BUKAN rahasia lagi jika tingkat kepercayaan masyarakat pada pola
konsumsi daging dan produk olahan ternak unggas juga daging merah lainnya menurun. Ini
akibat maraknya penyakit flu burung juga penyakit sapi gila yang mematikan.
"Ketakutan yang berlebihan pada produk hasil olahan ternak sebenarnya tidak
perlu. Asal dengan prinsip kita sebagai konsumen waspada dan jeli dalam memilihnya. Nah,
kalau standar mutunya sebenarnya Peternakan telah memiliki standar yakni, lebih baik
memilih daging Asuh," ungkap Dr drh Denny W.Lukman MSi dari Laboratorium Kesehatan
Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, berbicara saat
Sosialisasi Daging Asuh, Rabu (12/5).
Apakah yang dimaksud dengan daging Asuh? Kepada ratusan peserta yang sebagian besar
kaum ibu, karena memang acara ini merupakan gelaran hasil kerjasama Departemen Peternakan
Kalsel dan Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Kalsel, Denny menjelaskan daging yang
termasuk bahan pangan asal hewan sebaiknya sebelum dikonsumsi dapat memenuhi syarat aman,
sehat, utuh dan halal.
Lebih jauh pria berperawakan gemuk ini memaparkan, bahwa kategori aman yakni jika
pangan tidak mengandung bahan yang dapat mengganggu atau membayahakan kesehatan manusia.
Kemudian, daging harus layak dikonsumsi yang berada pada suatu kondisi atau keadaan pangan
tidak menyimpang dan dapat diterima oleh konsumen (tidak rusak, kotor, jijik, atau bau).
Di Indonesia, dimana penduduk yang mengkonsumsi daging mayoritas muslim, maka ditambah
satu syarat halal dimana hewan sebelum disembelih memenuhi syarat sesuai dengan syariat
Islam.
Hal tersebut disyaratkan demi menjaga mutu gizi para konsumen, terutama mereka yang
masih berada pada usia pertumbuhan. Tidak hanya daging, bahan atau produk olahan ternak
yang lain pun tak luput dari slogan Asuh ini. Dengan memilih susu juga telur yang memenuhi
kriteria tersebut, nilai gizi tinggi yang terdapat di dalamnya seperti protein, lemak,
vitamin, mineral dan karbohidrat juga kandungan asam amino esensial diharapkan tak hilang,
mengingat zat-zat tersebut sangat dibutuhkan tubuh karena tidak diproduksi dalam tubuh.
Di sisi lain, bahan-bahan pangan tersebut mudah rusak atau termasuk makanan yang masuk
dalam perishable food. Disenangi oleh kuman-kuman, sehingga berpotensi berbahaya
atau Potentially Hazardous Food/PHF akan kuman, parasit, residu antibiotik, residu
hormon dan cemaran logam.
Daging merupakan semua bagian hewan yang disembelih yang aman, layak dan lazim dimakan
oleh manusia. Termasuk di dalam daging kalau di Indonesia otot dan jeroan, sehingga daging
sama dengan otot. Kualitas daging dipengaruhi oleh faktor-faktor sebelum, selama dan
setelah proses pemotongan.
Bisa dilihat dari warna. Ini menjadi salah satu kriteria utama yang diperhatikan
konsumen pada saat pembelian. Warna daging segar yang disukai konsumen warna cerah. Daging
dengan warna gelap dinilai oleh konsumen sebagai daging yang telah disimpan lama dan telah
mengalami pembusukan. Juga dapat dicermati dari warna bagian daging yang belum terpapar
(expose) oleh udara (oksigen) merah keunguan; jika telah terpapar oleh udara selama
beberapa menit 915-30 menit) akan berwarna merah cerah.
Bagaimana Menyimpannya?
Di zaman sekarang, fungsi lemari pendingin sedemikian pentingnya. Kebanyakan para ibu
rumahtangga yang aktif tak ingin repot dan lebih mempercayakan bahan makanannya disimpan
di lemari es demi menjaga kesegarannya. Namun tahukah Anda, bahwa tidak sembarang
penyimpanan dapat kita lakukan, karena bukan tidak mungkin Anda justru tidak mendapatkan
nilai gizi yang Anda harapkan karena penyimpanan yang Anda lakukan salah.
Perhatikan masa simpan bahan makanan pada suhu pendingin sesuai dengan jenis
makanannya. Simpanlah daging, telur dan susu pada suhu di bawah 5 derajat celcius, dengan
masa penyimpanan 3-7 hari. Hal yang sama dapat Anda berlakukan pada sosis segar dan ikan
segar dan daging yang digiling. Bagaimana dengan daging ayam? Sebaiknya simpan pada suhu
-1 sampai 2 derajat celcisu, tak lebih dari 2 hari. Telur dengan kulit utuh simpan pada
suhu 1 sampai 5 derajat celcius, dan masih dapat dikonsumsi pada penyimpanan 2 minggu.
Juga susu pasteurisasi, selama 10 hari pada suhu yang sama.
Dinginkan bahan makanan sesegera mungkin. Sebaiknya didinginkan atau diturunkan suhunya
dari 60 derajat celcius menjadi 21 derajat celcius dalam waktu 2 jam. Selanjutnya dari
suhu 21 derajat celcius menjadi 4 derajat celcius dalam 4 jam.
Bahan makanan beku disimpan pada suhu di bawah 18 derajat celcius harus dikemas baik.
Anda mencairkan bahan makanan beku (frozen food) sebaiknya dicairkan dalam kulkas,
microwave, atau dimasak langsung, pada air mengalir (suhu air kurang dari 21 derajat
celcius).niz