:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini

Hot Line
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Rabu, 31 Mei 2006 02:21:29


Ratusan Balita Kelaparan

Bantul, BPost
Ratusan balita dan lansia (lanjut usia) di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta, terancam. Hingga hari keempat pascagempa bumi yang terjadi Sabtu (27/5) lalu, para balita maupun lansia belum memperoleh bantuan pangan maupun obatan-obatan.

Puluhan korban asal Desa Ngimbang, Kecamatan Sewon, Selasa (30/5) terpaksa mengadu ke Posko Satlak Pemkab Bantul. Hal ini dikarenakan Satlak kecamatan belum mendistribusikan bantuan hingga ke pelosok-pelosok desa.

Hendra, warga Desa Ngimbang mengungkapkan, di desanya ada sekitar 75 hingga 100 balita terancam jiwanya. Sementara puluhan lansia juga mengalami nasib yang sama. "Para balita dan lansia kesulitan makanan. Bagi balita, makanan yang dibutuhkan susu dan makanan lainnya. Ternyata, hingga saat ini tidak ada. Kalau pun ada bantuan, hanya beberapa bungkus mi instan," terang Hendra.

Selain itu, bagi balita dan lansia juga butuh selimut untuk menahan dingin. Apalagi, jika malam hari, Bantul, selalu diguyur hujan deras. "Saya tidak menyalahkan pemerintah, tetapi kenyataan di lapangan, bantuan banyak yang belum sampai ke tangan korban," kata Hendra.

Nasib buruk diterima Yadi, warga asal Mentuk, Kecamatan Blenguk yang mengaku datang ke kantor kecamatan, tetapi ditolak dengan alasan syarat-syarat pengambilan bantuan tidak terpenuhi. "Kalau begini bagaimana kondisi kami. Padahal di desa kami banyak balita yang memerlukan bantuan," tutur Yadi.

Diungkapkannya, di dusunnya saja ada 30 balita yang kesehatanya terus memburuk. Sedang jumlah Lansia sebanyak 12 orang yang terpaksa hidup di dalam tenda. "Kami ke sini minta tenda dan makanan. Saya sudah ke kecamatan, tapi tidak diberi," keluhnya.

Repotnya, Suyitno, petugas Satlak yang menemui berkilah dengan mengatakan bantuan belum bisa disalurkan karena proses pendataan belum selesai. "Harus dilakukan pendataan dulu. Kita pasti mendistribusikan, namun karena para korban gempa tersebar maka memerlukan waktu," kelitnya.

Asing Mengeluh

Keluhan disertai kekecewaan tidak saja dialami puluhan ribu korban gempa bumi di Jogja dan Jateng. Sejumlah negara asing pemberi bantuan juga mengeluhkan lemahnya koordinasi penanganan korban pascagempa maupun penyaluran bantuan.

Namun, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta pemerintah daerah mengabaikan kritik ataupun keluhan atas lemahnya koordinasi penanganan korban pascagempa. "Saya menghargai kerja keras pemda. Biarkan saja kalau ada yang mengkritik dan mengecam. Yang penting kita sama-sama membantu rakyat kecil," ujar Yudhoyono di sela-sela kunjungannya meninjau posko pengungsi di kantor Koramil Gantiwarno, Prambanan, Klaten, Jateng.

Meski begitu, presiden mengingatkan bantuan logistik tetap bisa sampai ke sasaran. Dia berjanji mendistribusikan 20 tenda yang masing-masing bisa memuat 25 orang. Tenda-tenda tersebut antara lain bekas korban tsunami yang didatangkan dari Medan.

Wapres Jusuf Kalla di Jakarta menegaskan pemerintah akan memberikan bantuan berupa uang bernilai Rp1 juta kepada setiap kepala keluarga (KK) korban. Bantuan Rp1 juta itu diberikan untuk satu bulan pertama pascagempa bumi.

Bantuan senilai Rp1 juta itu terdiri bantuan pakaian Rp100 ribu per orang, bantuan peralatan rumah tangga Rp100 ribu per KK, dan bantuan beras 60 kilogram per KK per bulan, serta bantuan lauk pauk Rp3.000 per orang per hari. Pemerintah mengasumsikan bahwa satu KK korban gempa bumi terdiri dari lima anggota keluarga.

Sementara itu, untuk program rehabilitasi pemerintah memberikan bantuan Rp10 juta bagi warga yang rumahnya rusak ringan serta Rp30 juta bagi warga yang rumahnya mengalami rusak berat atau hancur. Pengaturan bantuan dari pemerintah tersebut akan dikoordinasikan oleh Satkorlak.

Dari pantauan BPost, berbagai bantuan logistik untuk para korban masih banyak tertumpuk di kabupaten maupun kecamatan. Bahkan, ratusan ton bantuan asing untuk korban gempa di Klaten, tertahan di Bandara Adi Soemarmo, Solo. "Kami belum bisa mengambil bantuan itu karena keterbatasan armada pengangkutan," kata Wakil Ketua Harian Satkorlak Klaten, Eko Medi.

Ratusan ton bantuan logistik yang tertahan itu berasal dari berbagai negara, seperti Iran, India dan Singapura. "Kami berusaha mengambilnya secara bertahap," cetus Eko.

Keluhan terkeras dilontarkan tim rescue dari Arab Saudi. Pesawat yang mengangkut bantuan mereka hingga kemarin tidak mendapat kejelasan harus mendarat di mana. "Bantuan itu sangat dibutuhkan para korban, yakni bahan pangan, obat-obatan, peralatan medis, tenda dan lainnya," kata Malik Aliun, ketua Himpunan Alumni Timur Tengah yang dipercaya pemerintah Arab Saudi memfasilitasi bantuan tersebut, kemarin.

