:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
FEMALE
Nusantara
B O R N E O
Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
Olahraga
Ragam
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 07 Mei 2006 04:45


Siap Muntahkan Lava Maut

Yogyakarta, BPost
Gunung Merapi semakin mengkhawatirkan. Puncak Merapi, Sabtu (6/5) dinihari beberapa kali mengeluarkan sinar api disertai tumpahan lava pijar meluncur ke bawah ke arah tenggara sejauh sekitar 200 meter.

Merapi juga berkali-kali berguncang keras. Guncangan sangat terasa di Dukuh Stabelan, Tlogolele, Boyolali, Jawa Tengah. "Guncangan tu terjadi empat kali sejak Sabtu dinihari. Getarannya lebih keras dibanding sebelumnya. Sangat terasa sekali," tutur Mudriyah, warga sekitar Merapi.

Guncangan cukup keras itu menyebabkan warga berlarian ke luar rumah. "Saat itu kami melihat Merapi bercahaya, terlihat apinya. Tumpukan pasir dari guguran lava juga semakin menumpuk," ujar sejumlah warga.

Namun, guncangan keras itu tidak membuat warga sekitar Gunung Merapi bersedia dievakuasi. Kepala Dusun Stabelan, Kirman, menyatakan saat ini warganya merasa trauma jika harus kembali dievakuasi. Sebelumnya, sekitar 90 warga Tlogolele meninggalkan tempat penampungan di Kecamatan Selo karena jenuh. Warga menilai fasilitas yang diberikan tidak sesuai janji yang diberikan pemerintah.

Pos pengamatan di Selo dan Jrakah melihat sinar api dari puncak gunung. Lelehan lava pijar berguguran antara pukul 00.00 - 06.00 WIB. "Tercatat 10 kali guguran lava pijar Merapi. Guguran lava pijar masuk ke Pelataran Gendol dengan jarak luncur maksimum 200 meter," jelas Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subandriyo.

Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah, saat ini memang sedang memasuki fase erupsi. Sehingga, kata Subandriyo, tumbuhan kubah lava baru dan kegempaan masih terus berlangsung.

"Meski guguran lava pijar dan pertumbuhan kubah lava baru masih terus terjadi serta terlihatnya sinar api di puncak, namun berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental status aktivitas Gunung Merapi masih siaga," katanya.

Sementara itu, kubah lava baru di puncak juga semakin mengkhawatirkan. Pertumbuhan gundukan lava baru sangat besar, diperkirakan mencapai satu juta meter kubik. Padahal sebelumnya hanya sekitar 400 ribu meter kubik. "Jadi dalam sehari pertumbuhannya sampai 600 ribu meter kubik," jelas Subandriyo.

Menurut dia, pertumbuhan yang sangat cepat itu semakin mengkhawatirkan karena bisa membahayakan kubah lava lama, yaitu kubah lava 1997 dan kubah lava 2001. Artinya, apabila kubah lama itu longsor, ancaman awan panas akan semakin besar. "Pertumbuhan kubah lava yang sangat besar ini harus dicermati oleh semua pihak," tukasnya.

Pada 2001 aktivitas Merapi memunculkan awan panas yang biasa disebut wedhus gembel. Itu terjadi ketika guguran lava dengan volume 300 ribu meter kubik. Pada 1997 terjadi letusan karena pertumbuhan kubah baru begitu cepat. Lalu muncul kubah baru lagi.

Pada 1994 muncul wedhus gembel besar hingga memakan korban 66 orang. Munculnya awan panas ini akibat dari longsornya kubah lama sebanyak 2,6 juta meter kubik.

Sementara itu berdasarkan pantauan dari Dusun Deles Desa Sidorejo Kecamatan Kemalang Klaten sejak Jumat malam pukul 21.00 WIB hingga Sabtu dinihari terus terjadi guguran lava dan sinar api di puncak Merapi. Interval keluarnya sinar api dan guguran lava pijar di puncak antara 5 menit hingga 30 menit sekali.

Dari Dusun Deles yang berjarak 4,5 kilometer dari puncak, tampak api menyala dengan terang di puncak gunung. Beberapa warga yang meronda kampung atau dusun bersama petugas Tim SAR ikut menyaksikan guguran lava pijar dari pinggir jalan di sepanjang Dusun Deles Desa Sidorejo

Akibat terjadi peningkatan aktivitas gunung Merapi, sejumlah hewan yang biasa mendiami lereng gunung seperti kera mulai turun ke perkampungan di kaki gunung. Kera Merapi sejak dua hari terakhir dijumpai penduduk Tritis, Lecoh, Jrakah dan Klakah.

Menurut Susilohastuti, carik Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, kera-kera itu bersembunyi di jurang-jurang di antara ladang milik para penduduk.

4.000 Pengungsi

Sementara itu jumlah pengungsi di sekitar puncak Merapi di Kabupaten Sleman (DIY) dan Klaten (Jateng) mencapai hampir 4.000 jiwa. Di kabupaten Sleman 1.791 orang telah dievakuasi. Sementara di Klaten jumlah pengungsi mencapai 2.000 jiwa. Mereka tinggal di tempat-tempat penampungan pengungsi.

Evakuasi telah dilakukan terhadap warga desa di wilayah Kecamatan Kemalang, kecamatan yang paling berdekatan dengan puncak Gunung Merapi. Warga desa yang mengungsi di antaranya berasal dari Desa Sidorejo, Desa Balerante dan Desa Tegalmulyo.

Para pengungsi tinggal di sekolah-sekolah mapun di balai desa yang telah disiapkan pemerintah daerah setempat menjadi tempat penampungan pengungsi. Di Kabupaten Sleman lokasi pengungsian berada di sekolah-sekolah, Balai Desa Argobinangun, Umbulharjo, dan juga di RSJ Gracia Kecamatan Pakem.

Sedangkan lokasi pengungsian di Kabupaten Klaten antara lain berada di Balai Desa Dompol dihuni sekitar 1.000 jiwa, Kantor Kecamatan Kemalang 907 jiwa dan sisanya ditampung di Balai Desa Ngemplak Seneng.

Meski aktivitas Merapi meningkat dengan mulai keluarnya magma dari puncak gunung, namun sejumlah masyarakat setiap siang tetap kembali ke rumah mereka untuk memantau harta benda yang ditinggalkan. JBP/kcm/tnr/dtc/ant

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Siap Muntahkan Lava Maut

Tunggu Perintah Sultan


Si Gaek Rachman KO Omar Soto


Buruh Ancam Lumpuhkan Industri


Di Balik Isu Agama Ganda Bupati Ratna Ani
Temui Megawati Dengan Jilbab Hitam-Putih


Penumpang Turun Di Landasan Pacu


Hidup Dari Leher


8 Warga PNG Dideportasi


Banjir Kuripan Meluas


Pole Pertama Alonso!


Bayern Juara Bundesliga


4 Sipir Dicurigai


Kekurangan Oksigen


Kontrak Politik Ala PDIP


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123