KAMIS pagi pukul 09.00 WIB muncul rilis di internet istimata.co.nr
tentang rencana pengeboman Kedubes Amerika Serikat oleh Brigade Istimata Internasional
dengan menggunakan 150 Kg TNT dan alat pelontar granat. Biasanya, rumor prateror, misalnya
dua bulan sebelum bom Bali, juga muncul rilis mengatasnamakan Istimata Internasional.
Mereka menyatakan mau melakukan serangan terhadap fasilitas Amerika Serikat di Indonesia.
Enam bulan kemudian mereka melakukan serangan di Konsul AS di Bali dan Padies Cafe.
Kali ini mereka melakukan hal yang sama. Jadi dengan adanya ancaman ini pihak diplomat
Amerika menutup semua kantong diplomat di Indonesia, karena rilis semacam ini sudah yang
kali kedua setelah ancaman mereka terbukti di Bali.
Soal seberapa besar kemungkinan ancaman itu menjadi kenyataan, seperti yang saya
sampaikan kemarin bahwa tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukan serangan bulan
depan. Apakah mereka berhasil menjebol benteng pertahanan Kedubes AS, menurut saya sampai
saat ini para teroris belum mampu menembus perisai keamanan dan security dari
kantong diplomat AS dan jaringan bisnisnya di Indonesia.
Kalau sampelnya mereka berhasil meledakkan bom di Renon, Bali, itu jaraknya 500 meter
dan low exsplosive. Saya termasuk yang meragukan bahwa kelompok yang
mengatasnamakan dirinya Istimata akan memilih sasaran kantong diplomat AS. Istimata ini
bukan kelompok iseng, melainkan kelompok yang serius. Ancaman ini sengaja dibuat untuk
memperkenalkan pola serangan mereka kepada target.
Artinya, mereka selalu mengklaim bahwa urusan mereka adalah bagaimana mereka menyerang
kepentingan AS dan kepentingan Yahudi di Indonesia.
Istimata dalam Bahasa Arab dikenal dengan apa yang disebut syuhada atau orang yang
mengorbankan diri atau jiwa ke dalam peperangan untuk membangkitkan semangat perang Islam.
Mereka biasanya menamakan diri Brigader Martis Istimata. Sampai saat ini gerakan mereka
sulit diidentifikasi dan dikaitkan aparat ke Imam Samudera atau kelompok Jihad Islam (JI).
Menurut aparat intelijen mereka ini adalah bagian dari sel JI.
Apakah ancaman ini terkait kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Amerika?
Saya pikir kedatangan Yudhoyono itu bisa dimasukan ke dalam setting dengan apa yang
disebut top event moment atau momen paling puncak. Dan, ancaman ini tak terkait
seorang wanita Indonesia awal Maret lalu yang mengancam meledakkan sebuah gedung sekolah
di Virginia. JBP/bec