:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Jumat, 27 Mei 2005 01:31:56


Derita Warga Di Tengah Rusaknya Jalan Penghubung (1)

Dua Bulan Tak Bisa Memasarkan Hasil Bumi

WAJAH Parto (49) mendadak murung ketika memandangi tanah kosong ukuran semeter kali semeter di depannya. Sorotan matanya tajam mengarah ke bekas hitam direrumputan di pinggir tanah kosong itu. Bekas hitam itu dirabanya lantas ditempelkannya di dekat dua lubang hidungnya.

"Sudah kering maklum sudah tujuh bulan. Bau busuknya juga sudah lenyap. Tapi bekasnya, itu hitam-hitam masih ada," sebut warga Desa Mampuak Kecamatan Teweh Timur Kabupaten Barito Utara (Barut) itu.

Ya, di tempat itulah sekitar empat ribu buah Labu alias Waluh miliknya busuk percuma. Parto tidak bisa menjual hasil kebun yang baru dia panen itu ke kota terdekat lantaran jalan penghubung di wilayah setempat dalam kondisi rusak parah.

"Semua habis tak menghasilkan apa-apa. Semua busuk tak sempat dijual. Saya tak bisa memesarkannya ke Muara Teweh karena jalan teramat parah rusaknya hingga sama sekali tak bisa dilewati. Kini saya, istri bersama lima anak kami hanya bisa merenung, kapan keterisolasian ini berakhir," kata Parto.

Parto mengakui sudah hampir tujuh bulan ini waluh miliknya itu tak bisa diangkut akibat jalan darat rusak. Kesulitan transportasi ini karena empat desa di wilyah setempat (Jamut, Pantung dan Liju) tidak memiliki akses lewat sungai.

Alternatif transportasi satu-satunya hanya lewat jalur darat, yakni masuk dari simpang kilometer 34 jalan negara Muara Teweh-Kandui, Kecamatan Gunung Timang. Jalan darat ke Desa Mampuak sendiri sejalur dengan menuju Desa Lampeong Kecamatan Gunung Purei dan Desa Benangin, Kecamatan Teweh Timur.

Sebagaimana pantauan, sepertinya Parto memang tidak omong kosong berbicara soal kondisi jalan darat menghubungkan Muara Teweh ke Desanya. Terbukti mobil yang ditumpangi BPost, baru sekitar 15 kilometer masuk jalan bertanah itu sudah berhadapan dengan gorong-gorong yang hampir putus akibat longsor.

Tidak itu saja, di daerah Mualateken jalan hampir tak bisa dilewati karena lumpurnya sudah setinggi lutut orang dewasa. Demikian juga kondisi jalan ketika memasuki daerah Jamut dan simpang Tamrin. Mobil doble gardan pun terseok-seok menjelajahinya.

"Sudah dua bulan ini distribusi sembako macet. Beberapa jenis bahan pokok mulai menipis. Kemaren terakhir, Truk pengangkut sembako hanya bisa sampai simpang Jamut, dan tertahan tak bisa melewati longsor. Terpaksa barang diangkut menggunakan binatang kerbau," ucap H Harnadi, pedagang Desa Mampuak.

H Harnadi mengakui, rusaknya jalan penghubung di wilayah setempat begitu menyengsarakan warga Desa Mampuak dan desa sekitarnya. Kini hasil bumi tidak bisa dipasarkan ke kota, sehingga warga membeli barang ditempatnya terpaksa menggunakan sistem barter, padi ditukarkan dengan barang kebutuhan warga.

"Mulai minggu ini terpaksa saya stop. Karung padi sudah terlalu banyak, sementara barang makanan di warung saya sudah hampir habis. Kalau karung ini tidak bisa secepatnya saya jual ke Muara Teweh, entah bagaimana nasib warga disini," tukas H Harnadi. mardedi


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Palangka Raya
Asmawi Gugat KPU

"Tidak Ada Alasan Membatalkan"


Listrik Byar Pet Dua Bulan


Derita Warga Di Tengah Rusaknya Jalan Penghubung (1) - Dua Bulan Tak Bisa Memasarkan Hasil Bumi


Usop Giliran Kampanye Pertama


Gunung Mas Tuntut Janji DPR-RI


Didukung DPC PKB Se-Kalteng


Diduga Karena Over Dosis


Modus Operandi Cukong Hindari Penertiban - Manfaatkan Jasa Warga Pribumi


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123