- Soeharto tersenyum
- Joko Bodo: Sulit meninggal
- Gus Dur desak diadili
Jakarta, BPost
Di saat tuntutan rakyat mengeras terhadap peradilan HM Soeharto, diam-diam
pemerintah menyiapkan upacara kenegaraan untuk mengantisipasi kemungkinan mantan Presiden
RI kedua itu tutup usia.
Kematian memang di tangan Tuhan. Tapi manusia berkewajiban mempersiapkan segala
kemungkinan. Mulai Jumat (19/5) kemarin, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono
mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk upacara kenegaraan.
"Presiden sudah memanggil Panglima TNI, Menko Polhukam dan Menteri Agama, untuk
membicarakan semua kemungkinan yang ada," tutur Wapres Jusuf Kalla di Kantor Wapres
Jl Medan Merdeka Selatan Jakarta Pusat, kemarin.
Ketika pejabat teras itu dipanggil beberapa saat setelah Presiden menjenguk Soeharto di
Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jumat pagi. "Presiden minta masukan tentang
kondisi terakhir (Soeharto) dan laporan sesuai porsi tugas masing-masing," kata Andi
Mallarangeng, Jubir Kepresidenan.
Menurut Andi, Soeharto dalam kondisi sadar saat ditemui Yudhoyono dan tampak ingin
berkomunikasi dengan presiden. Namun, sulit terlaksana meski telah dibantu Mbak Tutut.
"Presiden akhirnya berbicara dengan pihak keluarga dan tim dokter tentang
kesehatan Pak Harto. Tidak sempat membicarakan pengendapan kasusnya, di sana cuma 20
menit," tutur Andi.
Sekitar pukul 07.45 WIB, Presiden yang mengendarai mobil pribadi Mercedez warna hitam
Nopol B 1905 BS, menjengkuk Soeharto. Ia didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono, Seskab Sudi
Silalahi, Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal. "Menjadi kewajiban moral saya
untuk menjenguk beliau," kata Presiden.
Presiden memerintahkan tim dokter kepresidenan untuk merawat dan mengobati Soeharto
semaksimal mungkin. "Saya ingin pengobatan dilakukan sebaik-baiknya, siapa pun itu
baik pemimpin sekarang atau ke depan. Dan ini sebagai bagian dari kearifan bangsa,"
tandas Yudhoyono.
Tak hanya presiden, Wakil Ketua DPR, Zaenal Maarif malah sempat membuat gempar.
Usai menjenguk Soeharto, Kamis (18/5), ia mengimbau bangsa Indonesia agar mendoakan
Soeharto untuk pergi dengan khusnul khotimah. Alasannya, kondisi kesehatannya memburuk.
Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar Yorris Raweyai pun meramaikan kesungguhan
gawatnya jiwa Soeharto. Yorris menepis rumor yang menginformasikan Soeharto sudah
meninggal, usai menjenguk Soeharto pukul 17.20 WIB kemarin.
Kegawatan Soeharto baru sirna, tatkala Menteri Urusan Pemberdayaan Perempuan Meutia
Farida Hatta menjenguknya pukul 15.30 WIB. Meutia meyakinkan Soehartp masih sadar dan bisa
tersenyum. "Saya mengatakan (kepada Soeharto) mewakili keluarga Hatta. Beliau bilang,
oh iya," beber Meutia.
Direktur RSPP Adji Suprajitno mengemukakan, kondisi Soeharto belum banyak berubah.
"Sejak operasi hingga selesai tidak diperoleh hal-hal luar biasa. Masa kritis Pak
Harto belum terlewati," ungkap Adji. Hingga kemarin Soeharto masih menggunakan alat
pacu jantung dan alat bantu pernapasan.
Kalitan Adem Ayem
Meski kesehatan Soeharto memburuk, suasana di Ndalem Kalitan Solo, tetap biasa. Tak ada
kegiatan mencolok di kediaman pribadi Soeharto itu. Kepala rumahtangga Kalitan, Sriyanto,
menolak berkomentar terkait kondisi Soeharto yang kritis. "Jangan nggege mongso
(mendahului kehendak Tuhan). Sebaiknya, kita berdoa bersama-sama untuk kesembuhan
beliau," katanya.
Ndalem Kalitan adalah rumah Soeharto yang dibeli sekitar tahun 1969. Rumah tersebut
awalnya milik Gusti Ratu Alit, puteri Pakubuwono X. Layaknya rumah bangsawan tempo dulu,
rumah yang terletak di Jl Kalitan ini dekat Istana, sekitar 3 km dari arah barat daya
Keraton Kasunanan Solo atau 2 km sebelah barat Istana Mangkunegaran. Ketika Ny Tien
Soeharto meninggal, jenazah disemayamkan di rumah itu sebelum dibawa ke makam keluarga
Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar.
Pasang-surut berikut kontroversi sakit Soeharto ini menurut kaca mata bathin Ki Joko
Bodo, berhubungan dengan hal-hal mistis. Soeharto digambarkan sebagai tokoh Kejawen yang
yang dipenuhi aura kekuatan. Dan di usianya yang sudah sepuh, sewajarnya membersihkan aura
itu.
"Secara spiritual dia harus melakukan acara-acara ritual guna mencabut semua
kekuatan atau ilmu mistik yang dimiliki," kata paranornal laris ini di Hotel Ibis
Malioboro, Yogyakarta.
Menurut pria yang mempertinggi ilmu kanuragannya dengan bersemedi di gunung-gunung ini,
aura kekuatan yang melekat pada Pak Harto menyebabkan dia tidak mempan didemo atau pun
dihujat. "Karena banyak aura mistik yang memancar dari dalam tubuhnya sebagai
proteksi dirinya," katanya.
"Karena pengaruh kekuatan yang lain dalam dirinya itu yang sangat kental, apa yang
dimiliki Soeharto adalah kekuatan supranatural yang luar biasa. Ketika (ada yang)
berhadapan di depan dia, langsung takluk dan hormat," tandas pria yang pernah masuk
MURI karena berhasil menggendam seratus orang hingga tertidur selama 10 menit di TMII itu.
Ini memang pendapat mistis. Boleh percaya, boleh tidak. Tapi, bukankah
presiden-presiden di Indonesia juga percaya dengan dunia klenik ini? Sampai-sampai media
asing terkemuka, The New York Times pernah memberitakan tentang klinikisme para
presiden RI.
Artikel yang dimuat pada edisi 20 Agustus 2001 itu berjudul, Jakartas Rulers
Ever in Need of Ghostly Guidance.JBP/kcm/dtc/mic/ant/ade/yul