Jakarta, BPost
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Kamis (26/5), mendadak menghentikan
kegiatannya sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Penutupan kedubes AS dilakukan
menyusul informasi intelijen bahwa kelompok teroris akan meledakkan sejumlah fasilitas AS
di Jakarta.
Sementara Brigade Istimata Internasional (BII) melalui situsnya, www.istimata.co.nr.,
kemarin, mengancam meledakkan Kedubes AS di Jakarta. Kelompok Islam garis keras paling
anti-AS dan Yahudi ini mengaku telah menyiapkan bahan peledak TNT seberat 150 Kg. Mereka
juga akan menggunakan pelontar granat SPG 7/SPG 8.
Kapolri Jenderal Dai Bachtiar mengakui adanya deteksi intelijen bakal ada
serangan dengan sasaran Kedubes AS dan di Jakarta. Namun Dai menolak membeberkan
detail ancaman teror.
"Perkembangan terakhir, memang ada petunjuk bahwa mungkin akan melakukan
penyerangan lagi. Tapi ini masih dalam analisis kita," jelas kapolri kepada pers, di
Mabes Polri, kemarin.
Bocoran intelijen Polri inilah yang menjadi salah satu alasan tutupnya Kedubes dan
Konjen AS diduga mengantisipasi aksi serangan bom kelompok Azahari cs. Termasuk pula
ancaman serangan Brigade Istimata Internasional (BII) melalui rilisnya di internet.
Kapolri mengakui pihaknya telah memberikan informasi intelijen itu kepada Kedubes AS di
Jakarta mengambil langkah-langkah agar sementara waktu tidak melakukan pelayanan.
Dan, terhitung sejak kemarin, seluruh kantor milik pemerintah AS yang ada di Indonesia
ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan menyusul adanya ancaman. Kedubes AS juga
telah mengingatkan warganya kemungkinan serangan teroris di Indonesia.
"Serangan itu bisa terjadi kapan saja dan langsung menyerang kepentingan maupun
fasilitas milik AS," kata satu pejabat di Kedubes AS.
Ditambahkan Dai, kelompok Dr Azahari dimungkinkan akan kembali melakukan
serangkaian penyerangan di wilayah Indonesia, khususnya Jakarta. Indikasi ancaman
penyerangan, menurut dia, tercium dari adanya komunikasi antaranggota kelompok Azahari.
"Mengenai keberadaan mereka (kelompok Azahari), sejauh ini kami belum
mengetahuinya," aku kapolri.
Sehari sebelumnya, kapolri mengisyaratkan Dr Azahari dan Noordin M Topp bersama
kelompoknya bersembunyi di Kalimantan Timur. Bahkan, Dai menyebut kelompok buronan
paling berbahaya ini tengah menyiapkan serangan bom di Bontang, dan sejumlah kilang-kilang
minyak di daerah tersebut.
Target
Sementara itu Brigade Istimata Internasional telah membuat peta sasaran serangan di
Kedubes AS. Namun, ketika situs itu dibuka, gambar atau sketsa peta sasaran sudah dihapus.
Namun dalam keterangan tertulisnya, ruangan Dubes AS yang berada di tengah diplot menjadi
titik sasaran aksi syuhada. Namun, ini tidak mungkin dilakukan. Serangan bisa dilaksanakan
melalui pintu masuk sebelah security desk, atau lewat area parkir
Penggunaan rompi bom juga tidak mungkin dilakukan karena terdapat metal detector pada
pintu masuk, dan termal detector. Sehingga cara efektif yang mungkin bisa dilakukan dengan
menggunakan pelontar granat SPG7/SPG8 dengan menerobos area parkir dan meledakkannya di
sisi gedung yang bersebelahan dengan ruang duta besar
Penggunaan bom syuhada bisa dilakukan bilamana digunakan bahan bakar campuran rodex dan
TNT seberat 150 Kg (blasting impact mencapai lebih dari 30 meter)
Pengamat intelijen Dynno Cressbon dihubungi BPost mengatakan, kelompok yang
mengatasnamakan Brigade Istimata Internasional (BII) sudah lama mengincar kantong diplomat
Amerika Serikat.
Namun, sebut Dynno, meski kelompok ini sudah sudah melempar rilis melalui internet, apa
yang mereka lakukan itu baru sebatas rumors.
"Dalam rumors itu banyak syarat dengan apa yang dinamakan desepsi atau penyesatan.
Saya menganggap rilis ini adalah bentuk rumors yang bermaksud melakukan penyesatan
terhadap sasaran utama dan sekunder. Jadi ini bagian dari perang urat syaraf," jelas
dia.
Penjagaan diperketat
Menyusul adanya ancaman serangan bom, penjagaan di kantor Kedubes AS di Jalan Medan
Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, diperketat. Berdasarkan pantauan BPost, satu unit mobil
pengendali huru-hara Polri disiagakan di depan Kedubes AS.
Sementara puluhan polisi yang diangkut menggunakan dua truk juga disiagakan. Situasi di
depan Kedubes AS sendiri tampak normal. Kedubes AS sendiri mulai kemarin telah menutup
aktivitas pelayanan umum untuk sementara dengan alasan keamanan.
"Untuk sementara kami menghentikan pelayanan umum disebabkan sejumlah alasan
keamanan. Tidak hanya kedutaan, beberapa kantor perwakilan kami di Surabaya, Medan dan
Bali juga tutup," kata Atase Pers Kedubes AS, Max Kwak, kepada wartawan.
Sensitif
Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla dapat memahami mengapa pemerintah AS sangat
reaktif menanggapi ancaman serangan bom yang bersumber dari e-mail dan telepon
selular.
Menurut Kalla, penutupan sementara Kedubes dan Konjen AS adalah reaksi dari sebuah
negara yang memiliki sensifitas tinggi karena pengalaman pernah mendapat teror.
Wapres membantah peristiwa ini terkait kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke
AS. Kata Kalla, penutupan Kedubes dan Konjen AS sering kali dilakukan, sehingga hal ini
adalah kebetulan.
"Tahun ini saja sudah tiga-empat kali terjadi, jadi kebetulan saja presiden ada di
sana. Mereka memiliki sensitifitas yang khas, mereka ingin zero risk, di seluruh
dunia juga begitu, di Manila, di Arab Saudi," ungkapnya.
Pengamat intelijen mencurigai, isu ancaman serangan bom oleh kelompok Dr Azahari
sengaja dihembuskan AS dengan tujuan menggagalkan usaha Presiden Yudhoyono yang berusaha
melobi pencabutan embargo peralatan militer AS ke Indonesia.
"Manullang menduga isu itu sudah dirancang AS dan sengaja dihembuskan ketika
Presiden Yudhoyono dijadwalkan berkunjung ke negeri Presiden George W Bush itu.
"Dengan menghembuskan isu itu, maka embargo senjata terhadap RI tidak akan dicabut.
Itu maunya AS," tegas kepada BPost, kemarin.
Kecurigaan adanya unsur politis dibalik isu bom Azahari itu juga tampak dari pernyataan
jurubicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Tjiptono. Tjiptono mengaku heran dengan
hembusan isu yang terkesan tanpa sumber yang jelas tersebut.
"Kita sudah cek ke birokrasi dan BIN. Nggak ada indikasi ancaman bom,"
cetusnya. Dia malah mencurigai, jangan-jangan Kedubes AS ditutup atas instruksi langsung
dari Washington, dan bukan berdasar masukan intelijen.
Jurubicara Deplu RI Marty Natalegawa juga menyesalkan kebijakan penutupan Kedubes dan
Konsulat AS yang tak jelas alasannya itu. JBP/abs/ugi