Jakarta, BPost
Sikap keras pemerintah yang tetap mengupayakan revisi UU No 13/2003 tentang
Ketenagakerjaan (UUK), berbuntut rusuh. Lebih dari 60 ribu buruh dari berbagai elemen,
Rabu (3/5), mengamuk dan merusak berbagai fasilitas umum saat berdemonstrasi di depan
gedung DPR/MPR, Jakarta.
Rusuh Demo Buruh |
- Pkl 10.00: 50.000 buruh dari
berbagai konfederasi SPSI memadati halaman
depan Gedung DPR/MPR. Mereka menolak revisi UU No 13/2003 tentang Tenaga
Kerja.
- Pkl 10.30:50 wakil para pekerja menemui sejumlah anggota DPR. Wakil Ketua
DPR Zaenal Ma'arif dan Soetardjo Soerjogoeritno menandatangani kesepakatan
DPR tidak akan menerima dan menolak revisi UU 13/2003.
- Pkl 11.00: Soetardjo berorasi dan meminta demonstran pulang.
- Pkl 11.15: Buruh bakar ban, merusak pohon di pagar pembatas jalan tol.
- Pkl 12.30: Buruh di luar gedung DPR minta wakil rakyat keluar.
- Pkl 13.00: Massa buruh merobohkan pagar DPR seharga Rp2 miliar
- Pkl 13.10: Polisi berhasil mencegah buruh masuk.
- Pkl 13.20: Polisi menembakkan bom asap. Terjadi aksi lempar batu.
- Pkl 13.25: Polisi menyemprotkan water canon, massa tak mau bubar.
- Pkl 13.30: Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif menyambangi buruh dan
menyatakan menolak revisi UU 13/2003. Massa tetap tak mau pergi.
- Pkl 14.30: Massa buruh melempari polisi. Seorang fotografer terkena
lemparan batu.
- Pkl 16.00: Kapolda Metro Jaya Firman Gani mengultimatum buruh agar bubar.
- Pkl 16.05: Polisi melemparkan bom asap dan water canon. Pendemo tetap
bergeming.
- Pkl 16.20: Pintu gerbang DPR dibuka. Aparat menghujani buruh dengan water
canon dan bom asap. Para buruh berlarian dan melakukan pembakaran.
- Pkl 16.30: Suasana bisa dikendalikan. Para buruh menjauh dari DPR dan
membubarkan diri. |
Sumber:
JBP/ewa |
Menanggapi reaksi para buruh ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta pembicaraan
tentang revisi UU Ketenagakerjaan dihentikan sementara. "Lebih bagus kita dalam
posisi itu. Kita jeda untuk menata kembali. Saya kira tidak perlu kita ramaikan lagi
dengan pernyataan-pernyataan yang justru tidak sesuai dengan yang sudah kita sepakati
bersama," kata Yudhoyono di Abu Dhabi.
Di tanah air, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyesalkan kericuhan yang terjadi pada aksi
unjuk rasa buruh di DPR/MPR. Dia menduga ada pihak lain yang menunggangi. "Kita
menyesalkan itu, bahwa aksi-aksi buruh yang kemarin baik, kemudian mungkin ada yang
memasuki, sehingga terjadilah seperti itu," kata Kalla dalam jumpa pers di Kantor
Wapres, Rabu sore.
Menurut dia, semua pihak tentunya tidak menginginkan kericuhan tersebut. "Kita
tidak mengharapkannya dan saya kira juga tidak diharapkan pimpinan buruh sendiri.
Bagaimanapun pemerintah, DPR, dan buruh itu harus saling menjaga, karena kita semua
berkepentingan agar buruh itu sejahtera," kata Kalla.
Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpendapat lain.
Dia menilai mesti ada kompromi politik agar persoalan tidak berlarut. "Harus ada
kompromi politik. Jadi harus ada negosiasi antara buruh, pengusaha dan pemerintah,"
kata Gus Dur.
Demonstrasi ribuan buruh, kemarin, sangat jauh berbeda dibanding aksi dua hari
sebelumnya. Dalam demonstrasi 1 Mei yang diikuti lebih 100 ribu buruh, berlangsung damai.
Pagar bagian depan gedung DPR RI yang baru selesai direnovasi dengan menelan biaya Rp2
miliar, dirusak massa yang mencoba masuk ke dalam kompleks rumah rakyat. Mereka juga
merusak fasilitas publik berupa halte serta pagar pembatas jalan tol yang terletak di
depan Gedung DPR. Sumber di Jasa Marga menyebut kerugian akibat perusakan pagar pembatas
jalan dan fasilitas lainnya mencapai ratusan juta rupiah.
