| Tarakan, Surga Atau Neraka
Judul: Tarakan "Pearl Harbor" Indonesia (1942-1945)
Penerbit: PT Primamedia Pustaka
Penulis: Iwan Santoso
Cetakan I: Maret 2005
Halaman: 190 halaman
Keadaan industri minyak Tarakan adalah salah satu pemicu Perang Pasifik yang
terabaikan. Fakta sejarah ini terkubur oleh sudut pandang sejarah Perang Dunia II dari
sisi Amerika.
PULAU Tarakan di Kalimatan Timur bisa disebut
sebagai "Pearl Harbour"-nya Indonesia. Drama pertempuran berdarah yang terjadi
di pulau kecil ini adalah bagian penting sejarah Indonesia. Tetapi, sejarah itu terlupakan
begitu saja.
Buku ini menceritakan situasi Tarakan antara tahun 1942 hingga 1945, ketika pasukan
Jepang berhasil merebut pulau ini dari tangan kolonialis Belanda.
Tarakan pun kembali berdarah-darah dan bagaikan neraka, ketika pasukan sekutu merebut
kembali pulau ini yang baru saja dikuasai Jepang selama beberapa tahun.
Penulis menceritakan kisah pertempuran antara kedua pasukan secara detil. Seakan ia
hadir di tengah-tengah medan laga, sehingga dapat melaporkan secara gamblang pertempuran
demi pertempuran. Berikut pula kisah-kisah keseharian serdadu yang turut bertempur di
pulau ini.
Pembahasan Perang Pasifik selama ini hanya seputar Pearl Harbor, perebutan Iwo Jima,
kembalinya MacArthur ke Philipina, hingga bom atom Hirosima dan Nagasaki. Sejarah ala
Paman Sam ini menggambarkan Amerika bangkit dari korban kekejaman agresor menjadi pahlawan
perang.
Buku ini bisa menjadi pelengkap buku-buku pelajaran sejarah yang telah ada, sekaligus
mempertautkan kembali rangkaian sejarah Nusantara yang terlupakan.
Tarakan adalah daratan pertama Nusantara yang diserbu bala tentara Jepang pada dini
hari, 11 Januari 1942. Diawali dengan serangan udara pesawat Jepang terhadap posisi
pertahanan pasukan Belanda yang lebih dahulu menguasai di sana.
Sekitar 20 ribu serdadu Kekaisaran yang dimotori Pasukan Kure, pasukan elit angkatan
laut Jepang, mendarat di pantai timur Tarakan dalam dua kelompok.
Pihak Belanda berusaha bertahan, meski tanpa harapan untuk bisa mengusir tentara Nipon.
Bermodalkan 1.300 serdadu Batalion VII KNIL, segelintir kapal perang ringan, pesawat
tempur dan bomber.
Tak ketinggalan, para pegawai perusahaan minyak BPM (Bataafsche Maatschapij) juga
dilibatkan sebagai milisi untuk membantu tentara Belanda.
Pulau kecil yang kaya minyak itu pun akhirnya bagaikan neraka. Sebelum pasukan Jepang
mendarat, terlebih dahulu tentara Belanda membakar ladang-ladang minyak di Tarakan agar
lawannya tidak mendapatkan pasokan bahan bakar.
Dalam pertempuran tak seimbang itu, Belanda akhirnya kalah telak. Sebagian tentaranya
tewas terbubuh, dibunuh dan lainnya menjadi tawanan. Tak sedikit pula korban di pihak
sipil.
Pada gilirannya terjadilah balas dendam terhadap Jepang. Lagi- lagi Tarakan menjadi
neraka. Pasukan sekutu yang berintikan tentara Australia dengan bantuan Amerika Serikat
(AS) mulai menggempur posisi Jepang di Tarakan.
Demikianlah perang Tarakan seolah terlupakan. Menjelang Perang Pasifik berakhir, tepat
1 Mei 1945, Tarakan digempur oleh 20 ribu serdadu Australia melawan 2.000 angkatan laut
Jepang. Drama kemanusiaan babak kedua terjadi di sana.
