:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Selasa, 16 Mei 2006 03:24:01


Klaten Jadi Lautan Debu

Yogjakarta, BPost
Apa yang dikhawatirkan akhirnya terjadi. Gunung Merapi (2.968 M), Senin (15/5) sekitar pukul 05.50 WIB, memuntahkan lava dan menyemburkan awan panas. Boyolali, Magelang dan Klaten paling merasakan dampak dari serbuan awan panas disertai debu itu.

Sejumlah desa di tiga kabupaten di Provinsi Jawa Tengah itu menjadi lautan debu dengan ketebalan lebih kurang lima milimeter. Tidak itu saja, lebih seribu hektare hutan lindung di Klaten dan Boyolali merangas akibat terjangan awan panas Merapi.

PT Perhutani Surakarta melaporkan, sekitar 1.050 hektare dari 2.307 hektare hutan lindung di sekitar Merapi yang masuk wilayah Klaten dan Boyolali rusak.

"Hutan yang sudah terbakar kini lebih 50 hektare," kata Suwarto, asisten KPH Perhutani Surakarta, kemarin.

Hutan-hutan itu meranggas dan dipastikan rusak akibat terkena awan panas dan lava pijar yang dimuntahkan Merapi.

Hujan abu dari letusan Merapi semakin meluas. Sejumlah desa, di Boyolali, Klaten dan Magelang dan sebagian di Sleman, Yogyakarta diliputi hujan abu yang cukup tebal.

Akibat hujan abu, atap rumah penduduk putih terkena abu. Pohon dan dedaunan juga putih. Desa-desa ini berjarak 3-5 kilometer dari puncak Merapi.

Kegiatan belajar mengajar di sekolah di tiga desa dekat Merapi; Kelakah, Desa Jerakah dan Desa Telogo Lele, Kecamatan Selo, Boyolali, langsung dihentikan. Guru-guru menyiapkan para murid untuk kemungkinan terburuk.

Memburuknya kondisi Merapi menyebabkan penduduk setempat sepanjang hari lebih banyak di dalam rumah. Sedangkan yang ingin ke luar rumah mengenakan masker. Puluhan warga dari Dukuh Pabelan, sekitar tiga kilometer di bawah puncak Merapi, turun gunung menuju balai desa.

Sementara 30 warga Dukuh Bangunsari, Desa Jrakah dievakuasi oleh Satkorlak ke Balai Desa Telogo Lele. Mereka umumnya adalah balita, perempuan dan warga lanjut usia.

Hujan abu sebenarnya sudah terjadi sejak Minggu (14/5). Namun, pada Senin pagi, setelah letusan Merapi yang cukup keras terdengar pukul 05.55 WIB, hujan abu bertambah pekat. Hujan abu baru mulai menipis sekitar pukul 07.30 WIB.

Akibat hujan abu, aktivitas masyarakat di desa-desa di bawah Merapi terganggu. Jalan-jalan sepi. Hanya sedikit kendaraan lalu lalang. Umumnya itu kendaraan Tim SAR dan tim medis.

Semburan awan panas Merapi hingga kemarin petang terus meluncur mendekati kawasan penduduk. Hutan-hutan di sekitar Gunung Merapi menghitam terbakar awan panas. Ini terlihat jelas di sebelah utara Bukit Turgo, di sebelah barat Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Kawasan ini juga pernah habis terbakar awan panas saat letusan Merapi pada 1994.

Belum Meletus

Menariknya, sejumlah warga desa lainnya di sekitar Merapi, menyatakan gunung di perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah itu tidak meletus. Mereka mengistilahkan Merapi hanya gembos (bocor, Red).

Karenanya puluhan warga Dusun Pelemsari dan Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta --berada sekitar 5 kilometer dari puncak Merapi-- tetap menolak dievakuasi.

"Ini ban sudah gembos, jadi tidak akan meletus," kata Bejo Mulyo, Lurah Umbulharjo, di Posko Umbulharjo, Cangkringan.

Kata dia, warga justru merasa aman bila Merapi terus keluarkan awan panas seperti ini terus-menerus, sebab tidak akan meletus.

Mbah Marijan, tokoh masyarakat Merapi, juga tetap yakin Merapi tidak akan meletus, meski awan panas dan lava terus berguguran.

