Jakarta, BPost
Selangkah lagi Tim Thomas Cup Merah Putih menapak ke final. Optimisme baru ini
ditiup publik Indonesia untuk mendongkrak moral Taufik dkk yang meladeni perlawanan
Denmark dalam partai semifinal di Istora Gelora Bung Karno, Jumat (14/5) ini.
Harapan masyarakat tak berlebihan, jika dibuka catatan prestasi Thomas Indonesia saat
menghadapi Denmark. Semifinal hari ini, mengulang Thomas Cup 2002 di Guang Zhou dan Kuala
Lumpur 1998.
Dari laga itu, Merah Putih unggul, selalu menang telak 3-0.
Bekal positif lainnya, head to head Taufik dkk lebih baik. Dari 9 pertemuan,
Indonesia juga selalu unggul. Modal itulah yang membuat publik optimis Indonesia bisa
melaju ke final.
"Permainan yang diperlihatkan anak-anak saat menghadapi Malaysia sudah bagus.
Tetapi menghadapi Denmark harus ditingkatkan lebih baik lagi," ujar Christian
Hadinata, Manajer Tim Merah Putih, Kamis (13/5).
Ia membandingkan Malaysia dengan Denmark. Kekuatan Denmark dinilai merata, baik tunggal
maupun ganda sehingga tak boleh dipandang remeh. Peter Gade dkk pun memiliki peringkat
lebih baik ketimbang Indonesia.
Di tunggal, Denmark punya Peter Gade yang menghuni peringkat 5. Ganda pun ada Lars
Paaske/Jonas Rasmussen yang menempati peringkat 1 IBF.
"Melihat kenyataan ini, kita bisa berharap kejutan Simon Santoso. Di tunggal
ketiga Denmark kekuatannya seimbang dengan kita. Di sinilah Simon harus membuktikan diri
yang terbaik," ulas Christian.
Direktur Pelatnas ini mencermati performance Simon dalam dua penampilan perdana
belum menunjukkan peak permainannya. Baru saat melawan Selandia Baru, ia mulai
menemukan bentuk permainannya.
"Memang lawannya juga jauh dari dia, tapi permainan Simon seperti itulah
seharusnya. Ini nanti yang harus ditampilkan saat melawan Denmark. Saya yakin bakal ramai
nanti," tegasnya.
Mengenai labilitas permainan Simon, Joko Suprianto maklum. "Saya mengerti ini
turnamen pertama Simon. Umurnya masih muda, tapi saya punya harapan dia jadi pemain kunci
saat menghadapi Denmark," ujarnya.
Tak beda jauh kendala yang dihadapi ganda Luluk Hadiyanto/Alven Yulianto. Kurang greng-nya
tampilan Luluk/Alven, menurut Bambang Pamungkas, pelatih ganda, karena ada tekanan
psikologis. Beda dengan Flandy Limpele/Eng Hian yang justru tampil lepas.
"Ini kami evaluasi dan sampai sekarang belum diputuskan pasangan terbaik mana yang
diterjunkan nanti. Apakah kita turunkan Trikus/Chandra atau Flandy/Eng di ganda pertama,
lihat saja nanti," tandas Bambang.
Kemenangan 3-1 atas Malaysia di perempatfinal merupakan buah strategi menyimpan tenaga
yang diterapkan Taufik dkk saat melawan China di babak pertama. Christian blak-blakan
mengakui saat dibabat China 5-0, Indonesia diminta santai saja.
Taktik ini untuk menyimpan tenaga saat playoff. Skenario inipun berhasil, dua
tunggal utama Sony dan Taufik bisa menghempaskan Malaysia Wong Choong Hann dan Mohammad
Roslin Hashim. Memang, penampilan mereka amat beda dibanding melawan China.
Lalu, bagaimana persiapan kubu Denmark? Manager Tim Denmark, Flemming Wiberg memilih
merendah menjelang menghadapi Taufik dkk. "Indonesia adalah tim yang lebih berat bagi
kami. Kami harus menurunkan pemain terbaik untuk memenangkan pertandingan di semifinal
nanti," tutur Flemming.
Denmark pun tak mencemaskan garangnya penonton istora. "Soal penonton di sini,
kami tidak ada masalah. Satu alasan kami mau datang ke sini, karena penontonnya. Di sini
merupakan tempat terbaik untuk penyelenggaraan Thomas," kata Flemming, ramah. emj