Perikanan Coba Monosex Galah
Marabahan, BPost
Guna pembudidayaan udang galah asal Kalimantan yang semakin langka, Dinas Perikanan dan
Kelautan Barito Kuala berencana melakukan pembudidayaan dengan metode monosex.
Dengan metode pembudidayaan khusus --udang jantan dengan betina, diharapkan akan
menghasilkan udang yang besar dan berkualitas.
Hal ini diungkapkan Kadis Perikanan dan Kelautan Ir Achmad Kusnandar MSi, melalui Kabid
Bina Produksi dan Pengembangan Teknologi Ir Zulkipli Yadi Noor MSi, kemarin.
"Kita nantinya akan berupaya melakukan pembudidayaan udang galah dengan metode
Monosex. Dengan metode ini diharapkan kualitas udang yang dihasilkan petambak akan
bagus," papar Zulkifli.
Metode ini sendiri didapat dari pameran World Aquaculture 2005 di Bali, 15 Mei
lalu dan diikuti oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Batola.
Ditambahkan Izul --panggilan akrabnya, dalam praktek dengan metode pemisahan (monosex,
red), udang galah jantan dengan udang galah betina ini dipisahkan untuk
pemeliharaannnya.
"Udang galah yang jantan mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi dan cepat
besar. Sehingga hasil yang nantinya didapat juga memuaskan," ungkapnya.
Disinggung kendala pemisahan antara jantan dan betina ini, Izul mengatakan, tak ada
masalah mendasar. Ini karena dari fisik saja telah diketahui apakah itu udang galah jantan
maupun betina.
Udang galah jantan mempunyai capit, sedangkan betina tidak. Sekadar diketahui, mulai
Januari lalu Dinas Perikanan Batola mulai melakukan pembesaran udang galah di pusat
pembibitan Sei Kambat. Saat ini udang yang dipelihara sudah mulai besar.
Pada kesempatan itu, Izul mengatakan, acara perikanan tingkat dunia di Bali lalu dan
diikuti 80 negara seluruh dunia tersebut, sangatlah berguna.
"Banyak masukan yang kita dapat dan akan kita coba di Batola. Pada pameran
tersebut juga diadakan seminar serta tukar menukar informasi tentang dunia
perikanan," paparnya.
Tak hanya masalah udang, pihaknya juga mendapatkan masukan bagaimana tentang
pembudidayaan ikan antara lain nila. "Pokoknya, banyak masukan yang kita dapat. Meski
kita akui ada sedikit masalah bahasa pada seminar itu," ungkap Izul
sambil tersenyum, seraya mengatakan hampir semua seminar menggunakan bahasa Inggris. dwi