Yogyakarta, BPost
Letusan Gunung Merapi sudah di depan mata. Awan panas (wedhus gembel) yang paling ditakuti
masyarakat sekitar Merapi, mulai meluncur dari puncak Merapi sejauh 1.600 meter. Awan
panas inilah yang pada letusan 1994 lalu menewaskan 66 orang.
 |
AP/PURWOWIYOTO
MEMATIKAN - Lava pijar mengalir dari puncak Gunung Merapi yang terlihat
dari Desa Bebeng, Yogyakarta, Sabtu (13/5). Merapi sejak kemarin berubah status menjadi
awas. |
Terhitung Sabtu (15/3) mulai pukul 08.30 WIB, status Gunung Merapi ditingkatkan dari
Siaga menjadi Awas. Aktivitas warga yang masih berladang maupun bertani di aliran sungai
langsung distop. Evakuasi warga kian digencarkan.
"Kita segera mengambil tindakan evakuasi penduduk di wilayah rawan bencana ke
lokasi yang aman dari ancaman bahaya Merapi yakni awan panas," kata Kepala Balai
Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Ratdomopurbo di kantornya,
Jalan Kenari, Yogyakarta, kemarin.
Ratdomopurbo mengungkapkan, sejak pukul 00.00-06.00 WIB, Sabtu kemarin, terjadi 27 kali
gempa fase, 25 kali gempa guguran, dan 14 kali awan panas. "Berdasarkan pengamatan
visual, asap sulvatar warna putih tebal, tekanan lemah tinggi maksimum 400 meter,"
ujarnya.
Selain itu, lanjut Ratdomopurbo, dari data Pos Kaliurang per 13 Mei pukul 00.00-06.00
WIB, terjadi guguran lava pijar sebanyak 24 kali dari Merapi, dengan jarak luncur 1.500
meter ke arah kali Boyong. Kemudian 7 kali ke arah Kali Gendol dan Kali Woro. Sinar api
juga terlihat di Pos Babadan, Jrakah, Ngepos, dan Selo.
Sedangkan data kegempaan Jumat, 12 Mei mencatat gempa fase sebanyak 90 kali, gempa
guguran 214 kali, awan panas 11 kali, dan gempa tektonik 4 kali.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X pun langsung meminta seluruh warga sekitar
Merapi segera mengungsi meninggalkan lokasi. Secara khusus Sultan meminta Mbah Maridjan,
juru kunci Gunung Merapi, juga segera turun ke barak pengungsi. Pasalnya, kediaman Mbah
Maridjan berada di daerah rawan bahaya. Rumah pria berusia lebih dari 80 tahun ini, berada
di Dusun Kinahrejo, Sleman atau sekitar 3 kilometer dari puncak Merapi.
"Dia tidak punya alasan lagi, harus ikut mengungsi," cetus Sultan di Posko
PMI Sleman, Jl Kaliurang Km 20. Sultan berada di posko itu untuk mengumumkan secara
langsung kepada warga tentang status Merapi yang meningkat dari Siaga menjadi Awas.
Raja Jawa ini mengingatkan warga harus bersedia dievakuasi ke lokasi yang aman dari
ancaman bahaya letusan maupun awan panas Gunung Merapi untuk menghindari jatuhnya korban.
"Jika nanti masih ada warga yang bersikeras tak bersedia dievakuasi, risiko
ditanggung sendiri," katanya.
Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTK, Subandriyo menambahkan aktivitas Gunung Merapi sudah
sangat berbahaya. "Khusus hari ini (kemarin, Red), mulai pukul 00.00 hingga
06.00 WIB sudah terjadi 14 kali awan panas menuju hulu Kali Krasak, Kali Boyong, Kali
Gendol, dan Kali Woro, sejauh 1,6 kilometer. "Atas pertimbangan itu, semua aktivitas
penduduk di radius 8 kilometer harus dihentikan." ujarnya.
Terpisah, Bambang Dwiyanto, kepala Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya
Mineral, mengatakan: "Sejak Sabtu, status Merapi dari Siaga ditingkatkan menjadi
Awas." Peningkatan status itu dikarenakan adanya kenaikan aktivitas Merapi sejak
Jumat malam. Peningkatan itu berupa seringnya kemunculan awan panas yang meluncur dari
puncak Merapi. Malam sebelumnya tercatat 11 kali hembusan wedhus gembel dari puncak
Gunung Merapi yang berada di perbatasan Jateng dan DIY itu.
Sehubungan dengan itu, Bambang meminta semua satkorlak mengevakuasi warga terutama yang
berada sekitar aliran sungai. Ke arah selatan dan tenggara dengan radius 8 km dari puncak
yaitu Kali Woro, Gendol, Kuning dan Boyong. Sedangkan arah barat daya dengan radius 10 km
dari puncak yang melalui Kali Bedog, Krasak, Bebeng dan Kali Sat. Lalu ke arah barat
dengan radius 8 km yang melalui Kali Lamat dan Senowo.
