Banjarmasin, BPost
Komputer bukan lagi barang mahal di Kalimantan Selatan. Dalam waktu dekat,
provinsi ini akan memiliki pabrik komputer hasil kerja sama Universitas Utara Malaysia
(UUM) dengan Universitas Lambung Mangkurat dan Istitut Agama Islam Negeri Banjarmasin.
Adalah Serendit Komputer, badan usaha yang bernaung di bawah UMM yang berniat membangun
pabrik komputer berharga murah tapi berkualitas ekspor di Kalsel itu. Perusahaan ini
memproyeksi tiap tahun bisa memproduksi 5.000-10.000 unit komputer.
Sebagai tahap awal, kata Rektor UUM Dato Nurdin Kardi dalam acara penandatanganan memorandum
of understanding (MoU) di Graha Abdi Persada, kantor Pemprov Kalsel, Kamis (18/5),
akan disiapkan dana 8 juta ringgit atau Rp19,2 miliar untuk lahan dan pembangunan pabrik.
"Peralatannya akan kami kirim langsung dari Malaysia," jelas Dato Nurdin.
Disebutkan dia, pemilihan lokasi pabrik di Kalsel dikarenakan tersedia tenaga kerja
yang cukup plus posisi strategis provinsi ini di Indonesia. Indonesia sendiri, menurut
Nurdin, dengan penduduk sekitar 220 juta jiwa memiliki peranan penting dalam percaturan
global di masa mendatang. Kondisi ini sangat berbeda dengan Malaysia yang hanya
berpenduduk sekitar 26 juta jiwa. "Dan yang terpenting, pembangunan pabrik komputer
di Kalsel juga demi menunjang pendidikan di Unlam, IAIN dan UMM," katanya.
Dijelaskan Nurdin, Serindit Komputer sudah berjalan enam tahun dengan kemampuan
produksi 300 unit per hari. Komputer hasil produk Serindit selain dijual di Malaysia, juga
dipasarkan ke beberapa negara seperti Kamboja, Myanmar dan beberapa negara Timur Tengah.
Ditambahkan Direktur Serindit Komputer Abd Ghani B Golamdin, untuk mempercepat
pembangunan pabrik komputer itu pihaknya akan mempelajari berbagai peraturan pemerintah
Indonesia terkait penanaman modal dan pajak.
"Kami berharap ada kemudahan sehingga kalau harga sebuah laptop dengan kualitas
bagus 8.000 ringgit Malaysia, produk laptop yang sama tapi buatan pabrik komputer di
Kalsel bisa sekitar 4.000 ringgit Malaysia (Rp3 juta-an, Red)," katanya.
Ditanya kapan rencana tersebut dimulai, Abd Ghani mengatakan semua tergantung cepat
atau lambatnya sikap Pemprov Kalsel. Sebab, sebut dia, semuanya harus mengacu pada aturan
yang berlaku di daerah, seperti izin usaha hingga masalah pajak.
Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Muhammad Rasmadi menyatakan, selain menjajaki
pembangunan pabrik komputer, saat ini yang sudah disepakati adalah kerjasama pertukaran
mahasiswa dan dosen Unlam dan IAIN dengan UMM masing-masing 10 orang. Selain itu
direncanakan pengiriman pelajar SMU dan aliyah berprestasi dari Kalsel ke UMM.
Masih Kecil
Di Kalsel sendiri komputer masih termasuk barang mewah. Pemakai komputer di Kalsel
masih sekitar 10 persen dari 3.054.129 jiwa penduduk Kalsel (sensus 2002). "Menurut
data, di daerah ini setiap bulan terjual 500 unit komputer. Artinya dalam setahun hanya
6.000 unit," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Kalsel,
Saridi Salimin kepada BPost.
Kondisi ini, menurut Saridi, sangat jauh berbeda dengan Bandung, Jabar yang setiap
bulannya sekitar 5.000 unit komputer terjual. Demikian pula Yogyakarta 4.000 unit terjual
setiap bulannya.
"Karena memang kedua kota itu banyak pelajar dan mahasiswa. Mereka yang sekolah di
sana adalah orang berkecukupan sehingga komputer menjadi kebutuhan," paparnya.
Saridi menyambut gembira keinginan Malaysia membangun pabrik komputer di Kalsel.
"Itu investasi bermanfaat. Dengan adanya pebrik komputer, harga bisa ditekan,"
katanya.
Selain itu, imbuh Saridi, akan terbuka lapangan kerja di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi. "Kita jangan hanya disodori barang berupa komputer saja, tapi bisa juga
membuatnya. Ini merupakan kemajuan di bidang teknologi yang luar biasa," ucapnya.
Di Banjarmasin ada sekitar 40 pengusaha komputer yang menjual berbagai produk yang
seluruhnya berasal dari luar negeri. "Sebenarnya, Kalsel sempat memiliki produk
komputer lokal bernama PC Kalcom. Demikian pula di Kaltim dengan PC Kaltim dan PC Itah di
Kalteng.
Produk-produk itu didukung Intel, pabrik komputer ternama di dunia. Namun, sekarang di
Kalsel sudah tidak ada lagi, karena tidak ada lagi dukungan dari pemerintah daerah,"
beber pemilik PT Amalia Nur Wisata, Tours and Travel ini. ck5/tri/kcm