Selain itu, para buruh juga melempari aparat kepolisian dengan benda-benda keras. Aksi
itu tak pelak membuat aparat kepolisian yang berjumlah 8 ribu personel terpancing. Mereka
merangsek maju sambil menembakkan berpuluh-puluh gas airmata disertai semburan air dari
kendaraan water canon ke arah kerumunan demonstran.
Bahkan, Kapolda Metro Jaya Irjen Firman Ghani yang turun ke lapangan mengultimatum para
demonstran agar membubarkan diri sebelum pukul 18.00 WIB. Bila tidak, polisi akan
membubarkan secara paksa. Sikap tegas aparat kepolisian itu akhirnya menyebabkan para
buruh menjauh dari area gedung DPR. Mereka pun akhirnya membubarkan diri.
Dalam peristiwa itu, sedikitnya 13 buruh tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja
Seluruh Indonesia (KSPSI) diamankan polisi. Sementara tiga anggota Brimob dan dua wartawan
mengalami luka akibat terkena lemparan benda keras. "Pimpinan KSPSI akan kita mintai
pertanggungjawaban atas kerusakan-kerusakan yang terjadi," tegas Firman.
Tidak Puas
Presiden Yudhoyono dalam konferensi pers di Abu Dhabi menegaskan kembali niatnya menata
ulang seluruh sistem yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. "Yang akan kita buat
bukan hanya UU saja, tetap seluruhnya. Sistemnya, tujuannya, pilarnya, hingga
peraturan-peraturannya," katanya.
Menurut Yudhoyono, penataan ulang sistem ketenagakerjaan secara menyeluruh, dilakukan
setelah mengkaji dan mempelajari situasi dan mendengar semua pihak yang terkait.
"Saya berdialog langsung dengan pekerja di pabrik-pabrik. Juga berdialog dengan
asosiasi pekerja dan dunia usaha. Kalau undang-undang, ya tentunya nanti kita bahas dengan
DPR," kata Yudhoyono.
Sebelum undang-undang disusun, imbuhnya, semua pihak mesti berbicara tentang tujuan.
"Juga kepentingan tenaga kerja apa, kepentingan dunia usaha apa, kepentingan
pemerintah apa," katanya.
Aksi anarkis para buruh terjadi setelah mereka tidak puas atas sikap anggota DPR yang
tidak menyetujui aspirasi mereka menandatangani surat penolakan terhadap revisi UU
Ketenagakerjaan di atas kertas kop DPR sebagai sikap resmi DPR.
Padahal, Wakil Ketua DPR Zaenal Maarif dan sesepuh DPR, Soetardjo
Soerjoguritno memberi garansi bahwa legislatif akan menolak revisi UU tersebut. Namun,
massa buruh yang sudah terlanjur terprovokasi akhirnya melakukan perusakan.
Sebelumnya, Komisi IX DPR telah jelas menolak membahas revisi UU tersebut. Di dalam
gedung DPR, tidak terlihat ketua DPR Agung Laksono dan Wakil Ketua Muhaimin Iskandar.
Diperoleh informasi, Agung Laksono memilih menghadiri undangan makan siang di kapal
induk Amerika Serikat yang tengah labuh jangkar di Laut Jawa. Sementara Muhaimin terjebak
kemacetan akibat demonstrasi.
Sementara di gedung DPR sendiri beredar draf revisi UU tersebut. Namun, Menakertrans
Erman Suparno membantah telah keluarnya draf revisi itu. "Itu naskah liar,"
tegasnya.
Menurut Erman, hingga kini pihaknya belum mengajukan naskah revisi UUK kepada DPR.
"Sekarang saya mau tanya apakah sudah ada usulan pemerintah ke DPR? Wong belum
ada usulan kok ditanggapi. Naskahnya siapa? Naskahnya adalah naskah liar,"
tandas menteri yang diajukan PKB itu.
Di kesempatan terpisah, Erman menegaskan pemerintah akan terus melanjutkan pembahasan
revisi UU Ketenagakerjaan. Langkah pembahasannya akan dimulai dari awal dengan menunggu
masukan dari pihak independen, termasuk lima universitas yang ditunjuk pemerintah.
Pembahasan akan dilakukan melalui forum tripartit.
Dia menolak jika dikatakan langkah itu akan mengabaikan aspirasi para buruh. "Ini
harus kita pahami, kita duduk bersama dengan tripartit, tapi bukan berarti masukan serikat
pekerja yang lain di tingkat daerah tidak direspons. Kita merespons termasuk dari para
pakar, mahasiswa dan LSM," cetus Erman kepada wartawan di Istana Wapres. JBP/yus/yat/ewa/mur/dtc