:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Sabtu, 06 Mei 2006 05:45:19


Dalang Pembunuh Bos Asaba Kabur

  • Jebol 8 pintu besi
  • Diduga dibantu petugas LP
  • Dua pintu sel utuh
  • Gunawan pelihara 10 kucing

Kecanggihan sistem pengawasan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang terbukti tak sehebat ketenarannya. Di balik keangkeran dan kemegahan LP nomor satu di republik ini, justru menyimpan kemudahan bagi Gunawan Santoso, aktor pembunuh bos PT Asaba untuk kabur.

Licin Bagai Belut

GUNAWAN Santoso benar-benar licin. Ia telah terbukti piawai kabur dari penjara. Untuk menghilangkan jejak, ia juga perlu face off ringan. Naas, tetap saja ia gagal menghilangkan tahi lalat di dekat bokongnya, sehingga terbongkarlah penyamarannya.
Inilah kronologi kasus Gunawan Santoso (42), terpidana mati kasus pembunuhan bos PT Aneka Sakti Bhakti (Asaba) Boedyharto Angsono dan pengawalnya dari Kopassus, Serda Edi Siyep.

16 Januari 2003
Gunawan alias Acin kabur dari LP Kuningan. Ia dipidana penjara 28 bulan dalam perkara penggelapan miliaran rupiah di PT Aneka Sakti Bhakti (Asaba), milik mantan ayah mertuanya, Boedyharto Angsono.

6 Juni 2003
Dua penjahat berkendara motor Honda Astrea menembak Direktur Keuangan PT Asaba Paulus Teja Kusuma di Jl Angkasa Jakarta Pusat, persis di depan Hotel Golden. Dua proyektil bersarang di leher dan dada korban. Tapi Paulus lolos dari maut.

19 Juli 2003
Direktur Utama PT Asaba Boedyharto dan Anggota Kopassus Serda Edy Siyep, ditembak sekitar pukul 05.30 WIB di depan lapangan basket Gelanggang Olahraga Sasana Krida Pluit, Jakarta Utara. Gunawan yang masih dalam status pencarian polisi dituduh sebagai otak di belakang kasus ini, termasuk dalam penembakan Paulus Teja Kusuma.

31 Juli 2003
Polisi Militer TNI AL menahan empat anggota Marinir terkait dengan dugaan pembunuhan Boedyharto. Mereka adalah Kopda (Mar) Suud Rusli, Kopda (Mar) Fidel Husni, Letda (Mar) Syam Ahmad Sanusi, dan Pratu (Mar) Santoso Subianto, merupakan pengawal pribadi Gunawan. Mereka menghilangkan dua nyawa orang lain atas suruhan Gunawan dengan imbalan keseluruhan Rp 4 juta.

14 Agustus 2003
"Gunawan orang yang paling dicari AL sampai kapan pun. Kalau dia tertangkap kami tembak pantatnya dulu baru kami serahkan kepada polisi," kata KSAL Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh.

12 September 2003
Gunawan ditangkap pukul 04.00 dini hari oleh anggota Reserse Polda Metro Jaya di lantai bawah area parkir Griya Kemayoran, Jalan Industri, Jakarta Pusat. Dia diketahui telah melakukan operasi face off ringan.

11 Februari 2004
Gunawan mulai disidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara. Jaksa Andi Herman mengancamnya dengan hukuman mati.

9 Maret 2004
"Saya tahu terdakwa Gunawan adalah otak pembunuhan ayah saya karena saya tahu sifat Gunawan mau mengorbankan apa saja untuk mencapai keinginannya," kata Alice saat menjadi saksi dalam persidangan mantan suaminya.

30 Maret 2004
Gunawan mencoba kabur saat dibawa dari Rutan Salemba menuju Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Dia kabur saat lalu lintas sedang macet di Johar Baru, Jakarta Pusat.
Namun dia berhasil ditangkap lagi di Cempaka Putih dan menderita luka tembak di pinggangnya akibat letusan pistol yang dibawanya sendiri.

24 Juni 2004
Gunawan dijatuhi hukuman mati oleh majelis hakim. Gunawan terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana dengan sengaja membujuk orang lain melakukan pembunuhan berencana.

