Yogyakarta, BPost
Gunung Merapi semakin mengkhawatirkan. Puncak Merapi, Sabtu (6/5) dinihari beberapa
kali mengeluarkan sinar api disertai tumpahan lava pijar meluncur ke bawah ke arah
tenggara sejauh sekitar 200 meter.
Merapi juga berkali-kali berguncang keras. Guncangan sangat terasa di Dukuh Stabelan,
Tlogolele, Boyolali, Jawa Tengah. "Guncangan tu terjadi empat kali sejak Sabtu
dinihari. Getarannya lebih keras dibanding sebelumnya. Sangat terasa sekali," tutur
Mudriyah, warga sekitar Merapi.
Guncangan cukup keras itu menyebabkan warga berlarian ke luar rumah. "Saat itu
kami melihat Merapi bercahaya, terlihat apinya. Tumpukan pasir dari guguran lava juga
semakin menumpuk," ujar sejumlah warga.
Namun, guncangan keras itu tidak membuat warga sekitar Gunung Merapi bersedia
dievakuasi. Kepala Dusun Stabelan, Kirman, menyatakan saat ini warganya merasa trauma jika
harus kembali dievakuasi. Sebelumnya, sekitar 90 warga Tlogolele meninggalkan tempat
penampungan di Kecamatan Selo karena jenuh. Warga menilai fasilitas yang diberikan tidak
sesuai janji yang diberikan pemerintah.
Pos pengamatan di Selo dan Jrakah melihat sinar api dari puncak gunung. Lelehan lava
pijar berguguran antara pukul 00.00 - 06.00 WIB. "Tercatat 10 kali guguran lava pijar
Merapi. Guguran lava pijar masuk ke Pelataran Gendol dengan jarak luncur maksimum 200
meter," jelas Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan
Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subandriyo.
Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi
Jawa Tengah, saat ini memang sedang memasuki fase erupsi. Sehingga, kata Subandriyo,
tumbuhan kubah lava baru dan kegempaan masih terus berlangsung.
"Meski guguran lava pijar dan pertumbuhan kubah lava baru masih terus terjadi
serta terlihatnya sinar api di puncak, namun berdasarkan hasil pengamatan visual dan
instrumental status aktivitas Gunung Merapi masih siaga," katanya.
Sementara itu, kubah lava baru di puncak juga semakin mengkhawatirkan. Pertumbuhan
gundukan lava baru sangat besar, diperkirakan mencapai satu juta meter kubik. Padahal
sebelumnya hanya sekitar 400 ribu meter kubik. "Jadi dalam sehari pertumbuhannya
sampai 600 ribu meter kubik," jelas Subandriyo.
Menurut dia, pertumbuhan yang sangat cepat itu semakin mengkhawatirkan karena bisa
membahayakan kubah lava lama, yaitu kubah lava 1997 dan kubah lava 2001. Artinya, apabila
kubah lama itu longsor, ancaman awan panas akan semakin besar. "Pertumbuhan kubah
lava yang sangat besar ini harus dicermati oleh semua pihak," tukasnya.
Pada 2001 aktivitas Merapi memunculkan awan panas yang biasa disebut wedhus gembel.
Itu terjadi ketika guguran lava dengan volume 300 ribu meter kubik. Pada 1997 terjadi
letusan karena pertumbuhan kubah baru begitu cepat. Lalu muncul kubah baru lagi.
Pada 1994 muncul wedhus gembel besar hingga memakan korban 66 orang. Munculnya
awan panas ini akibat dari longsornya kubah lama sebanyak 2,6 juta meter kubik.
Sementara itu berdasarkan pantauan dari Dusun Deles Desa Sidorejo Kecamatan Kemalang
Klaten sejak Jumat malam pukul 21.00 WIB hingga Sabtu dinihari terus terjadi guguran lava
dan sinar api di puncak Merapi. Interval keluarnya sinar api dan guguran lava pijar di
puncak antara 5 menit hingga 30 menit sekali.
Dari Dusun Deles yang berjarak 4,5 kilometer dari puncak, tampak api menyala dengan
terang di puncak gunung. Beberapa warga yang meronda kampung atau dusun bersama petugas
Tim SAR ikut menyaksikan guguran lava pijar dari pinggir jalan di sepanjang Dusun Deles
Desa Sidorejo
Akibat terjadi peningkatan aktivitas gunung Merapi, sejumlah hewan yang biasa mendiami
lereng gunung seperti kera mulai turun ke perkampungan di kaki gunung. Kera Merapi sejak
dua hari terakhir dijumpai penduduk Tritis, Lecoh, Jrakah dan Klakah.
Menurut Susilohastuti, carik Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, kera-kera itu bersembunyi
di jurang-jurang di antara ladang milik para penduduk.
4.000 Pengungsi
Sementara itu jumlah pengungsi di sekitar puncak Merapi di Kabupaten Sleman (DIY) dan
Klaten (Jateng) mencapai hampir 4.000 jiwa. Di kabupaten Sleman 1.791 orang telah
dievakuasi. Sementara di Klaten jumlah pengungsi mencapai 2.000 jiwa. Mereka tinggal di
tempat-tempat penampungan pengungsi.
Evakuasi telah dilakukan terhadap warga desa di wilayah Kecamatan Kemalang, kecamatan
yang paling berdekatan dengan puncak Gunung Merapi. Warga desa yang mengungsi di antaranya
berasal dari Desa Sidorejo, Desa Balerante dan Desa Tegalmulyo.
Para pengungsi tinggal di sekolah-sekolah mapun di balai desa yang telah disiapkan
pemerintah daerah setempat menjadi tempat penampungan pengungsi. Di Kabupaten Sleman
lokasi pengungsian berada di sekolah-sekolah, Balai Desa Argobinangun, Umbulharjo, dan
juga di RSJ Gracia Kecamatan Pakem.
Sedangkan lokasi pengungsian di Kabupaten Klaten antara lain berada di Balai Desa
Dompol dihuni sekitar 1.000 jiwa, Kantor Kecamatan Kemalang 907 jiwa dan sisanya ditampung
di Balai Desa Ngemplak Seneng.
Meski aktivitas Merapi meningkat dengan mulai keluarnya magma dari puncak gunung, namun
sejumlah masyarakat setiap siang tetap kembali ke rumah mereka untuk memantau harta benda
yang ditinggalkan. JBP/kcm/tnr/dtc/ant