Yogjakarta, BPost
Apa yang dikhawatirkan akhirnya terjadi. Gunung Merapi (2.968 M), Senin (15/5) sekitar
pukul 05.50 WIB, memuntahkan lava dan menyemburkan awan panas. Boyolali, Magelang dan
Klaten paling merasakan dampak dari serbuan awan panas disertai debu itu.
Sejumlah desa di tiga kabupaten di Provinsi Jawa Tengah itu menjadi lautan debu dengan
ketebalan lebih kurang lima milimeter. Tidak itu saja, lebih seribu hektare hutan lindung
di Klaten dan Boyolali merangas akibat terjangan awan panas Merapi.
PT Perhutani Surakarta melaporkan, sekitar 1.050 hektare dari 2.307 hektare hutan
lindung di sekitar Merapi yang masuk wilayah Klaten dan Boyolali rusak.
"Hutan yang sudah terbakar kini lebih 50 hektare," kata Suwarto, asisten KPH
Perhutani Surakarta, kemarin.
Hutan-hutan itu meranggas dan dipastikan rusak akibat terkena awan panas dan lava pijar
yang dimuntahkan Merapi.
Hujan abu dari letusan Merapi semakin meluas. Sejumlah desa, di Boyolali, Klaten dan
Magelang dan sebagian di Sleman, Yogyakarta diliputi hujan abu yang cukup tebal.
Akibat hujan abu, atap rumah penduduk putih terkena abu. Pohon dan dedaunan juga putih.
Desa-desa ini berjarak 3-5 kilometer dari puncak Merapi.
Kegiatan belajar mengajar di sekolah di tiga desa dekat Merapi; Kelakah, Desa Jerakah
dan Desa Telogo Lele, Kecamatan Selo, Boyolali, langsung dihentikan. Guru-guru menyiapkan
para murid untuk kemungkinan terburuk.
Memburuknya kondisi Merapi menyebabkan penduduk setempat sepanjang hari lebih banyak di
dalam rumah. Sedangkan yang ingin ke luar rumah mengenakan masker. Puluhan warga dari
Dukuh Pabelan, sekitar tiga kilometer di bawah puncak Merapi, turun gunung menuju balai
desa.
Sementara 30 warga Dukuh Bangunsari, Desa Jrakah dievakuasi oleh Satkorlak ke Balai
Desa Telogo Lele. Mereka umumnya adalah balita, perempuan dan warga lanjut usia.
Hujan abu sebenarnya sudah terjadi sejak Minggu (14/5). Namun, pada Senin pagi, setelah
letusan Merapi yang cukup keras terdengar pukul 05.55 WIB, hujan abu bertambah pekat.
Hujan abu baru mulai menipis sekitar pukul 07.30 WIB.
Akibat hujan abu, aktivitas masyarakat di desa-desa di bawah Merapi terganggu.
Jalan-jalan sepi. Hanya sedikit kendaraan lalu lalang. Umumnya itu kendaraan Tim SAR dan
tim medis.
Semburan awan panas Merapi hingga kemarin petang terus meluncur mendekati kawasan
penduduk. Hutan-hutan di sekitar Gunung Merapi menghitam terbakar awan panas. Ini terlihat
jelas di sebelah utara Bukit Turgo, di sebelah barat Kaliurang, Sleman, Yogyakarta.
Kawasan ini juga pernah habis terbakar awan panas saat letusan Merapi pada 1994.
Belum Meletus
Menariknya, sejumlah warga desa lainnya di sekitar Merapi, menyatakan gunung di
perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah itu tidak meletus. Mereka mengistilahkan Merapi hanya
gembos (bocor, Red).
Karenanya puluhan warga Dusun Pelemsari dan Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman,
Yogyakarta --berada sekitar 5 kilometer dari puncak Merapi-- tetap menolak dievakuasi.
"Ini ban sudah gembos, jadi tidak akan meletus," kata Bejo Mulyo, Lurah
Umbulharjo, di Posko Umbulharjo, Cangkringan.
