Banjarbaru, BPost
Wajah Nikmatul Jannah masih pucat. Kedua mata gadis berjilbab itu masih sayu. Gerakan
tubuhnya lemah. Maklum saja, hampir seharian sejak Sabtu (20/5), dia muntah-muntah.
Geger Cap cay |
Jumat (19/5)
- Pkl 00.00: Jurumasak ponpes memasak cap cay terdiri dari sayuran sawi, wortel
dan telur.- Pkl 20.00: Para santri wanita mengambil
jatah makan malam. Sementara sebagian menyimpannya.
- pkl 23.30: Sebagian santri memakan cap cay yang disimpan.
Sabtu (20/5)
- Pkl 13.30: Sejumlah santri tiba-tiba merasakan pusing, mual-mual dan mencret.
- Pkl 14.30: Semakin banyak santri yang pusing dan
mual-mual.
- Pkl 15.30: Sebagian santri langsung dilarikan ke
RSUD Banjarbaru.
- Pkl 21.45: Sejumlah santri lainnya menyusul dikirim ke
RSUD Banjarbaru.
- Pkl 22.30: Evakuasi para korban keracunan terus dikirim
ke RSUD Banjarbaru
- Pkl 23.50: Puluhan korban lainnya dirawat darurat
di Ponpes Al Falah.
- Pkl 00.15: Dinkes Banjarbaru mengirim tim medis beserta
obat- obatan ke ponpes.
- Pkl 00.35: Beberapa santri yang cukup parah dikirim ke
RSUD Banjarbaru
Minggu (21/5)
- Pkl 10.00: Sampel makanan cap cay diperiksa Dinkes. Dugaan sementara makanan
mengandung zat kimiawi nitrit (NO2) yang biasa terdapat pada racun tikus. |
Selang infus masih menempel di punggung tangan kirinya. Sesekali dia memegang perutnya.
"Masih terasa mual," ucap belia berkulit putih itu dengan nada dipaksakan ketika
ditemui di RSUD Banjarbaru, Minggu (21/5).
Ruang perawatan RSUD Banjarbaru pun tampak ramai. Silih-berganti orang berdatangan.
Demikian pula kerabat Nikmatul, santri Pondok Pesantren Putri Al Falah, Banjarbaru, yang
menjadi korban keracunan cap cay yang disantap bersama pada Jumat (19/5) malam lalu.
Nikma, --begitu remaja berwajah manis ini akrab disapa-- pasrah. Pasalnya, keinginannya
untuk mengikuti ujian nasional (UN), Senin (22/5) ini tidak terwujud.
Gadis ini berulangkali mengungkapkan keinginannya ikut UN. Bahkan, sambil terbaring
putri terakhir dari empat bersaudara ini tetap belajar. "Ulun kawa lah umpat ujian
esok. Masih pusing, rasa berat kepala ulun (Saya bisa tidak ikuti ujian besok. Masih
pusing, kepala masih berat)," tutur dia kepada saudara sepupunya yang menungguinya.
Namun dokter menyatakan, kondisinya masih belum memungkinkan bagi siswi kelas III
Madrasah Tsanawiyah ini mengikuti UN. "Tapi tak apalah kalau harus mengikuti ujian
susulan," ujarnya lirih.
Sejumlah staf pengajar dan pengasuh Ponpes Al Falah, kemarin, terus melakukan pendataan
pada santri yang keracunan dan tercatat sebagai peserta UN. "Terus terang kami belum
begitu tahu, bagaimana UN besok. Tapi, kemungkinan susulan. Kami masih terus mendata.
Insya Allah jumlahnya tidak banyak, sekitar sepuluh 10 saja. Kami agak kesulitan mendata,
pasalnya ada santri yang dibawa pulang orangtuanya," beber Hasbulllah, pengasuh
Ponpes Al Falah Putri.