Semula, ujar Malik, pesawat didaratkan di Solo, tapi karena alasan landasan, pesawat diminta mendarat di Halim Perdanakusuma, Jakarta. Instruksi itu pun dibatalkan karena keterbatasan peralatan. "Akhirnya pesawat diminta mendarat di Bandara Soekarno Hatta, itu pun dengan status yang belum jelas," ungkap Malik.

Sementara itu Uni Emirat Arab menyatakan siap membantu 4 juta dolar AS ditambah satu pesawat berisi bahan pangan, obat-obatan, peralatan medis dan tenda. Demikian pula Qatar dan Kuwait serta negara Timur Tengah lainnya.

Bermasalah

Secara terpisah, Direktur Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial Departemen Sosial Ghazali Situmorang mengakui pendistribusian bantuan logistik untuk korban gempa bumi di Jogja dan Jateng masih bermasalah. "Hari ini (kemarin, Red) saya mendapat laporan ternyata belum semua korban bencana mendapat bantuan logistik yang diperlukan," katanya.

Dijelaskan Situmorang, pemerintah telah mengirimkan bantuan beras masing-masing sebanyak lima ton untuk 17 kecamatan yang terkena dampak bencana dengan asumsi kebutuhan beras per orang per hari sebanyak 400 gram. "Seharusnya itu cukup untuk satu minggu. Laporan yang saya terima, hari ini stok beras itu sudah habis dibagi, bahkan ada yang belum mendapatkan jatah," katanya.

Chazali mengakui hambatan distribusi terjadi karena masih lemahnya koordinasi di tingkat kabupaten dan kecamatan.

"Beras itu sudah ada di Kabupaten Bantul pada hari pertama pascagempa, tapi pemda memutuskan menunda pengiriman ke kecamatan karena hujan. Mestinya, apa pun kondisinya bantuan harus dikirim karena itu dalam keadaan darurat," jelasnya.

Data sementara Depsos, hingga Selasa tercatat 5.136 orang meninggal dunia, 6.504 orang luka berat dan 2.081 orang luka ringan. Lebih dari 20 ribu rumah penduduk rusak parah.

Relawan Terlantar

Lemahnya koordinasi penanganan gempa, berakibat pula terhadap para relawan asing. Sebayak 43 relawan asing asal Uni Emirat Arab (UEA) tergabung dalam Abu Dabi (AD) Police, terlantar di Klaten, Jateng. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, selain hanya duduk-duduk di Kantor DPRD Klaten. Beberapa di antaranya berjalan-jalan tak tahu arah.

Para relawan UEA membawa 2 orang dokter dan 4 anjing itu datang ke Indonesia sejak Senin (29/5). Mereka sempat membantu evakuasi para korban di Jogjakarta. Namun ketika berada di Klaten untuk melakukan hal yang sama karena terlalu banyaknya relawan.

Bahkan mereka tak mendapatkan penginapan dan akhirnya menempati Gedung DPRD. "Tak ada hotel atau homestay yang bisa disewa. Kalaupun ada, tempatnya tidak ada air," tutur Fidel Cabeliza, relawan asal Filipina yang tergabung dalam AD Police.

Fidel mengaku masih menunggu instruksi dari Kedubes Abu Dhabi di Jakarta, apa yang harus dilakukan mereka. "Sampai kapan kami di sini, kami belum tahu. Orang-orang Arab kan menyumbang uang banyak untuk bencana ini. Selain membantu evakuasi dan korban bencana, kami juga akan memantau penggunaan dana itu," jelasnya.

Militer AS

Sementara itu, militer Amerika Serikat mengirim personel dan berbagai peralatan ke Indonesia membantu penanganan korban gempa bumi di Jogjakarta. "Pengerahan ini merupakan bagian dari respons pemerintah AS atas permintaan Indonesia untuk bantuan kemanusiaan," demikian pernyataan Komando Pasifik AS (PACOM) melalui Deplu AS, kemarin.

Sekitar 100 personel dikerahkan dari unit Angkatan Udara di Guam, angkatan ketiga ekspedisi marinir dan USNS Mercy, kapal rumah sakit Angkatan Laut AS USNS Mercy. "Kami ikut berduka cita atas tragedi di Indonesia, kami akan melakukan yang terbaik meringankan penderitaan korban dengan bantuan medis yang ada," tambahnya. JBP/ewa/SRY/tof/kcm/ant/mtv


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Ratusan Balita Kelaparan

Polis Asuransi Untuk Maridjan


Isu Suap Rp5 M Jegal Hak Angket


Tangis Jogja Di Sabtu Pagi (3)
Bayi Itu Tewas Dalam Pelukan


Infrastruktur Kalimantan Prioritas


Wamena Dan Padang Diguncang Gempa


Rooney Kian Menderita


Jogja Menangis -  Jenazah Tak Dikenal Penuhi RS


Jogja Menangis -  Merapi Ber-longdress Semburkan Lava


Jogja Menangis -  Siap Lelang Lagu


Jogja Menangis -  Muncul Maling Drop-dropan


Jogja Menangis -  Makan Nasi Berlauk Mi


Jogja Menangis -  Lihat Yudhoyono Korban Pingsan


Jogja Menangis -  Candi Prambanan Disangga Bambu


SMS
JOGJA MENANGIS


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123