"Saat ini Merapi lagi membangun, mengeluarkan lava dan awan panas. Itu bagian dari bersih-bersih Merapi. Tidak usah khawatir, untuk wilayah Cangkringan aman. Tetapi untuk daerah lain saya tidak bisa pastikan, silakan mengungsi," kata pria yang dipercaya Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai juru kunci Merapi itu, Senin (15/5), di rumahnya, Dusun Kinahrejo.

Kepala Laboratorium Vulkanologi ITB Prihadi Sumintadireja mengatakan, awan panas besar yang dimuntahkan Merapi Senin pukul 05.50 WIB bukan merupakan letusan. Menurut dia, letusan bisa terjadi jika terjadi longsoran besar di puncak Merapi.

"Itu masih merupakan awan panas, sehingga letusan Merapi kemungkinan besar bakal terjadi lagi," jelas Prihadi kepada BPost, di Bandung, kemarin.

Memang, sebut dia, secara kasat mata orang menyebutnya letusan, tetapi aktivitas itu bukan letusan. "Awan panas merupakan kumpulan gas yang terkumpul di Merapi yang mencari jalan keluar," beber Prihadi.

Meski begitu, tambah Prihadi, penurunan akivitas kegempaan justru harus diwaspadai karena dikhawatirkan berdampak pada letusan yang besar. Dengan puncak yang runcing, jelas dia, bahaya letusan besar patut diwaspadai.

"Sampai saat ini belum ada alat yang bisa memprediksi kapan letusan sebuah gunung terjadi. Seluruh peneliti hanya bisa memperhatikan gejala yang terjadi di gunung tersebut, termasuk di Merapi. Jadi kalau saya ditanya kapan Merapi bakal meletus, saya juga tidak bisa jawab. Yang jelas, prediksi saya letusan yang terjadi kemungkinan bakal besar," cetus Prihadi.

Terus Muntah

Gunung Merapi terus-menerus memuntahkan lava panas dan semburan awan panas. Lucuran awan panas semakin sering terjadi, susul menyusul berselang sekitar 5 menit.

Arah luncuran mengarah ke barat daya, tepatnya masuk hulu sungai Kali Krasak, Kali Bebeng dan Kalisat. Sebelumnya, luncuran berukuran besar terjadi pada pukul 09.32 WIB dan 09.37 WIB.

Tim Satlak terus melakukan evakuasi ke sejumlah dusun di lereng Merapi. Seperti Dusun Tritis dan Ngandong, Kelu

rahan Girikerto, Kecamatan Turi, Sleman. Seluruh warga desa diungsikan dengan menggunakan belasan truk

Sejumlah kawasan sudah ditutup, seperti kawasan wisata Kaliurang.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (16/5) sekitar jam 10.00 akan bertolak ke Solo dan daerah-daerah di sekitar Merapi meninjau langsung keadaan pengungsi di daerah itu.

Jurubicara Kepresidenan Andi Mallarangeng mengatakan, presiden akan menginap di lokasi pengungsian selama satu malam. Menko Kesra Aburizal Bakrie mengungkapkan sampai saat ini baru 24 ribu orang yang sudah meninggalkan lereng Merapi, dari jumlah total sebanyak 48 ribu orang.

Namun di Tegalmulyo, desa tertinggi di daerah Klaten, masih terdapat lebih seribu warga yang bertahan. Demikian pula di Desa Sidorejo. Di Desa Balerante juga lebih dari seribu yang bertahan.

Di Dusun Sambungrejo, dusun tertinggi di Balerante, terdapat sekitar 150 warga nekat tinggal di kampungnya.TJ/tig/kcm/ant/dtk/tnr


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Klaten Jadi Lautan Debu

Mitos Ratu Pantai Selatan


Rupiah Kelelahan


Penjara Rusuh, 50 Tewas


Her UN Belum Diputuskan


SIDANG PERDANA GUGATAN CERAI TANPA TOMMY
Yang Pasti Bukan Karena Gono Gini


"Semoga Tidak Tambah Parah"


Saya Anak Sungai


30 Mei, Pabrik Baja Diumumkan


Dilabrak Keluarga Korban


Sheila Is Back


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123