Ketua DPRD dari Golkar itu mengungkapkan dana tersebut memang ada dan biasanya
digunakan untuk program kemanusiaan, dan masalah banjir ini juga termasuk masalah
kemanusiaan, sehingga tinggal menunggu kebijaksanaan Gubernur Kaltim untuk
mengeluarkannya.
Kasyful Anwar yang dalam pemilu 2004 tidak terpilih lagi sebagai anggota DPRD Kaltim
itu menyatakan, pihaknya berjuang dengan serius agar Gubernur Kaltim dapat membantu Pemko
Samarinda tersebut, apalagi Samarinda adalah ibukota Kaltim dan pusat pemerintahan
propinsi ini dan DPRD Kaltim akan siap menyetujui setiap usulan Gubernur untuk penanganan
banjir tersebut.
Walikota Samarinda Drs H Achmad Amien MM juga berjuang melalui DPRD Kota itu agar bisa
mengalihkan dana anggaran proyek tahun 2004 yang tidak mendesak untuk penanganan masalah
banjir di kota tersebut.
"Penanganan banjir ini memang sangat mendesak dan perlu biaya yang sangat besar,
langkah yang berani dan serius perlu diambil kalau tidak ingin terjadi penyesalan yang
berkepanjangan, dan langkah itu perlu dilakukan mulai sekarang," tandas Walikota
Samarinda.
Infromasi lain yang diperoleh dari Samarinda menyebutkan, banjir yang terjadi di
Samarinda sejak Jumat (7/5) lalu hingga Rabu (12/5) menjadikan kampus FKIP (Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan) serta FPIK (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan)
Universitas Mulawarman di Gunung Kelua terendam air dan situasi ini sangat menggangu
aktifitas perkuliahan. ms