WAJAH Parto (49) mendadak murung ketika memandangi tanah kosong ukuran semeter
kali semeter di depannya. Sorotan matanya tajam mengarah ke bekas hitam direrumputan di
pinggir tanah kosong itu. Bekas hitam itu dirabanya lantas ditempelkannya di dekat dua
lubang hidungnya.
"Sudah kering maklum sudah tujuh bulan. Bau busuknya juga sudah lenyap. Tapi
bekasnya, itu hitam-hitam masih ada," sebut warga Desa Mampuak Kecamatan Teweh Timur
Kabupaten Barito Utara (Barut) itu.
Ya, di tempat itulah sekitar empat ribu buah Labu alias Waluh miliknya busuk percuma.
Parto tidak bisa menjual hasil kebun yang baru dia panen itu ke kota terdekat lantaran
jalan penghubung di wilayah setempat dalam kondisi rusak parah.
"Semua habis tak menghasilkan apa-apa. Semua busuk tak sempat dijual. Saya tak
bisa memesarkannya ke Muara Teweh karena jalan teramat parah rusaknya hingga sama sekali
tak bisa dilewati. Kini saya, istri bersama lima anak kami hanya bisa merenung, kapan
keterisolasian ini berakhir," kata Parto.
Parto mengakui sudah hampir tujuh bulan ini waluh miliknya itu tak bisa diangkut akibat
jalan darat rusak. Kesulitan transportasi ini karena empat desa di wilyah setempat (Jamut,
Pantung dan Liju) tidak memiliki akses lewat sungai.
Alternatif transportasi satu-satunya hanya lewat jalur darat, yakni masuk dari simpang
kilometer 34 jalan negara Muara Teweh-Kandui, Kecamatan Gunung Timang. Jalan darat ke Desa
Mampuak sendiri sejalur dengan menuju Desa Lampeong Kecamatan Gunung Purei dan Desa
Benangin, Kecamatan Teweh Timur.
Sebagaimana pantauan, sepertinya Parto memang tidak omong kosong berbicara soal kondisi
jalan darat menghubungkan Muara Teweh ke Desanya. Terbukti mobil yang ditumpangi BPost,
baru sekitar 15 kilometer masuk jalan bertanah itu sudah berhadapan dengan gorong-gorong
yang hampir putus akibat longsor.
Tidak itu saja, di daerah Mualateken jalan hampir tak bisa dilewati karena lumpurnya
sudah setinggi lutut orang dewasa. Demikian juga kondisi jalan ketika memasuki daerah
Jamut dan simpang Tamrin. Mobil doble gardan pun terseok-seok menjelajahinya.
"Sudah dua bulan ini distribusi sembako macet. Beberapa jenis bahan pokok mulai
menipis. Kemaren terakhir, Truk pengangkut sembako hanya bisa sampai simpang Jamut, dan
tertahan tak bisa melewati longsor. Terpaksa barang diangkut menggunakan binatang
kerbau," ucap H Harnadi, pedagang Desa Mampuak.
H Harnadi mengakui, rusaknya jalan penghubung di wilayah setempat begitu menyengsarakan
warga Desa Mampuak dan desa sekitarnya. Kini hasil bumi tidak bisa dipasarkan ke kota,
sehingga warga membeli barang ditempatnya terpaksa menggunakan sistem barter, padi
ditukarkan dengan barang kebutuhan warga.
"Mulai minggu ini terpaksa saya stop. Karung padi sudah terlalu banyak, sementara
barang makanan di warung saya sudah hampir habis. Kalau karung ini tidak bisa secepatnya
saya jual ke Muara Teweh, entah bagaimana nasib warga disini," tukas H Harnadi. mardedi