Tak Disangka
Sementara raut muka Sibli (38) terlihat cemas. Pria ini datang jauh-jauh dari Tamban,
Kapuas, Kalimantan Tengah, untuk melihat langsung kondisi anak sulungnya, Mirnawati (14)
yang juga menjadi korban keracunan makanan itu. "Saya dapat kabar dari sepupu Mirna,
yakni Purnamawati bahwa Mirna sakit dan dirawat di rumah sakit," tutur Sibli.
Ketika tiba di Ponpes Al Falah, dia menyaksikan banyak anak-anak sebaya Mirna, sedang
dirawat. "Ya Allah, saya tak menyangka kalau anak saya keracunan. Ketika dikabari,
saya tidak diberitahu perihal sakitnya Mirna," tutur Sibli yang hingga malam tadi,
kondisi putrinya belum pulih.
Sibli mengaku istrinya, Hj Simah masih belum mengetahui kondisi anak mereka. "Saya
belum memberitahukan hal ini ke istri saya. Saya tidak tega kalau-kalau dia nanti panik
mengetahui kejadian sebenarnya. Nanti, kalau Mirna sudah membaik, baru saya kabari,"
katanya.
Sari Yanti (13), santriwati paling muda, kondisinya juga memprihatinkan. Dia terlihat
menangis, meski teman-temannya terus berupaya menenangkannya.
Yanti mengaku dada dan lambungnya terasa sesak, sehingga dia sulit bernafas. Perawat
kemudian membawa alat bantu pernafasan. Selepas itu, kondisi Yanti berangsur-angsur
stabil. Ia duduk bersandar ke dinding ruangan sambil sesekali mengurut dada.
Di ruang aula itu ada sembilan remaja putri, yakni Irma, Mahdalena, Mirnawati, Khairun
Nufus, Mardiana, Nor Hikmah, Lia Rusiati, Sari Yanti dan Syarifah Umi Kulsum. Sementara
tiga lainnya dirawat di lantai dasar ruang Camar, yakni Noor Hidayah, Noor Hasanah dan
Siti Rahmah.
Dari informasi petugas jaga, di RSUD Banjarbaru, paling tidak ada 30 remaja putri yang
sempat dirawat inap, sejak pasien pertama masuk Sabtu (20/5) siang. Korban kebanyakan,
dirawat di Posko Al Falah.
Sementara para juru masak di Ponpes Al Falah mengaku telah menjalankan tugasnya dengan
baik termasuk menjaga kebersihan makanan yang mereka masak. Karenanya mereka pun bingung
ketika terjadi peristiwa keracunan terhadap para santri wanita.
"Kami bingung jua kenapa sampai kayaini kejadiannya (Kami juga bingung
kenapa sampai seperti ini kejadiannya). Padahal, kami selalu menjaga kebersihan masakan
yang kami masak," tutur Ny Iwan, seorang jurumasak kepada BPost. (baca:
Pengakuan Jurumasak di halaman 13)
Bertambah
Sementara itu di Ponpes, tidak ada aktivitas apapun kecuali menyelamatkan ratusan
santri yang menjadi korban keracunan makanan. "Terus terang kalau kerugian material
belum ada, tapi kalau kerugian waktu, memang iya. Kita semua, baik guru, pengelola maupun
orangtua santri fokus menyelamatkan santri," jelas Hasbullah.
Data terakhir pukul 20.15 Wita, jumlah korban yang terekam di Posko Ponpes sebanyak 231
santri putri. Pantauan BPost, tidak sampai hitungan jam, jumlah santri yang
berdatangan ke posko perawatan darurat di kantor Kompleks Ponpes terus bertambah. Keluhan
mereka beraneka ragam. Mulai hanya pusing, sampai gejala berat seperti muntaber.
Beruntung stok obat dan tenaga medis tidak beranjak dari posko. Kendati obat yang
sifatnya paten tidak disediakan, karena pasien di sini hanya dirawat bersifat sementara.
Sebagai antisipasi santri yang sempat mengonsumsi cap cay diberikan susu beruang. niz/adi