Dili, BPost
Puluhan warga Indonesia berlarian menyelamatkan diri menuju Kedutaan Besar Republik
Indonesia, di ibukota Timor Leste, Dili, Kamis (25/5). Mereka terjebak di tengah kontak
senjata pasukan pemerintah dengan kelompok milisi FDTL (Angkatan Bersenjata Timor Leste)
yang beberapa waktu lalu dipecat.
Sumber di Dili melaporkan, baku tembak pasukan pemerintah dengan milisi berlangsung
sporadis di seluruh penjuru kota. Di tengah kontak senjata, juga terjadi aksi pembakaran
sejumlah bangunan disertai penjarahan.
"Di setiap lokasi ada rumah yang terbakar, tapi dipilih," kata Komisaris
Besar Minton Simanjuntak, pejabat Polri yang ditempatkan di Kedubes RI.
Konflik bersenjata di Timor Leste makin meluas. Bahkan kini melibatkan tentara nasional
dan polisi nasional Timor Leste. Dalam sebuah kontak senjata itu tujuh orang tewas dan 38
lainnya luka-luka.
Jumlah korban tewas dalam konflik bersenjata hingga beberapa hari ini diperkirakan
mencapai 20 orang. Selain itu tiga polisi PBB juga ikut terluka dalam peristiwa baku
tembak.
Seorang warga Dili mengatakan, situasi saat ini tidak bisa diprediksi. "Tembakan
keras masih terdengar di sana-sini. Keadaan sudah tidak bisa dikontrol. Kami mulai agak
takut karena banyaknya isu yang beredar, dan saat ini tembakan keras masih terjadi di
Lahane dan Becora," kata seorang ibu rumah tangga.
Sekitar 3.000 warga Indonsia di Timor Leste kini masih terjebak di sekitar kota Dili.
Sebagian besar dari mereka mencari perlindungan ke KBRI dan berbagai tempat di antaranya
kompleks Gereja Santo Yosef. Hingga siang kemarin, sudah ada sekitar 50 warga Indonesia
yang mengamankan diri di Kompleks Kedubes RI.
Sejauh ini, belum ada laporan adanya korban dari warga Indonesia dalam baku tembak
pasukan pemerintah dengan milisi yang sudah berlangsung dalam sepekan terakhir.
Warga Indonesia sulit meninggalkan Timor Leste karena seluruh pintu keluar diblokir
oleh tentara pemberontak dan masyarakat negara itu sejak Selasa (23/5) lalu.
"Pemerintah tak dapat mengevakuasi mereka karena bukan wilayah kita," kata
Danrem 161 Wirasakti Nusa Tenggara Timur Kupang Kolonel (Inf) APJ Noch Bola, di Kupang.
Menurutnya, semua jaringan ke Timor Leste langsung tertutup. Transportasi darat lumpuh
dan semua sarana angkutan berhenti beroperasi. Pihak Kedutaan Besar RI Dili telah meminta
semua warga Indonesia untuk tidak keluar rumah apabila tidak ada keperluan yang mendesak
serta selalu koordinasi dengan staf KBRI.
Dubes RI untuk Timor Leste Ahmed Bey Sofwan sendiri belum berencana mengevakuasi
personel KBRI beserta keluarga mereka keluar dari Timor Leste. "(Lagi pula)
Pemerintah Timor Leste masih menjamin keamanan," katanya.
Dari sekitar 3.000 warga Indonesia yang berada di Timor Leste, sekitar 1.500 di
antaranya berdiam di Dili, sisanya tersebar di berbagai distrik. Warga Indonesia yang
tinggal di Timor Leste sebagian besar karena menikah dengan warga setempat. Lainnya,
pengusaha kecil yang membuka toko sembako dan restoran.
Terkait kerusuhan itu, Australia telah mengirimkan 1.300 personel tentara yang tiba
Kamis kemarin. Portugal dan Selandia Baru menyatakan siap menempatkan pasukannya di negara
bekas provinsi RI itu. Mereka semua terkoordinasi dalam pasukan perdamaian PBB.
Menlu Timor Leste, Jose Ramos Horta menegaskan kehadiran pasukan asing kemungkinan
dibutuhkan untuk waktu yang cukup lama. "Misi ini bisa bertahan hingga 10 tahunan,
yakni pada dua putaran pemilu tahun 2007 dan 2012," kata Horta.
Sementara itu, Presiden Yudhoyono menyatakan pemerintah Indonesia siap memberikan
bantuan kemanusiaan, bila diperlukan
Yudhoyono memahami Indonesia tidak diminta bantuan mengirimkan satuan militer maupun
polisi. "Karena bisa menyulitkan posisi Indonesia, apalagi dunia ataupun Timor Leste
belum tentu menyambut baik," jelas presiden usai rapat mendadak membahas masalah
Timor Leste, malam tadi
Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyatakan belum memutuskan mengirim pasukan ke
Timor Leste. "Tidak ada permintaan (pasukan TNI). TNI hanya akan memperketat
kesiagaan di perbatasan Timur Leste-Indonesia. Tapi bukan siaga satu," katanya.
Selain itu Djoko juga menegaskan TNI akan menolak eksodus warga Timor Leste yang
memasuki wilayah Indonesia. Namun kebijakan ini tidak berlaku bagi WNI yang berada di
negara yang sedang rusuh itu.
Dipecat
Kerusuhan pertama kali meletus di Dili, bulan lalu, ketika 600 prajurit dari 1.400
personil militer dipecat Panglima FDTL Taur Matan Ruak karena mereka meninggalkan barak
setelah mengeluhkan adanya diskriminasi dalam promosi jabatan.
Situasi di Dili digambarkan Aderito Hugo da Costa, pemimpin redaksi sebuah harian surat
kabar setempat, seperti killing fields (ladang pembantaian dalam konflik Kamboja, Red).
"(Kondisi) Pertempuran itu disertai penyusupan para pemberontak dan mereka
berupaya menguasai kota Dili."
Presiden Xanana Gusmao telah mengambil alih pemerintahan, meski PM Marie Alkatiri belum
menyatakan mengundurkan diri.
Sementara Mayor Alfredo Reinhado, pemimpin 600-an tentara pemberontak menyatakan tidak
bermaksud menggulingkan pemerintah. Pihaknya hanya tidak puas dengan diskriminatif di
tubuh angkatan darat. JBP/aco/ade/yat/bec/afp/kcm/ant/PK