Jogja, BPost
Balutan kecewa dan rasa lapar yang amat sangat, membuat para korban gempa di
Jogjakarta dan Jawa Tengah, mulai hilang kesabaran. Mereka terpaksa melakukan aksi
penjarahan terhadap toko-toko yang ditinggal pemiliknya.
Para korban gempa juga mencegat pasokan bantuan logistik untuk para korban bencana alam
di daerah lain. Mereka yang sudah terlanjur kecewa atas ketidakjelasan pasokan logistik,
juga mencegat mobil-mobil tangki pengangkut bahan bakar minyak.
Penjarahan bantuan logistik terlihat di Kecamatan Kretek, Bantul, Jogjakarta, Senin
(29/5). Sementara penjarahan toko-toko dilakukan warga di Kabupaten Gunung Kidul. Mereka
membuka paksa toko-toko kelontong yang ditinggal pemiliknya.
"Mereka telah melakukan penjarahan selama dua hari ini. Kalau tidak dicegah, bisa
meluas. Mereka menjarah barang seadanya agar bisa bertahan hidup," kata Slamet,
Kepala Desa Sumber Tretes, Kecamatan Pathuk, Gunung Kidul. Kabupaten Gunung Kidul
merupakan salah satu daerah terkena gempa cukup parah. Di kawasan ini, jumlah korban
meninggal mencapai puluhan orang.
Taufikurrakhman, petugas Pos Gempa Pelajar Islam Indonesia Jogyakarta, mengaku tak bisa
berbuat apa-apa ketika bantuan logistik yang mestinya didistribusikan untuk warga
Bambanglipuro, Bantul, dipalak warga. "Mereka menjarah selimut, tikar, tenda, serta
obat-obatan," ungkapnya. Dia juga memaklumi kejadian itu karena lokasi Kretek jauh
dari Jogjakarta. Warga di sana emosi karena tak mendapat perhatian dari pemerintah.
Pemantauan BPost, sejak terjadi gempa hingga petang kemarin belum ada satu
bantuan pun yang masuk. Padahal, situasi di beberapa daerah ini masih gelap akibat
padamnya listrik ditambah minimnya tenda-tenda darurat yang tersedia.
Sementara di jalan raya Jogja-Klaten, ratusan warga mencegat truk-truk tangki berisi
BBM. Para sopir truk tangki tak bisa berbuat apa-apa karena takut ancaman warga. Warga
mengalirkan BBM jenis minyak tanah dari tangki ke drum-drum yang berjejer di pinggir
jalan.
Aksi itu, menurut Parno (32) warga Desa Prambanan, dipicu menghilangnya minyak tanah di
pasaran. "Minyak tanah sangat penting untuk memasak maupun penerangan di pascagempa
ini," katanya.
Yudhoyono Terjebak
Aksi meminta-minta oleh para korban gempa di pinggir jalan, sempat menghambat
perjalanan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meninggalkan Bantul menuju Kota
Jogjakarta. Hampir satu jam lebih mobil rombongan presiden merayap di Jl Imogiri sehingga
baru memasuki Jogjakarta, siang hari.
Kepada pers di kantor sementara kepresidenan, Gedung Agung Jogjakarta, Yudhoyono
kembali menyatakan prihatin karena banyaknya para korban belum menerima bantuan pangan dan
obatan-obatan. Karenanya Yudhoyono meminta Gubernur DIJ dan Jateng segera mendistribusikan
bantuan. "Segera distribusikan bantuan. Jangan menumpuk di gudang-gudang, jangan
menumpuk di tempat-tempat lain. Kita harus menjemput, jangan menunggu permintaan,"
tegasnya.
Dia juga meminta aparat dan seluruh petugas di kabupaten, kecamatan, dan desa-desa
lebih sigap bergerak mencari titik-titik pengungsian yang perlu segera ditangani.
"Kita tidak ingin 1 dolar atau 1 rupiah pun bantuan untuk para korban gempa
diselewengkan. Bantuan harus itu sampai ke masyarakat," tandas Yudhoyono.
Gubernur DIJ, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengakui ada permasalahan dalam
pendistribusian bantuan bagi korban gempa. Permasalahan lambatnya pendistribusian bantuan
seperti makanan, selimut dan obat-obatan ke daerah pelosok, karena terbentur birokrasi.
"Karenanya saya memutuskan pengiriman bantuan langsung dari satkorlak provinsi
menuju masing-masing lokasi seperti desa atau kecamatan. Jadi tidak lagi melalui kabupaten
/kota," katanya.