Kata dia, warga justru merasa aman bila Merapi terus keluarkan awan panas seperti ini
terus-menerus, sebab tidak akan meletus.
Mbah Marijan, tokoh masyarakat Merapi, juga tetap yakin Merapi tidak akan meletus,
meski awan panas dan lava terus berguguran.
"Saat ini Merapi lagi membangun, mengeluarkan lava dan awan panas. Itu bagian dari
bersih-bersih Merapi. Tidak usah khawatir, untuk wilayah Cangkringan aman. Tetapi untuk
daerah lain saya tidak bisa pastikan, silakan mengungsi," kata pria yang dipercaya
Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai juru kunci Merapi itu, Senin (15/5), di rumahnya,
Dusun Kinahrejo.
Kepala Laboratorium Vulkanologi ITB Prihadi Sumintadireja mengatakan, awan panas besar
yang dimuntahkan Merapi Senin pukul 05.50 WIB bukan merupakan letusan. Menurut dia,
letusan bisa terjadi jika terjadi longsoran besar di puncak Merapi.
"Itu masih merupakan awan panas, sehingga letusan Merapi kemungkinan besar bakal
terjadi lagi," jelas Prihadi kepada BPost, di Bandung, kemarin.
Memang, sebut dia, secara kasat mata orang menyebutnya letusan, tetapi aktivitas itu
bukan letusan. "Awan panas merupakan kumpulan gas yang terkumpul di Merapi yang
mencari jalan keluar," beber Prihadi.
Meski begitu, tambah Prihadi, penurunan akivitas kegempaan justru harus diwaspadai
karena dikhawatirkan berdampak pada letusan yang besar. Dengan puncak yang runcing, jelas
dia, bahaya letusan besar patut diwaspadai.
"Sampai saat ini belum ada alat yang bisa memprediksi kapan letusan sebuah gunung
terjadi. Seluruh peneliti hanya bisa memperhatikan gejala yang terjadi di gunung tersebut,
termasuk di Merapi. Jadi kalau saya ditanya kapan Merapi bakal meletus, saya juga tidak
bisa jawab. Yang jelas, prediksi saya letusan yang terjadi kemungkinan bakal besar,"
cetus Prihadi.
Terus Muntah
Gunung Merapi terus-menerus memuntahkan lava panas dan semburan awan panas. Lucuran
awan panas semakin sering terjadi, susul menyusul berselang sekitar 5 menit.
Arah luncuran mengarah ke barat daya, tepatnya masuk hulu sungai Kali Krasak, Kali
Bebeng dan Kalisat. Sebelumnya, luncuran berukuran besar terjadi pada pukul 09.32 WIB dan
09.37 WIB.
Tim Satlak terus melakukan evakuasi ke sejumlah dusun di lereng Merapi. Seperti Dusun
Tritis dan Ngandong, Kelu
rahan Girikerto, Kecamatan Turi, Sleman. Seluruh warga desa diungsikan dengan
menggunakan belasan truk
Sejumlah kawasan sudah ditutup, seperti kawasan wisata Kaliurang.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (16/5) sekitar jam 10.00 akan bertolak ke
Solo dan daerah-daerah di sekitar Merapi meninjau langsung keadaan pengungsi di daerah
itu.
Jurubicara Kepresidenan Andi Mallarangeng mengatakan, presiden akan menginap di lokasi
pengungsian selama satu malam. Menko Kesra Aburizal Bakrie mengungkapkan sampai saat ini
baru 24 ribu orang yang sudah meninggalkan lereng Merapi, dari jumlah total sebanyak 48
ribu orang.
Namun di Tegalmulyo, desa tertinggi di daerah Klaten, masih terdapat lebih seribu warga
yang bertahan. Demikian pula di Desa Sidorejo. Di Desa Balerante juga lebih dari seribu
yang bertahan.
Di Dusun Sambungrejo, dusun tertinggi di Balerante, terdapat sekitar 150 warga nekat
tinggal di kampungnya.TJ/tig/kcm/ant/dtk/tnr