Kubah Baru
Menyusul status Awas, kondisi Merapi semakin memprihatinkan. Saat ini pusat vulkanologi
dan mitigasi bencana, mencatat telah terjadi 14 kali awan panas. Posisi kubah baru yang
ditemukan pada 28 April lalu, juga mengalami pertumbuhan sangat pesat. Kemarin, kubah baru
sudah mencapai ketinggian 95 meter dengan volume sekitar 2 juta metrik kubik.
"Selain awan panas, titik api diam dan lava pijar semakin terlihat. Sementara
guguran lava tercatat sebanyak 214 kali, gempa tektonik 4 kali." jelas Subandriyo
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Yousana OE Siagian menambahkan, guguran
lava pijar semakin intensif dan membesar. Arah guguran lava pijar melalui celah antara
kubah 1997 dan Geger Boyo. Hal ini, sebut dia, menunjukkan celah yang masuk ke hulu Sungai
Gendol sudah terisi penuh oleh lava.
"Kalau sampai Geger Boyo itu runtuh, kemungkinan besar aliran lava akan menuju
barat daya dan selatan, itu artinya ancamannya lebih besar dari yang kita prediksi,"
kata Siagian.
Enggan
Meski secara khusus diperintahkan Sultan untuk mengungsi, Mbah Maridjan tetap
bersikeras berada di rumahnya. "Saya diamanatkan menjadi juru kunci Gunung Merapi.
Jadi harus tetap menjaganya dalam kondisi apa pun," kilahnya.
Dikatakan Mbah Maridjan, dirinya tidak mau mendengarkan nasihat Sultan HB X karena
statusnya bukanlah sultan. Status Sri Sultan HB X dianggap sebagai gubernur alias
pemerintah. "Itu yang berbicara bukan sultan, melainkan gubernur," tutur Mbah
Maridjan yang ditugasi memang ditugasi khusus oleh (alm) Sri Sultan Hamengkubuwono IX
menjaga Gunung Merapi.
Tidak hanya himbauan Sultan yang ditolak Mbah Maridjan. Permintaan serupa dari anak
mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Yeni Wahid dan mantan Ketua MPR Amien Rais
pun pernah ditolaknya. "Allah belum memberi petunjuk berupa tanda-tanda akan
meletusnya Merapi," kata pria yang tak mau berbahasa Indonesia ini.
Mbah Maridjan justru mengaku dirinya saat ini sedang senang. Pasalnya, banyak
masyarakat yang berkunjung ke rumahnya. "Ini sebagai obat saya. Saya rela mati demi
menjaga Gunung Merapi. Sampai mati pun saya masih ingin tetap di sini," imbuh pria
yang sangat dihormati warga sekitar Merapi itu.
Hingga Sabtu sore evakuasi warga di sekitar Gunung Merapi terus berlangsung. Di Sleman,
jumlah pengungsi di 7 posko sudah sebanyak 2.723 orang. Evakuasi dilakukan dengan
menggunakan truk. Prioritas evakuasi adalah lansia, anak-anak, serta ibu hamil dan
menyusui. Bantuan logistik pun terus berdatangan, seperti air mineral dan peralatan masak.
Kendaraan dari Depsos mendistribusikan barang-barang logistik ke pos-pos pengungsian.
Pengungsian juga terjadi di Magelang. "Kami sampai sekarang belum bisa menyebut
angka, kalau sudah awas seperti ini total seluruh masyarakat diungsikan," kata
Sekretaris Harian Satlak PBP Pemda Kabupaten Magelang Edy Susanto.
Jumlah penduduk Magelang yang tinggal di daerah bahaya Merapi mencapai sekitar 32 ribu,
mereka tinggal di 21 desa di tiga kecamatan yakni Dukun, Srumbung dan Sawangan.
Kedubes AS Panik
Sementara itu Pemerintah AS melalui Kedubesnya di Jakarta dan dan Konsul Jenderal di
Surabaya, mengeluarkan imbauan agar warganya yang berada di kota-kota Pulau Jawa
berhati-hati dan menyiapkan pengamanan sedini mungkin.
"Kami menyeru semua warga Amerika untuk tidak coba-coba mendekati Merapi pada
radius 12 kilometer, serta mematuhi para zona-zona aliran lava," demikian warning
Kedubes AS,
Kedubes AS mengatakan, Yogyakarta memang tidak masuk dalam kawasan yang berbahaya bila
Merapi benar-benar meletus. Mengutip para ahli vulkanologi, AS menyebutkan Yogyakarta
tidak potensial terkena banjir lava. "Namun demikian, warga AS yang sedang berwisata
di Yogyakarta harus tetap mewaspadai bahaya asap beracun dan hujan debu Merapi yang
potensial menganggu perjalanan pesawat udara," imbuh Kedubes AS. JBP/abs/kcm/dtk/ant/tnr