Terpisah, Menko Kesra Aburizal Bakrie mengatakan, dana yang dibutuhkan merehabilitasi
dan rekonstruksi daerah bencana alam gempa bumi di Jogjakarta dan sekitarnya mencapai
Rp1,075 triliun. Namun, kata dia, pemerintah hanya memiliki dana pascabencana dalam APBN
2006 hanya sebesar Rp300 miliar."Untuk APBN Perubahan akan kita ajukan
Rp1,5 triliun dana bencana termasuk kebutuhan untuk Jogja," jelas Aburizal di
Jakarta.
Jurubicara Deplu RI Yuri Thamrin mengatakan, hingga kini total bantuan yang dijanjikan
sejumlah negara asing di Jogya dan Jateng mencapai 47,7 juta dolas AS dari 14 negara dan
1,6 juta Euro dari tiga negara.
Seorang pejabat Deplu mengatakan, sudah ada enam pesawat asing mendapat izin mendarat
di bandara Adi Sumarmo Solo menurunkan bantuan. Pesawat-pesawat itu membawa obat-obatan,
makanan, tenda, selimut dan tenaga medis.
Demam
Sementara itu, di beberapa desa di Bantul, warga korban gempa mengalami sejumlah
penyakit. Banyak warga mengeluhkan gatal-gatal, diare serta pusing-pusing. Situasi seperti
ini terjadi secara massal. Diduga, ini akibat kondisi cuaca dan ketersediaan bantuan
makanan dan obat-obatan yang tidak memadai.
Celakanya, belum ada bantuan yang sampai. "Banyak warga yang sakit belum bisa
ditolong," ungkap Sutrisno, warga Dusun Kirengan, , Kecamatan Jetis, Bantul.
Menurut Sutrisno, pengungsi membutuhkan bantuan berupa tenda dan obat-obatan. Dengan
semakin seringnya hujan turun, situasi warga makin menyedihkan. "Sampaikan kepada
mereka yang ada di kota. Rumah kami sudah ambruk, sekarang tak ada makanan yang bisa kami
makan. Orang-orang di sini mulai banyak yang sakit, perhatikan nasib kami," ujar
Sutrisno kepada BPost.
Sementara di Desa Kragilan Canan, Pesu, Kecamatan Gantiwarno, demam menyerang
anak-anak, karena tidak mendapat tenda. Menurut Adi Suwarno, tak kurang dari 12 warga di
desanya meriang. "Siang kepanasan, malam kehujanan, tak ada tempat berteduh. Perut
kosong karena sehari kemarin kami hanya dapat jatah satu kali nasi bungkus," tuturnya
Kondisi yang sama dialami para pengungsi di Trirenggo, Bantul. "Tolong bantuan
jangan hanya terfokus di jalur utama di Jogja saja. Banyak warga di daerah kami kelaparan
akibat minimnya distribusi bantuan makanan jadi maupun bahan sembako," ujar Supadi.
Datangi Bupati
Di sisi lain, warga Desa Dengkeng, Kecamatan Wedi, dan Desa Titang, Kecamatan
Jogonalan, Klaten, mendatangi Kantor Bupati yang menjadi posko satuan pelaksana bencana.
Anang, warga Dengkeng mengatakan dirinya dan para tetangga hanya mengandalkan bahan
pangan seadanya bertahan hidup. Bantuan ke desanya dicegat warga desa lain yang
bertetangga sehingga tidak sampai ke desanya.
Bupati berjanji segera mendatangi kedua desa tersebut. Sementara sejumlah bantuan sudah
mengalir di Posko Satlak Klaten antara lain tenda dari Depsos, biskuit, pakaian dalam,
sarung, mie instan, dan air mineral. Menurut data, hingga Senin siang, jumlah korban
meninggal dari Klaten mencapai 907 orang, luka-luka berat 2.760 orang, luka ringan 2.328
orang, rumah warga yang roboh 29.830 rumah, rusak berat 28.550 rumah.
Perum Bulog memasok beras sebanyak enam ton per hari untuk keperluan dapur umum di
wilayah yang terkena dampak gempa di Jogjakarta. Kabulog Wijanarko Puspoyo mengatakan
pihaknya sudah menyiapkan stok beras di wilayah Jogjakarta sehingga mencukupi kebutuhan
wilayah itu. JBP/ewa/tof/fat/kcm/dtc/tnr/ant