2004-2006
Gunawan banding. Namun Pengadilan Tinggi Jakarta justru menguatkan putusan PN Jakarta Utara. Gunawan lalu kasasi Mahkamah Agung. Lagi-lagi permohonnya ditolak. Pengacara memberi alternatif, mengajukan PK atau grasi. Gunawan belum memberi putusan, namun lebih suka PK seraya mencari bukti baru (novum).

5 Mei 2006
Gunawan kabur dari selnya di LP Narkotika Cipinang, Jakarta Timur. Petugas memergoki selnya kosong sekitar pukul 07.00 WIB. JBP/bec/dtc

Ketika jarum jam menunjuk pukul 07.30 WIB, seorang sipir LP Cipinang seperti biasa mengontrol ruang-ruang tahanan. Tak terlintas adanya kejanggalan tatkala melangkah di koridor blok C Gedung Narkotika LP Cipinang.

Begitu melongok di kamar nomor 110, tempat Gunawan Santoso disel, petugas sipir terhenyak. Aktor pembunuh Dirut PT Asaba, Boedhyharto Angsono yang notabene mertua sendiri itu, melompong.

Kepanikan pun melanda seisi LP. Kemeriahan LP saat menyambut kedatangan Eurico Guterres, Kamis (4/5) petang pun sirna dalam tempo beberapa jam. Semua petugas sipir dan pejabat LP kalang-kabut.

Sang terpidana mati Gunawan Santoso tak ditemukan dalam kompleks LP yang konon kondang kecanggihannya dan dijaga superketat. Runyamnya, peristiwa ini bukan kali pertama. Gunawan tercatat telah tiga kali melarikan diri.

Kali ini cukup memalukan pejabat LP. Selain rekor kabur Gunawan tambah panjang, selang beberapa jam sebelumnya LP Cipinang jadi pusat perhatian karena tokoh Pejuang Pro Intergrasi Timtim Eurico Guterres masuk LP Cipinang.

Tim petugas LP yang mencari jejak, menemukan 8 pintu terbuat dari besi jebol. Bahkan empat pagar kawat berduri setinggi 3,5 meter yang menjadi penghalang kompleks LP dengan dunia luar, ditemukan robek dengan diameter 40 sentimeter.

"Kejadian ini baru diketahui sekitar pukul 07.30 WIB oleh penjaga LP," tutur Hamid Awaluddin, Menteri Hukum dan HAM, setelah melakukan inspeksi mendadak di ruang tahanan Gunawan, kemarin.

Mencermati jejak yang ditemukan, Hamid menduga Gunawan kabur dengan bantuan orang dalam. Selain penjebolan pintu besi dan rintangan kawat berduri yang memerlukan waktu, petugas menemukan bukti besi berbentuk S. Dua daun pintu pun masih dalam keadaan digembok rapat.

"Kemungkinan dia bekerjasama dengan petugas LP dengan melihat modus operandi yang ada," tandas Hamid. Gunawan menempati sel di lantai 1 bangunan bertingkat tiga. Sejak 5 bulan lalu Gunawan berada di sel tersebut, sebelumnya ditahan di sel LP Cipinang lama yang jaraknya sekitar 100 meter dari LP Narkotika Cipinang.

Karena dianggap berbahaya, Gunawan ditempatkan sendirian dalam sel barunya. Untuk masuk ke dalam bangunan tersebut dan sampai ke sel tahanan Gunawan setidaknya harus melalui tiga pintu. Pintu pertama, pintu masuk gedung yang terbuat dari besi. Pintu kedua, masuk ke blok tahanan dan pintu ketiga berupa jeruji besi ruang tahanan Gunawan.

Kucing Dalam Sel
Di luar bangunan bertingkat tiga itu juga terdapat lima pintu lagi. Pintu pertama dekat gedung utama dan seterusnya sampai pintu terakhir keluar dari LP yang berhadapan dengan jalan raya. Belum lagi tiga pagar kawat berduri setinggi 3,5 meter yang dirobeknya.