Gempuran pasukan sekutu terhadap pasukan Jepang, secara simultan juga dilakukan di
wilayah-wilayah yang dikuasi, mulai dari Malaya, Pattani, Philipina, Hongkong sampai
wilayah Jepang sendiri. Hal ini menyebabkan bantuan dari negara induknya semakin sulit.
Pasukan Jepang di Tarakan pun harus berjuang sendiri di tengah gempuran pasukan Australia
yang telah lama menyimpan dendam kesumat. Pasukan sekutu yang sebelumnya berhasil diusir
Jepang dari berbagai wilayah pendudukan di Asia, kembali bangkit.
Di Tarakan, pasukan Jepang tidak hanya kalah jumlah, tetapi teknologi persenjataan juga
sudah ketinggalam dari yang dimiliki pasukan sekutu. Tetapi, jiwa patriotisme tentara
Jepang yang pantang menyerah terhadap lawan, menjadikan di pihak tentara Australia banyak
jatuh korban.
Sampai berakhirnya perang di Tarakan, lebih dari 2.000 tentara dari berbagai
kebangsaan, tewas di sana. Dari pihak Australia, sekitar 230 tentaranya tewas dan
dimakamkan di Tarakan. Ini merupakan sebuah tragedi bagi negeri Kangguru itu.
Kabar memilukan bagi rakyat Australia terjadi ketika Letnan Thomas Derrick tewas di
tangan penembak gelap tentara Jepang yang bersembunyi di hutan belantara Tarakan.
Derrick dikenal sebagai sosok pemberani, pernah bertempur di Afrika, Papua, dan
akhirnya gugur di Tarakan menjelang perang dunia kedua berakhir.
Korban dari pihak Jepang sendiri juga cukup besar. Tercatat lebih dari 1.500 prajurit
Jepang tewas saat merebut Tarakan dari tangan Belanda hingga pertempuran terakhir dengan
pasukan Australia. Tarakan, sebuah pulau kecil yang kaya minyak. Tarakan pernah menjadi
surga bagi kolonialis Belanda. Dari perut bumi Tarakan, selama bertahun-tahun
Belanda mengisap kekayaan alam yang melimpah di sana. Begitu juga Jepang tatkala berhasil
merebut pulau itu.
Namun, Tarakan juga pernah menjadi neraka bagi mereka tatkala
mempertahankan pulau ini. Tarakan pernah menjadi ladang pembantaian bagi kedua pasukan.
Lantas akankah kawasan perairan timur Kalimantan di sekitar perairan Tarakan akan kembali
membara. Kawasan ini tiba-tiba kembali memanas menyusul sengketa di perairan Blok Ambalat
yang kaya minyak, antara Indonesia dan Malaysia.
Perairan timur Kalimantan, termasuk Tarakan, memang telah lama diketahui sebagai sumber
minyak bumi yang menggiurkan siapa saja.
Keadaan industri minyak Tarakan adalah salah satu pemicu Perang Pasifik yang
terabaikan. Fakta sejarah ini terkubur oleh sudut pandang sejarah Perang Dunia II dari
sisi Amerika.
Kepulauan Nusantara, termasuk Asia Tenggara, pada dekade 1930- 1940 merupakan sumber
utama bahan mentah bagi negara industri kapitalis Barat maupun Jepang. Bahan mentah,
terutama pasokan bahan bakar minyak sangat vital bagi industri dan mesin perang mereka di
Asia-Pasifik.
Tak pelak lagi, konfrontasi berujung pada perang terbuka di Pasifik memang ditujukan
untuk menguasai sumber daya alam, terutama minyak. Sasaran utama tersebut meliputi
ladang-ladang minyak di Kalimantan Timur, Palembang di Sumatera dan Cepu di Jawa Tengah.
Akankah kawasan perairan timur Kalimantan akan menjadi medan pertempuran
kembali oleh kaum industri-kapitalis untuk mendapatkan pasokan minyak dari wilayah ini.
Akankah pula kawasan ini menjadi neraka kembali ketika sengketa Blok
Ambalat harus diselesaikan dengan cara-cara konfrontasi. palopo abdurahman |