:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
FEMALE
Nusantara
B O R N E O
Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
Olahraga
Ragam
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 14 Mei 2006 03:06


Merapi Menebar Maut

Yogyakarta, BPost
Letusan Gunung Merapi sudah di depan mata. Awan panas (wedhus gembel) yang paling ditakuti masyarakat sekitar Merapi, mulai meluncur dari puncak Merapi sejauh 1.600 meter. Awan panas inilah yang pada letusan 1994 lalu menewaskan 66 orang.

AP/PURWOWIYOTO
MEMATIKAN - Lava pijar mengalir dari puncak Gunung Merapi yang terlihat dari Desa Bebeng, Yogyakarta, Sabtu (13/5). Merapi sejak kemarin berubah status menjadi awas.

Terhitung Sabtu (15/3) mulai pukul 08.30 WIB, status Gunung Merapi ditingkatkan dari Siaga menjadi Awas. Aktivitas warga yang masih berladang maupun bertani di aliran sungai langsung distop. Evakuasi warga kian digencarkan.

"Kita segera mengambil tindakan evakuasi penduduk di wilayah rawan bencana ke lokasi yang aman dari ancaman bahaya Merapi yakni awan panas," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Ratdomopurbo di kantornya, Jalan Kenari, Yogyakarta, kemarin.

Ratdomopurbo mengungkapkan, sejak pukul 00.00-06.00 WIB, Sabtu kemarin, terjadi 27 kali gempa fase, 25 kali gempa guguran, dan 14 kali awan panas. "Berdasarkan pengamatan visual, asap sulvatar warna putih tebal, tekanan lemah tinggi maksimum 400 meter," ujarnya.

Selain itu, lanjut Ratdomopurbo, dari data Pos Kaliurang per 13 Mei pukul 00.00-06.00 WIB, terjadi guguran lava pijar sebanyak 24 kali dari Merapi, dengan jarak luncur 1.500 meter ke arah kali Boyong. Kemudian 7 kali ke arah Kali Gendol dan Kali Woro. Sinar api juga terlihat di Pos Babadan, Jrakah, Ngepos, dan Selo.

Sedangkan data kegempaan Jumat, 12 Mei mencatat gempa fase sebanyak 90 kali, gempa guguran 214 kali, awan panas 11 kali, dan gempa tektonik 4 kali.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X pun langsung meminta seluruh warga sekitar Merapi segera mengungsi meninggalkan lokasi. Secara khusus Sultan meminta Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, juga segera turun ke barak pengungsi. Pasalnya, kediaman Mbah Maridjan berada di daerah rawan bahaya. Rumah pria berusia lebih dari 80 tahun ini, berada di Dusun Kinahrejo, Sleman atau sekitar 3 kilometer dari puncak Merapi.

"Dia tidak punya alasan lagi, harus ikut mengungsi," cetus Sultan di Posko PMI Sleman, Jl Kaliurang Km 20. Sultan berada di posko itu untuk mengumumkan secara langsung kepada warga tentang status Merapi yang meningkat dari Siaga menjadi Awas.

Raja Jawa ini mengingatkan warga harus bersedia dievakuasi ke lokasi yang aman dari ancaman bahaya letusan maupun awan panas Gunung Merapi untuk menghindari jatuhnya korban. "Jika nanti masih ada warga yang bersikeras tak bersedia dievakuasi, risiko ditanggung sendiri," katanya.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTK, Subandriyo menambahkan aktivitas Gunung Merapi sudah sangat berbahaya. "Khusus hari ini (kemarin, Red), mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB sudah terjadi 14 kali awan panas menuju hulu Kali Krasak, Kali Boyong, Kali Gendol, dan Kali Woro, sejauh 1,6 kilometer. "Atas pertimbangan itu, semua aktivitas penduduk di radius 8 kilometer harus dihentikan." ujarnya.

Terpisah, Bambang Dwiyanto, kepala Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan: "Sejak Sabtu, status Merapi dari Siaga ditingkatkan menjadi Awas." Peningkatan status itu dikarenakan adanya kenaikan aktivitas Merapi sejak Jumat malam. Peningkatan itu berupa seringnya kemunculan awan panas yang meluncur dari puncak Merapi. Malam sebelumnya tercatat 11 kali hembusan wedhus gembel dari puncak Gunung Merapi yang berada di perbatasan Jateng dan DIY itu.

Sehubungan dengan itu, Bambang meminta semua satkorlak mengevakuasi warga terutama yang berada sekitar aliran sungai. Ke arah selatan dan tenggara dengan radius 8 km dari puncak yaitu Kali Woro, Gendol, Kuning dan Boyong. Sedangkan arah barat daya dengan radius 10 km dari puncak yang melalui Kali Bedog, Krasak, Bebeng dan Kali Sat. Lalu ke arah barat dengan radius 8 km yang melalui Kali Lamat dan Senowo.

Kubah Baru

Menyusul status Awas, kondisi Merapi semakin memprihatinkan. Saat ini pusat vulkanologi dan mitigasi bencana, mencatat telah terjadi 14 kali awan panas. Posisi kubah baru yang ditemukan pada 28 April lalu, juga mengalami pertumbuhan sangat pesat. Kemarin, kubah baru sudah mencapai ketinggian 95 meter dengan volume sekitar 2 juta metrik kubik.

