Jogja, BPost
"Kami bukan tontonan, tapi kami butuh bantuan". Kalimat itu tertulis mencolok di
atas kertas karton yang dipampang dua lelaki berwajah kusut di tepi jalan.
Korban Meninggal |
Jogjakarta : 129 orang
Bantul : 2.708 orang
Sleman : 174 orang
Gunung Kidul : 39 orang
Kulon Progo : 15 orang
Klaten : 1.542 orang
Boyolali : 3 orang
Magelang: 1 orang
Total 4.611 orang |
Luka berat : 1.870 orang
Luka ringan : 1.716 orang
Jumlah 3.586 orang |
Rumah
Roboh/Rusak |
Bantul 7.054 rumah
Sleman 560 rumah
Jogyakarta 769 rumah
Kulonprogo 3.023 rumah
Gunungkidul 2.745 rumah
Total 13.368 rumah |
| Kerugian: Rp2,5 triliun |
| Sumber: Depsos/Depkes/Satkorlak |
Tono dan Kelik, sejak Minggu (28/5) pagi sudah berdiri di pinggir jalan raya Klaten,
Jawa Tengah. Keduanya memegang kaleng bekas susu dan dijulurkan ke arah kendaran bermotor
yang berseliweran di jalan itu.
Tidak hanya mereka. Ada puluhan bahkan ratusan orang dari Kecamatan Wedi dan
Gantiwarno, Kabupaten Klaten melakukan hal sama. Mereka terpaksa mengemis untuk sekadar
menyambung hidup yang tak jelas akibat gempa bumi yang terjadi Sabtu (27/5) kemarin.
Musibah gempa telah mengubah hidup ribuan warga di kedua kecamatan tersebut. Lelaki,
perempuan, anak-anak dan orangtua menjadi pengemis dadakan. Mereka terpaksa mengais rezeki
dengan mengharap uluran tangan pengguna jalan sepanjang tujuh kilometer itu.
Ribuan penduduk Wedi dan Gantiwarno hanyalah bagian kecil dari puluhan ribu pengungsi
korban gempa bumi. Tragisnya, kini mereka banyak yang menjadi pengemis di Kabupaten
Bantul, Sleman, Kulonprogo, Jogjakarta. Ini mereka lakukan karena belum menerima bantuan
terutama makanan hingga kemarin.
Meski menyadari pemerintah memberi perhatian wilayah lain yang terkena gempa lebih
parah, "Namun, kami juga korban, seharusnya pemerintah juga memberi perhatian,"
sungut Marmo, satu korban di Kulonprogo.
Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari Ponorogo, Jawa Timur, meminta
warga di Jogjakarta dan Jawa Tengah tetap tegar dan tawakal menyikapi bencana gempa bumi
yang menelan korban sekitar ribuan jiwa itu.
"Jangan berkecil hati menyikapi musibah. Bencana itu datang tidak diduga-duga. Dan
itu adalah kehendak Allah," kata Yudhoyono, saat memberi sambutan pada Resepsi
Kesyukuran 80 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jatim.
Di lain pihak Bank Pembaunan Asia (ADB) menjanjikan membantu tahapan rehabilitasi dan
rekontruksi pemukiman penduduk pascagempa bumi di Jogjakarta maupun kota-kota lainnya di
Jawa Tengah. Namun, ADB belum menetapkan berapa besar bantuan untuk rehabilitasi dan
rekontruksi pemukiman penduduk korban gempa.
"Kami akan bertemu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berdiskusi lagi,"
kata Direktur Jenderal ADB Perwakilan Asia Tenggara, Rajap MN AG usai bertemu Wapres Jusuf
Kalla, di kediaman dinas di Jl Diponegoro, Jakarta. Bantuan ADB bisa dalam bentuk grant
atau hibah maupun pinjaman lunak (soft loan).
Pasokan Tersendat
Wajar saja ribuan pengungsi mengeluh karena bantuan pasokan bahan makanan terhadap
mereka tidak berjalan lancar sebagaimana mestinya. Di suatu tempat pengungsi, warga bisa
menikmati pasokan bahan makanan yang dikoordinasi Satkorlak berjalan baik. Sementara di
beberapa tempat pengungsian lainnya, banyak warga terpaksa menahan lapar karena tidak ada
pasokan bahan makanan dan obat-obatan.
Banyak wanita dan pria berusia lanjut dan anak-anak, tergolek lemah di tepi jalan
kampung Plumutan, Kelurahan Mulyodadi, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul.
Ratusan warga di Plumutan juga tidak bisa berkutik. Hingga saat ini, Kelurahan
Mulyodadi belum tersentuh bantuan. Baik itu logistik, obat-obatan dan tenda untuk tempat
tinggal di tepi jalan.
Kurangnya stok obat-obatan untuk para korban gempa di Jogja dan Jateng, membuat PMI
membongkar empat gudangnya yang ada di Jakarta, Surabaya, Padang, dan Makassar. Hampir
semua isi gudangberupa obatan-obatan, peralatan kesehatan, kantong mayat, dan kantong
darah,diterbangkan ke lokasi gempa.
Dekati Kraton
Hingga hari kedua pascagempa hebat, ribuan warga di Kota Jogyakarta memenuhi alun-alun
agar merasa tenang karena bisa dekat dengan kraton, tempat tinggal Sri Sultan
Hamengkubuwono X.
Pramono (41), warga Panggung Harjo, Bantul, datang ke alun-alun bersama istri serta dua
anaknya yag berusia 4,5 dan 10 tahun.
"Sing penting saget cedak karo kanjeng Sultan (yang penting bisa dekat
dengan Sultan)," ujarnya.
Pengaruh Sultan sangat kuat terhadap warga Jogja. Seperti ketika Sultan yang dikabarkan
memerintahkan warganya mengenakan janur kuning, langsung dipatuhi. Ini
dilakukan ratusan warga Desa Siti Mulya, Kecamatan Piyungan, dan Kecamatan Pleret, Bantul.
Tujuannya, agar terhindar dari bencana.
Menariknya, hampir sebagian besar warga selamat karena mengenakan pita ini sejak Sabtu
(27/5) malam. Pita janur kuning melingkar di lengan kanan atau lengan kiri. JBP/SRY/tof/h10/pop