:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini

Hot Line
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Selasa, 30 Mei 2006 02:55:24


Korban Gempa Terpaksa Menjarah

Jogja, BPost
Balutan kecewa dan rasa lapar yang amat sangat, membuat para korban gempa di Jogjakarta dan Jawa Tengah, mulai hilang kesabaran. Mereka terpaksa melakukan aksi penjarahan terhadap toko-toko yang ditinggal pemiliknya.

Para korban gempa juga mencegat pasokan bantuan logistik untuk para korban bencana alam di daerah lain. Mereka yang sudah terlanjur kecewa atas ketidakjelasan pasokan logistik, juga mencegat mobil-mobil tangki pengangkut bahan bakar minyak.

Penjarahan bantuan logistik terlihat di Kecamatan Kretek, Bantul, Jogjakarta, Senin (29/5). Sementara penjarahan toko-toko dilakukan warga di Kabupaten Gunung Kidul. Mereka membuka paksa toko-toko kelontong yang ditinggal pemiliknya.

"Mereka telah melakukan penjarahan selama dua hari ini. Kalau tidak dicegah, bisa meluas. Mereka menjarah barang seadanya agar bisa bertahan hidup," kata Slamet, Kepala Desa Sumber Tretes, Kecamatan Pathuk, Gunung Kidul. Kabupaten Gunung Kidul merupakan salah satu daerah terkena gempa cukup parah. Di kawasan ini, jumlah korban meninggal mencapai puluhan orang.

Taufikurrakhman, petugas Pos Gempa Pelajar Islam Indonesia Jogyakarta, mengaku tak bisa berbuat apa-apa ketika bantuan logistik yang mestinya didistribusikan untuk warga Bambanglipuro, Bantul, dipalak warga. "Mereka menjarah selimut, tikar, tenda, serta obat-obatan," ungkapnya. Dia juga memaklumi kejadian itu karena lokasi Kretek jauh dari Jogjakarta. Warga di sana emosi karena tak mendapat perhatian dari pemerintah.

Pemantauan BPost, sejak terjadi gempa hingga petang kemarin belum ada satu bantuan pun yang masuk. Padahal, situasi di beberapa daerah ini masih gelap akibat padamnya listrik ditambah minimnya tenda-tenda darurat yang tersedia.

Sementara di jalan raya Jogja-Klaten, ratusan warga mencegat truk-truk tangki berisi BBM. Para sopir truk tangki tak bisa berbuat apa-apa karena takut ancaman warga. Warga mengalirkan BBM jenis minyak tanah dari tangki ke drum-drum yang berjejer di pinggir jalan.

Aksi itu, menurut Parno (32) warga Desa Prambanan, dipicu menghilangnya minyak tanah di pasaran. "Minyak tanah sangat penting untuk memasak maupun penerangan di pascagempa ini," katanya.

Yudhoyono Terjebak

Aksi meminta-minta oleh para korban gempa di pinggir jalan, sempat menghambat perjalanan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meninggalkan Bantul menuju Kota Jogjakarta. Hampir satu jam lebih mobil rombongan presiden merayap di Jl Imogiri sehingga baru memasuki Jogjakarta, siang hari.

Kepada pers di kantor sementara kepresidenan, Gedung Agung Jogjakarta, Yudhoyono kembali menyatakan prihatin karena banyaknya para korban belum menerima bantuan pangan dan obatan-obatan. Karenanya Yudhoyono meminta Gubernur DIJ dan Jateng segera mendistribusikan bantuan. "Segera distribusikan bantuan. Jangan menumpuk di gudang-gudang, jangan menumpuk di tempat-tempat lain. Kita harus menjemput, jangan menunggu permintaan," tegasnya.

Dia juga meminta aparat dan seluruh petugas di kabupaten, kecamatan, dan desa-desa lebih sigap bergerak mencari titik-titik pengungsian yang perlu segera ditangani. "Kita tidak ingin 1 dolar atau 1 rupiah pun bantuan untuk para korban gempa diselewengkan. Bantuan harus itu sampai ke masyarakat," tandas Yudhoyono.

Gubernur DIJ, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengakui ada permasalahan dalam pendistribusian bantuan bagi korban gempa. Permasalahan lambatnya pendistribusian bantuan seperti makanan, selimut dan obat-obatan ke daerah pelosok, karena terbentur birokrasi.

"Karenanya saya memutuskan pengiriman bantuan langsung dari satkorlak provinsi menuju masing-masing lokasi seperti desa atau kecamatan. Jadi tidak lagi melalui kabupaten /kota," katanya.

