Jakarta, BPost
Bola panas dilemparkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dia mensinyalir demo ribuan
buruh yang ricuh di Gedung DPR, Rabu (3/5), ditunggangi kelompok-kelompok yang belum
ikhlas menerima hasil pemilu 2004.
Anggota Komisi IX DPR Muhammad Fauzi terang-terangan menyebut Wapres Jusuf Kalla
sebagai pemicu rusuh buruh, Rabu kemarin. "Kejadian itu tak bisa dipungkiri karena
pernyataan Jusuf Kalla yang tetap ngotot merevisi UU No 13/2003," katanya.
Nada kecewa disertai tudingan itu disampaikan Yudhoyono di Amman, Yordania, Rabu (3/5)
malam, beberapa saat setelah dia menerima laporan terjadinya demonstrasi buruh yang
anarkis.
"Kalau ada di antara komponen bangsa, apakah perseorangan, kelompok atau ikatan
identitas yang lain, yang barangkali belum ikhlas, belum legowo, belum menerima
hasil pemilu 2004 lalu, meskipun itu menjadi hak untuk melakukan langkah politik apa pun
dalam koridor demokrasi, tapi tolong jangan sampai semuanya itu berujung pada situasi
dalam negeri Indonesia yang tidak kondusif untuk pembangunan berikutnya," kata
Yudhoyono.
Yudhoyono tampak berhati-hati saat mengemukakan kalimat demi kalimatnya. Hanya dia
menekankan, jika tindakan kekerasan dan anarkis masih terus berlangsung, maka modal asing
yang ingin masuk ke Indonesia bisa beralih ke negara-negara lain seperti China dan
Vietnam.
Hal senada dikatakan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono. "Sudah sejak lama
kelompok-kelompok yang tidak puas dengan hasil Pemilu 2004, itu melakukan kegiatan yang
mengganggu stabilitas," katanya. Bahkan, tambah Juwono, ditengarai aksi buruh yang
berujung anarkis itu, didanai kelompok tertentu terutama buruh yang berasal dari Jawa
Barat.
Indikasi itu disampaikan pula oleh Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar
yang mengatakan, bahwa aksi buruh yang berakhir anarkis itu, bukan dilakukan oleh buruh
melainkan ditunggangi kelompok yang memiliki kepentingan tertentu. "Dalam aksi
anarkis kemarin, nyata-nyata ada yang memprovokasi, mendompleng, salah satunya dengan
melakukan aksi pelemparan," ujarnya. Tudingan Yudhoyono itu spontan menaikkan suhu
politik di Jakarta. Sejumlah tokoh partai politik dan anggota DPR menilai tuduhan itu
tidak beralasan. Mantan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais, menilai
kecurigaan adanya kelompok-kelompok yang belum mau menerima hasil Pemilu 2004 di balik
berbagai aksi unjuk rasa buruh sebagai hal yang sudah kuno dan tidak lebih dari imajinasi
Yudhoyono saja.
"Kegaduhan-kegaduhan buruh itu tidak ada urusan dengan kepuasan atau tidak soal
pemilu 2004. Itu (kecurigaan demikian) sudah kuno," tandas Amien Rais yang juga
mantan ketua MPR itu.
Politisi gaek PDIP Soetardjo Soerjogoeritno juga menilai analisa Yudhoyono ngawur.
"Apa dasarnya, dia bisa mengatakan seperti itu. Jelas, itu ngawur" tandas wakil
ketua DPR itu.
Wasekjen PKS Fahri Hamzah justru menuding sejumlah pejabat di bawah Presiden Yudhoyono
yang memanas-manasi buruh. Dia mencontohkan, ketika presiden mengatakan UU 13/2003 tidak
direvisi, justru ada menteri dan pejabat lain di bawah presiden yang mengatakan akan tetap
dilakukan revisi.
"Jadi ada pejabat di bawah Yudhoyono yang selalu memanasi buruh," cetus
Fahri.
Senada, Ketua DPR Agung Laksono mengingatkan para pejabat untuk tidak memanas-manasi
dan memperkeruh situasi yang ada. "Kita imbau ucapan-ucapan pemerintah jangan
menantang-nantanglah," tandasnya.
"Yang penting niatnya kita bela buruh dan itu harus jadi pedoman DPR,"
imbuhnya..
Meski begitu, lanjut Fauzi, sebaiknya pemerintah dan buruh tetap cooling down
agar dapat mencari solusi yang terbaik. Dia mengkhawatirkan jika pemerintah memberikan
reaksi dan respons yang terlalu cepat, maka akan memberikan dampak secara luas.
Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) mendesak Wapres Jusuf
Kalla meminta maaf kepada buruh atas pernyataannya terkait revisi UU Ketenagakerjaan
(UUK). Jika dalam waktu 3 hari tidak meminta maaf, Kalla akan disomasi.
"Kalau dalam waktu 3x24 jam tidak dilakukan, kami akan melakukan somasi
hukum," kata Ketua Umum HMI MPO Muzakkir Djabir.
Wakil Ketua FPDIP, Ramson Siagian meminta Yudhoyono menertibkan bawahannya agar tidak
ikut membuat statemen yang memanaskan suasana. Dia berpendapat gerakan rakyat kembali
menjadi tren akibat menurunnya kesejahteraan. "Kalau ini dibiarkan dan tidak di-manage
efektif, saya khawatir terjadi people power," tandas politisi PDIP itu.
Ramson menilai pernyataan Yudhoyono itu tendensius, karena ada delapan tokoh yang kalah
dalam Pilpres 2004. "Apa yang dikatakan Yudhoyono itu tidak kondusif dan membuat
masalah baru," tegasnya.
Senada, Ketua MPR Hidayat Nurwahid bisa memahami kekecewaan yang disampaikan Yudhoyono.
Namun, dia tidak yakin aksi buruh ditungganggi pihak tertentu, termasuk pihak yang tidak
ikhlas atas hasil Pemilu 2004.
Terpisah, Wakil Ketua MPR-RI, AM Fatwa mengatakan, peringatan Presiden Yudhoyono
menjadi bukti bahwa budaya "siap menang dan siap kalah" belum tumbuh di Tanah
Air. "Kita dapat memahami pernyataan itu. Kita pun dapat meraba-raba dan merasakan
arah (peringatan itu), tetapi (kita) tidak bisa tunjuk hidung. Saya berharap presiden
tetap bersikap elegan dan rendah hati, namun tegas dan tidak usah ragu-ragu," kata
Fatwa.
Hingga Juni
Pengamat intelijen Wawan H Purwanto berpendapat, aksi buruh diperkirakan akan terus
berlangsung hingga Juni dengan tujuan menggulingkan pemerintahan yang sah.
"Buruh-buruh itu jelas ada yang menggerakkan dengan sasaran menggulingkan
pemerintah. Arahnya memang ke Yudhoyono-Kalla sehingga wajar presiden memberikan statemen
seperti itu," katanya.
Sebenarnya, sebut Wawan, gerakan-gerakan massa yang bermaksud menggulingkan
pemerintahan yang sah itu hanya akan mengorbankan rakyat. "Akan lebih baik, tunggulah
sampai 2009 sehingga pembangunan dapat berjalan baik. Bagi yang tidak puas, tolong
berjuang dalam koridor demokrasi (melalui pilres langsung) 2009. Itu lebih elegan,"
cetusnya JBP/aco/yus/ugi/abs/kcm/dtk