"Tolong.. yang menolong anakku, saya mohon dibawa ke sini (RS). Anakku namanya
Siska Mustika," ujar Ny Titin terbata di atas hamparan kasur tanpa selimut RSUD Dr
Soeradji Tirtonegoro, Klaten.
Perempuan ini merupakan satu dari sekian ribu korban gempa dahsyat yang melanda
wilayah Jogjakarta, Sabtu (27/5) pagi. "Saat itu saya lari keluar rumah, menggendong
anakku yang berusia dua tahun. Tapi, punggungku tertimpa reruntuhan tembok hingga
terjerembab," tutur Ny Titin dengan mata berkaca-kaca.
Di antara menahan rasa sakit dan ketakutan, Ny Titin mencoba melambai-lambaikan tangan.
Ia berharap orang yang melihat, menolong anaknya. Nasib mujur pun datang, ia ditolong lalu
dilarikan ke rumah sakit terdekat.
"Saya ditolong, tapi saya nggak tahu siapa yang menolong anak saya,"
katanya sambil meneteskan air mata. Sang anak ternyata luput dari pertolongan orang yang
tak dikenalnya itu.
"Saya lihat anak saya yang lepas dari gendongan, kena reruntuhan. Saya lihat
terakhir kali, anak saya itu penuh darah," jelas Ny Titin. Seingatnya, ia dibawa ke
rumah sakit terdekat. Begitu jumlah pasien melimpah, dia pun rela dibawa ke rumah sakit
lainnya di kota Klaten.
Kepala Ny Titin mengucurkan darah, hampir rata-rata luka yang dialami korban di Jogja.
Reruntuhan tembok rumahnya menghantam punggung dan kepalanya. "Bagian kepala saya
yang terluka dijahit. Tapi, punggung dan kaki kiri saya tak bisa digerakkan. Saat ini saya
tidak bisa apa-apa," tuturnya.
Dalam derita seperti ini, Ny Titin pun berharap suaminya datang menolong, terutama
mencari anaknya yang belum ditemukan. "Suami saya di Kalimantan. Saya berharap segera
kembali ke Klaten mencari anak kami. Tolong kalau dengar berita ini, jemput kami,"
ujar Ny Titin kembali sesenggukan. c5/JBP/ade/mtv