Hamid pun terheran-heran, Gunawan masih bisa kabur. "Dalam satu harinya, Gunawan meninggalkan sel atau keluar dari kamar antara jam tujuh sampai jam sembilan pagi dan hanya dalam blok. Dia tak sampai keluar blok dan sore harinya hanya keluar jam tiga sampai jam lima," jelas Hamid.

"Kalau pun ke gereja Gunawan hanya dua kali seminggu dan pihak LP memilihkan waktu ke gereja secara acak sehingga tak terjadi rutinitas yang kita khawatirkan bisa digunakan untuk lolos," katanya.

Gereja yang dimaksud Hamid berada depan gedung berlantai tiga tempat dia ditahan. Menurutnya, Gunawan mendapat pengawasan ketat selama ditahan. Misalnya, Hamid menceritakan bahwa untuk makan saja Gunawan harus diawasi. Termasuk tidak siapa diperkenankan siapapun menjenguk Gunawan, kecuali pengacaranya dan petugas LP yang mengantar makanan untuknya.

"Saya bilang sama petugas dulu kalau Gunawan mau pesan sate jangan diberi tusuk satenya. Nanti tusuk sate dikumpulkan terus dipakai untuk menyandera petugas. Petugas juga tidak boleh sendirian masuk ke selnya, minimal empat orang," urai Hamid.

Selama penahanannya, Gunawan kadang bertingkah aneh. Misalnya dia memelihara 10 kucing dalam sel. Kucing-kucing itu, kata Hamid, sengaja dipelihara agar mengeluarkan kotoran dan membuat bau sekitar blok tahanan.

"Asumsinya dia berharap petugas masuk membersihkan kotoran kucing. Saya tidak tahu maksudnya, tafsirkan sendiri," tandasnya, curiga.

Melihat kelihaian Gunawan meloloskan diri, Alamsyah Hanafiah, penasihat hukum Gunawan mengatakan, setiap orang yang berada pada posisi terjepit cenderung melakukan apa pun agar bisa bebas. Apalagi, dia telah divonis hukuman mati.

"Secara psikologis kita ketahui kalau manusia terkungkung niat dia untuk melarikan diri semakin besar. Makanya perlu saksi ahli psikologi ketika dia diisolasi sendiri," tutur Alamsyah.

Kepolisian telah memeriksa 18 orang saksi, termasuk petugas LP yang berjaga saat Gunawan kabur. Kepala LP Narkotika Cipinang, Wawan Suwandi, enggan memberi penjelasan.

Kasubdit Pengawasan dan Pengendalian Keamanan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Syahbuddin menyesalkan tak berfungsinya sistem Closed Circuit Television (CCTV).

Gunawan yang diduga kabur sekitar pukul 02.00-03.00 WIB kemarin, divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, 24 Juni 2004. Tanggal 30 Maret 2004, Gunawan sempat ditembak karena berusaha melarikan diri saat akan menghadiri sidang.

Dua komplotan Gunawan yang juga dihukum mati, mantan anggota Marinir, Letda Syam Ahmad Sanusi dan Kopda Suud Rusli. Mereka juga kabur dari tahanan Polisi Militer Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal). Hingga kini baru Suud yang tertangkap. JBP/aco/kcm


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Dalang Pembunuh Bos Asaba Kabur

Aroma Harta Di Mata Gunawan


Kalla: Ini Politik, Biasalah


Aussie Siap Kirim Pasukan


SOEHARTO ALAMI PERDARAHAN SALURAN PENCERNAAN Ngotot Minta Dirawat Di Rumah


Sinyal Mati, Lion Mendarat Darurat


PUBLICFIGURE - Minum Vitamin Dan Pijat


Langkah Merah Putih Terhenti


Calo Akui Serahkan Rp550 Juta


11 Keluarga Kurang Pangan


Bus Malaysia Dirampok 8 WNI Jadi Korban


Proyek Tumbang Nusa ‘Digenjot’ Tertutup Bagi Bus Dan Truk


Lelehan Lava Mengalir Dari Puncak


AS Takut Bertemu Iran


Blair Diminta Mundur


Tibet Tak Punya Ozon


Israel Tetap Tinggalkan Tepi Barat


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123