"Selain awan panas, titik api diam dan lava pijar semakin terlihat. Sementara guguran lava tercatat sebanyak 214 kali, gempa tektonik 4 kali." jelas Subandriyo

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Yousana OE Siagian menambahkan, guguran lava pijar semakin intensif dan membesar. Arah guguran lava pijar melalui celah antara kubah 1997 dan Geger Boyo. Hal ini, sebut dia, menunjukkan celah yang masuk ke hulu Sungai Gendol sudah terisi penuh oleh lava.

"Kalau sampai Geger Boyo itu runtuh, kemungkinan besar aliran lava akan menuju barat daya dan selatan, itu artinya ancamannya lebih besar dari yang kita prediksi," kata Siagian.

Enggan

Meski secara khusus diperintahkan Sultan untuk mengungsi, Mbah Maridjan tetap bersikeras berada di rumahnya. "Saya diamanatkan menjadi juru kunci Gunung Merapi. Jadi harus tetap menjaganya dalam kondisi apa pun," kilahnya.

Dikatakan Mbah Maridjan, dirinya tidak mau mendengarkan nasihat Sultan HB X karena statusnya bukanlah sultan. Status Sri Sultan HB X dianggap sebagai gubernur alias pemerintah. "Itu yang berbicara bukan sultan, melainkan gubernur," tutur Mbah Maridjan yang ditugasi memang ditugasi khusus oleh (alm) Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjaga Gunung Merapi.

Tidak hanya himbauan Sultan yang ditolak Mbah Maridjan. Permintaan serupa dari anak mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Yeni Wahid dan mantan Ketua MPR Amien Rais pun pernah ditolaknya. "Allah belum memberi petunjuk berupa tanda-tanda akan meletusnya Merapi," kata pria yang tak mau berbahasa Indonesia ini.

Mbah Maridjan justru mengaku dirinya saat ini sedang senang. Pasalnya, banyak masyarakat yang berkunjung ke rumahnya. "Ini sebagai obat saya. Saya rela mati demi menjaga Gunung Merapi. Sampai mati pun saya masih ingin tetap di sini," imbuh pria yang sangat dihormati warga sekitar Merapi itu.

Hingga Sabtu sore evakuasi warga di sekitar Gunung Merapi terus berlangsung. Di Sleman, jumlah pengungsi di 7 posko sudah sebanyak 2.723 orang. Evakuasi dilakukan dengan menggunakan truk. Prioritas evakuasi adalah lansia, anak-anak, serta ibu hamil dan menyusui. Bantuan logistik pun terus berdatangan, seperti air mineral dan peralatan masak. Kendaraan dari Depsos mendistribusikan barang-barang logistik ke pos-pos pengungsian.

Pengungsian juga terjadi di Magelang. "Kami sampai sekarang belum bisa menyebut angka, kalau sudah awas seperti ini total seluruh masyarakat diungsikan," kata Sekretaris Harian Satlak PBP Pemda Kabupaten Magelang Edy Susanto.

Jumlah penduduk Magelang yang tinggal di daerah bahaya Merapi mencapai sekitar 32 ribu, mereka tinggal di 21 desa di tiga kecamatan yakni Dukun, Srumbung dan Sawangan.

Kedubes AS Panik

Sementara itu Pemerintah AS melalui Kedubesnya di Jakarta dan dan Konsul Jenderal di Surabaya, mengeluarkan imbauan agar warganya yang berada di kota-kota Pulau Jawa berhati-hati dan menyiapkan pengamanan sedini mungkin.

"Kami menyeru semua warga Amerika untuk tidak coba-coba mendekati Merapi pada radius 12 kilometer, serta mematuhi para zona-zona aliran lava," demikian warning Kedubes AS,

Kedubes AS mengatakan, Yogyakarta memang tidak masuk dalam kawasan yang berbahaya bila Merapi benar-benar meletus. Mengutip para ahli vulkanologi, AS menyebutkan Yogyakarta tidak potensial terkena banjir lava. "Namun demikian, warga AS yang sedang berwisata di Yogyakarta harus tetap mewaspadai bahaya asap beracun dan hujan debu Merapi yang potensial menganggu perjalanan pesawat udara," imbuh Kedubes AS. JBP/abs/kcm/dtk/ant/tnr

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Merapi Menebar Maut

Buyung: Bagir-Arman Harus Mundur


Pesan Spiritual Mbah Maridjan Dari Lereng Merapi
Merapi Mampu Memburu Orang Serakah


11 Penambang Terkubur Pasir


Hidayah Jilbab


Reina Super Hero


Polisi Tembak Mahasiswa


Duo Biru Jajal Si Merah


Warga Mulai Tersenyum


Yayasan-yayasan Soeharto, Nasibmu Kini (1)
"Kami Tidak Banyak Bicara Lagi"


Indonesia Ketua D-8


Tersangka Penipuan Saham


Leste Tolak Kapal Aussie


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123