Jakarta, BPost
Negara dalam keadaan genting. Mantan Ketua MPR Amien Rais dan sejumlah tokoh nasional
memperingatkan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla agar membuat
kebijakan yang lebih prorakyat, bukan justru mementingkan asing.
"Bisa saja suara-suara yang tidak sabar menginginkan perubahan, akan turun ke
jalan. Itu bisa saja cepat dan bisa saja terjadi," ucap Amien dalam Sarasehan
Kebangkitan Bangsa untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional, di Gedung
Joeang45, Jakarta, Sabtu (20/5).
Dalam acara ini hadir sejumlah tokoh nasional seperti mantan Meneg Perencanaan
Pembangunan Nasional Kwik Kian Gie, budayawan Emha Ainun Nadjib, wartawan senior Rosihan
Anwar, Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik Dita Indah Sari serta sejumlah anggota Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Sebenarnya Amien mengundang Yudhoyono, namun dia tidak memenuhi undangan itu, karena
pihak istana menilai undangan yang disampaikan sangat tidak sopan. Pasalnya, hanya berupa
secarik kertas tanpa amplop dengan nama ditulis dengan spidol. Selain itu, Yudhoyono juga
harus menghadiri acara yang digelar Aa Gym di Bandung.
Lebih jauh dikatakan Amien, saat ini bangsa asing mendapatkan keuntungan lebih besar
dibanding rakyat Indonesia. "Kondisi ini jelas sebuah kelucuan," katanya.
Disebutkan Amien, sudah banyak negara di dunia ini yang berani menegosiasi ulang
kontrak kerja dengan asing. "Tapi, kenapa Indonesia masih menutup mata,"
tukasnya.
Pernyataan lebih tegas dilontarkan Rosihan Anwar, "Bangsa ini sudah bobrok, bejat,
bohong, brengsek!"
Dalam pertemuan ini, para tokoh yang hadir secara bergantian menyampaikan pandangan
mereka terhadap pemerintahan Yudhoyono yang sudah berjalan dua tahun. Mereka menyimpulkan
Indonesia tak mandiri karena begitu banyaknya peran asing menguasai sumber daya.
Contohnya, Freeport, blok minyak Cepu, dan Newmont.
"Kesimpulan pertemuan ini memberikan teguran keras kepada pemerintah agar tidak
mudah atau gampang menyerahkan sumber daya alam secara sewenang-wenang kepada asing,"
kata Amien.
Usai mengikuti sarasehan, budayawan Emha Ainun Najib menyatakan, pertemuan sejumlah
tokoh nasional bukanlah sebagai bentuk aksi penggalangan dukungan atau semacam kampanye
untuk menjagokan Amien Rais sebagai calon presiden. Pertemuan bukan bersifat politis,
melainkan hanya mengingatkan pemerintahan bawhwa rakyat di mana-mana telah bergejolak.
"Pertemuan ini bukan urusan berkuasa atau tidak. Ini karena rakyat menderita.
Tangisan rakyat ada di mana-mana," ucap Emha.
Namun Emha menyatakan sejumlah penyesalannya selama menjadi anggota bangsa Indonesia.
Salah satu penyesalannya adalah Amien Rais yang batal menjadi presiden. "Amien Rais
seharusnya sudah bisa menjadi presiden pada 22 Mei 1998. Saat itu, Soeharto jatuh, DPR dan
MPR pun sudah bubar. Sehingga pelarian Soeharto beralih ke MPRS, meskipun saat itu namanya
dikamuflase menjadi Komite Reformasi. Makanya, waktu itu kita tidak punya tokoh lain
selain Amien Rais," ujar Emha.
Menurut dia, Komite Reformasi terdiri dari 45 orang, termasuk Amien Rais dan dirinya.
"Saat itu, saya menganggap ada tiga orang yang tidak reformis dalam komite ini, yaitu
Soeharto, Wiranto, dan Akbar Tandjung. Tapi, kelak saya ketahui bahwa yang tidak reformis
hanya Soeharto. Wiranto dan Akbar ternyata reformis," kata Emha yang disambut gelak
tawa.
Sarasehan ini sempat diwarnai kericuhan ketika seorang pria menuding Amien Rais hanya
bisa pintar ngomong. Amien sempat meladeni orang itu, namun akhirnya pria misterius itu
digiring ke luar ruangan karena dinilai sebagai provokator.
Sebelumnya pria misterius menanyakan mengapa Amien saat menjadi ketua MPR mengubah
pasal 33 yang menyebabkan ekonomi Indonesia tidak lagi menjadi ekonomi kerakyatan.
"Dengan perubahan itu, orang asing akan menjadi lebih gampang masuk dan
mengintervensi ekonomi kerakyatan Indonesia," katanya sambil menuding ke arah Amien.
Amien pun meluruskan tentang perubahan pasal 33 UUD 45. "Tidak, Anda salah
persepsi. Ada pasal yang tidak berubah yaitu kekayaan alam, air, dan tanah harus digunakan
sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat," jelas Amien.
Namun, pria itu masih tidak terima. "Lalu kenapa pasal 33 diubah, pasal 29 tidak
diubah?" tanya pria itu dengan ketus.
"Kalau pasal 29 diubah, negara kita bubar," kata Amien dengan nada tinggi.
mien akhirnya meminta orang itu keluar ruang. Sejumlah panitia pun dengan sigap
menggiringnya ke luar gedung Joeang.
Terpisah, Yudhoyono meminta semua pihak meninggalkan budaya merusak dan berhijrah
menuju budaya membangun. "Tinggalkan kebiasaan bermusuhan, mulai bersatu dan tidak
berpecahan. Saya yakin bangsa ini bisa maju," kata Yudhoyono pada acara Gema Nusa di
Monumen Perjuangan Bandung Lautan Api, Tegallega, Bandung,
Menurut dia, budaya merusak adalah kesalahan besar. Karena itu, Yudhoyono berharap agar
masa krisis selama 8 tahun terakhir segera berakhir dan Indonesia bisa bangkit dari
keterpurukan. JBP/tof/dtc