Terpisah, Menko Kesra Aburizal Bakrie mengatakan, dana yang dibutuhkan merehabilitasi dan rekonstruksi daerah bencana alam gempa bumi di Jogjakarta dan sekitarnya mencapai Rp1,075 triliun. Namun, kata dia, pemerintah hanya memiliki dana pascabencana dalam APBN 2006 ‘hanya’ sebesar Rp300 miliar."Untuk APBN Perubahan akan kita ajukan Rp1,5 triliun dana bencana termasuk kebutuhan untuk Jogja," jelas Aburizal di Jakarta.

Jurubicara Deplu RI Yuri Thamrin mengatakan, hingga kini total bantuan yang dijanjikan sejumlah negara asing di Jogya dan Jateng mencapai 47,7 juta dolas AS dari 14 negara dan 1,6 juta Euro dari tiga negara.

Seorang pejabat Deplu mengatakan, sudah ada enam pesawat asing mendapat izin mendarat di bandara Adi Sumarmo Solo menurunkan bantuan. Pesawat-pesawat itu membawa obat-obatan, makanan, tenda, selimut dan tenaga medis.

Demam

Sementara itu, di beberapa desa di Bantul, warga korban gempa mengalami sejumlah penyakit. Banyak warga mengeluhkan gatal-gatal, diare serta pusing-pusing. Situasi seperti ini terjadi secara massal. Diduga, ini akibat kondisi cuaca dan ketersediaan bantuan makanan dan obat-obatan yang tidak memadai.

Celakanya, belum ada bantuan yang sampai. "Banyak warga yang sakit belum bisa ditolong," ungkap Sutrisno, warga Dusun Kirengan, , Kecamatan Jetis, Bantul.

Menurut Sutrisno, pengungsi membutuhkan bantuan berupa tenda dan obat-obatan. Dengan semakin seringnya hujan turun, situasi warga makin menyedihkan. "Sampaikan kepada mereka yang ada di kota. Rumah kami sudah ambruk, sekarang tak ada makanan yang bisa kami makan. Orang-orang di sini mulai banyak yang sakit, perhatikan nasib kami," ujar Sutrisno kepada BPost.

Sementara di Desa Kragilan Canan, Pesu, Kecamatan Gantiwarno, demam menyerang anak-anak, karena tidak mendapat tenda. Menurut Adi Suwarno, tak kurang dari 12 warga di desanya meriang. "Siang kepanasan, malam kehujanan, tak ada tempat berteduh. Perut kosong karena sehari kemarin kami hanya dapat jatah satu kali nasi bungkus," tuturnya

Kondisi yang sama dialami para pengungsi di Trirenggo, Bantul. "Tolong bantuan jangan hanya terfokus di jalur utama di Jogja saja. Banyak warga di daerah kami kelaparan akibat minimnya distribusi bantuan makanan jadi maupun bahan sembako," ujar Supadi.

Datangi Bupati

Di sisi lain, warga Desa Dengkeng, Kecamatan Wedi, dan Desa Titang, Kecamatan Jogonalan, Klaten, mendatangi Kantor Bupati yang menjadi posko satuan pelaksana bencana.

Anang, warga Dengkeng mengatakan dirinya dan para tetangga hanya mengandalkan bahan pangan seadanya bertahan hidup. Bantuan ke desanya dicegat warga desa lain yang bertetangga sehingga tidak sampai ke desanya.

Bupati berjanji segera mendatangi kedua desa tersebut. Sementara sejumlah bantuan sudah mengalir di Posko Satlak Klaten antara lain tenda dari Depsos, biskuit, pakaian dalam, sarung, mie instan, dan air mineral. Menurut data, hingga Senin siang, jumlah korban meninggal dari Klaten mencapai 907 orang, luka-luka berat 2.760 orang, luka ringan 2.328 orang, rumah warga yang roboh 29.830 rumah, rusak berat 28.550 rumah.

Perum Bulog memasok beras sebanyak enam ton per hari untuk keperluan dapur umum di wilayah yang terkena dampak gempa di Jogjakarta. Kabulog Wijanarko Puspoyo mengatakan pihaknya sudah menyiapkan stok beras di wilayah Jogjakarta sehingga mencukupi kebutuhan wilayah itu. JBP/ewa/tof/fat/kcm/dtc/tnr/ant


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Korban Gempa Terpaksa Menjarah

Urang Banua Ikut Tewas


Ujian SD Diundur


Adik Ibu Tien Diadili


Ada Pesan Tersembunyi


Tangis Jogja Di Sabtu Pagi (2) Tulang Selangka Patah Demi Ibunda


Ingin Saya Boyong Ke Banjar


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123