:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
FEMALE
Nusantara
B O R N E O
Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
Olahraga
Ragam
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 21 Mei 2006 03:12


Kaum Nasionalis Menggugat

Jakarta, BPost
Negara dalam keadaan genting. Mantan Ketua MPR Amien Rais dan sejumlah tokoh nasional memperingatkan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla agar membuat kebijakan yang lebih prorakyat, bukan justru mementingkan asing.

"Bisa saja suara-suara yang tidak sabar menginginkan perubahan, akan turun ke jalan. Itu bisa saja cepat dan bisa saja terjadi," ucap Amien dalam Sarasehan Kebangkitan Bangsa untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional, di Gedung Joeang’45, Jakarta, Sabtu (20/5).

Dalam acara ini hadir sejumlah tokoh nasional seperti mantan Meneg Perencanaan Pembangunan Nasional Kwik Kian Gie, budayawan Emha Ainun Nadjib, wartawan senior Rosihan Anwar, Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik Dita Indah Sari serta sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Sebenarnya Amien mengundang Yudhoyono, namun dia tidak memenuhi undangan itu, karena pihak istana menilai undangan yang disampaikan sangat tidak sopan. Pasalnya, hanya berupa secarik kertas tanpa amplop dengan nama ditulis dengan spidol. Selain itu, Yudhoyono juga harus menghadiri acara yang digelar Aa Gym di Bandung.

Lebih jauh dikatakan Amien, saat ini bangsa asing mendapatkan keuntungan lebih besar dibanding rakyat Indonesia. "Kondisi ini jelas sebuah kelucuan," katanya.

Disebutkan Amien, sudah banyak negara di dunia ini yang berani menegosiasi ulang kontrak kerja dengan asing. "Tapi, kenapa Indonesia masih menutup mata," tukasnya.

Pernyataan lebih tegas dilontarkan Rosihan Anwar, "Bangsa ini sudah bobrok, bejat, bohong, brengsek!"

Dalam pertemuan ini, para tokoh yang hadir secara bergantian menyampaikan pandangan mereka terhadap pemerintahan Yudhoyono yang sudah berjalan dua tahun. Mereka menyimpulkan Indonesia tak mandiri karena begitu banyaknya peran asing menguasai sumber daya. Contohnya, Freeport, blok minyak Cepu, dan Newmont.

"Kesimpulan pertemuan ini memberikan teguran keras kepada pemerintah agar tidak mudah atau gampang menyerahkan sumber daya alam secara sewenang-wenang kepada asing," kata Amien.

Usai mengikuti sarasehan, budayawan Emha Ainun Najib menyatakan, pertemuan sejumlah tokoh nasional bukanlah sebagai bentuk aksi penggalangan dukungan atau semacam kampanye untuk menjagokan Amien Rais sebagai calon presiden. Pertemuan bukan bersifat politis, melainkan hanya mengingatkan pemerintahan bawhwa rakyat di mana-mana telah bergejolak. "Pertemuan ini bukan urusan berkuasa atau tidak. Ini karena rakyat menderita. Tangisan rakyat ada di mana-mana," ucap Emha.

Namun Emha menyatakan sejumlah penyesalannya selama menjadi anggota bangsa Indonesia. Salah satu penyesalannya adalah Amien Rais yang batal menjadi presiden. "Amien Rais seharusnya sudah bisa menjadi presiden pada 22 Mei 1998. Saat itu, Soeharto jatuh, DPR dan MPR pun sudah bubar. Sehingga pelarian Soeharto beralih ke MPRS, meskipun saat itu namanya dikamuflase menjadi Komite Reformasi. Makanya, waktu itu kita tidak punya tokoh lain selain Amien Rais," ujar Emha.

Menurut dia, Komite Reformasi terdiri dari 45 orang, termasuk Amien Rais dan dirinya. "Saat itu, saya menganggap ada tiga orang yang tidak reformis dalam komite ini, yaitu Soeharto, Wiranto, dan Akbar Tandjung. Tapi, kelak saya ketahui bahwa yang tidak reformis hanya Soeharto. Wiranto dan Akbar ternyata reformis," kata Emha yang disambut gelak tawa.

Sarasehan ini sempat diwarnai kericuhan ketika seorang pria menuding Amien Rais hanya bisa pintar ngomong. Amien sempat meladeni orang itu, namun akhirnya pria misterius itu digiring ke luar ruangan karena dinilai sebagai provokator.

Sebelumnya pria misterius menanyakan mengapa Amien saat menjadi ketua MPR mengubah pasal 33 yang menyebabkan ekonomi Indonesia tidak lagi menjadi ekonomi kerakyatan. "Dengan perubahan itu, orang asing akan menjadi lebih gampang masuk dan mengintervensi ekonomi kerakyatan Indonesia," katanya sambil menuding ke arah Amien.

Amien pun meluruskan tentang perubahan pasal 33 UUD 45. "Tidak, Anda salah persepsi. Ada pasal yang tidak berubah yaitu kekayaan alam, air, dan tanah harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat," jelas Amien.

Namun, pria itu masih tidak terima. "Lalu kenapa pasal 33 diubah, pasal 29 tidak diubah?" tanya pria itu dengan ketus.

"Kalau pasal 29 diubah, negara kita bubar," kata Amien dengan nada tinggi. mien akhirnya meminta orang itu keluar ruang. Sejumlah panitia pun dengan sigap menggiringnya ke luar gedung Joeang.

Terpisah, Yudhoyono meminta semua pihak meninggalkan budaya merusak dan berhijrah menuju budaya membangun. "Tinggalkan kebiasaan bermusuhan, mulai bersatu dan tidak berpecahan. Saya yakin bangsa ini bisa maju," kata Yudhoyono pada acara Gema Nusa di Monumen Perjuangan Bandung Lautan Api, Tegallega, Bandung,

Menurut dia, budaya merusak adalah kesalahan besar. Karena itu, Yudhoyono berharap agar masa krisis selama 8 tahun terakhir segera berakhir dan Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan. JBP/tof/dtc

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Kaum Nasionalis Menggugat

"Pak Harto Minta Maaf"


147 Santri Keracunan Cap Cay


Ditangkap Polisi


Iqbal Belum Bisa Makan


Guru Anak Jalanan


Ujian Bagi Rossi


Tragedi 4 Siswa sma di pantai kuta
Hujan Tangis Di Balik Deburan Ombak


Petani Merapi Rugi Rp1,3 M


Simbol Orang Yogya


Sajian Istimewa Ariel


Flexi, Star One, Esia Disemprit


Dibilang Monyet, Gergaji Kepala Tetangga


Bangkitkan Film Indonesia


Bea Cukai Direformasi


Tewas Usai Lari Dengan Aa Gym


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123