LUAR biasa apa yang dipertontonkan Liverpool. The Reds membalikkan semua
prediksi yang menjagokan AC Milan di final Liga Champions 2004-2005 di Stadion Ataturk
Olimpiyat, Istanbul, Turki, Kamis (26/5) dinihari Wita setelah Steven Gerrard dkk menang
6-5 melalui adu penalti.
Pemenang pertandingan harus ditentukan lewat drama penalti setelah kedua tim bermain
imbang 3-3 selama 90 menit. Pada perpanjangan waktu 2x15 menit, skor imbang ini tidak
berubah.
Milan unggul dulu 3-0 di babak pertama melalui Paolo Maldini di menit pertama dan dua
gol Hernan Crespo menit 39 dan 44.
Di babak kedua, hanya dalam tempo 6 menit, Liverpool mampu menyamakan kedudukan melalui
Steven Gerrard menit 54, Vladimir Smicer menit 56, dan penalti Xabi Alonso menit 60.
Di drama adu penalti, kiper Liverpool, Jerzy Dudek, menjadi bintang setelah
menggagalkan dua tembakan eksekutor Milan, Andrea Pirlo dan Andriy Shevchenko. Eksekutor
lainnya yang gagal adalah Serginho. Dua lainnya, Jon Dahl Tomasson dan Kaka sukses.
Bagi Sheva kegagalan ini merupakan pukulan telak, sebab dua tahun lalu, dia jadi
bintang I Rossoneri ketika mengalahkan Juventus di final Liga Champions 2002-2003
melalui adu penalti.
"Saya sangat yakin bakal bikin gol di upaya yang kedua. Saya menendangnya dengan
keras. Tapi mungkin itulah yang membantu Dudek bisa mementahkannya dengan tangannya. Kalau
hal itu terjadi 1000 kali lagi Dudek pasti tak dapat menghentikannya, dan pasti gol,"
tutur striker Ukraina itu perihal kegagalannya yang pertama.
Tiga algojo Liverpool, Dietmar Hamann, Djibril Cisse, dan Smicer sukses. John Arne
Riise gagal dan satu jatah penalti Liverpool tak perlu dieksekusi lagi sebab sudah unggul
3-2.
Liverpool pun menjadi raja lagi di Eropa setelah berjuang 21 tahun. Ini merupakan
koleksi juara kelima The Reds setelah enam kali ke final. Ketika Liverpool terakhir
juara 1983-1984 mereka juga menang adu penalti lawan wakil Italia, AS Roma.
Jika beberapa pemain Milan sudah pernah mengecap manisnya trofi seperti Maldini, Dida,
Seedorf, dan Rui Costa, skuad Liverpool sebaliknya. Wajar jika Gerrard dkk sangat bersuka
cita.
"Ini malam terindah dalam karierku. Sungguh sulit terlukiskan. Kami telah berjuang
keras dari babak kualifikasi dan menikmati hasilnya di final," kata pemain belakang
Liverpool, Jamie Carragher.
"Milan tim dengan mental juara yang hebat. Tapi, kekuatan mental kami lebih
fantastis. Mengejar defisit tiga gol, sungguh bukan perjuangan yang mudah," tambah
Riise.
Bukan hanya pemain, pelatih Liverpool, Rafael Benitez, juga baru pertama kali
mengangkat trofi Liga Champions. Musim lalu, ia sukses membawa Valencia juara Piala UEFA
menyamai prestasi Jose Mourinho ketika melatih FC Porto.
"Perjuangan seluruh pemain sungguh heroik. Kami tertekan selama 45 menit dan
nyaris kebobolan hingga lima gol. Hanya pemain hebat yang mampu bangkit ketika tertinggal
tiga gol," kata Benitez, seperti dilansir Reuters.
Milan sebenarnya menguasai pertandingan, termasuk saat perpanjangan waktu. Mereka
memiliki banyak peluang, namun gagal mencetak gol tambahan. Sebab, setelah mencetak tiga
gol balasan, Liverpool kembali ke pola bertahan.
"Enam menit yang gila tersebut telah merusak posisi kami yang
menguntungkan," kata pelatih AC Milan, Carlo Ancelotti usai pertandingan.
"Kedua tim bermain baik selama 120 menit. Pertandingan telah berlangsung dan kami
harus berjalan terus. Milan bermain luar biasa di final ini. Namun kami harus menerima
kekalahan ini," lanjut Ancelotti. TT/ij/emj