Jakarta, BPost
Pertemuan 148 kepala daerah dan pimpinan DPRD asal Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) di Surabaya, Jawa Timur, akhir pekan lalu, bukan untuk melawan
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Meski begitu, PDIP menegaskan tetap sebagai
oposisi.
"Oposisi yang dikembangkan PDIP bukan asal oposisi, melainkan oposisi yang
tercipta karena konstitusi yang ada tidak dijalankan pemerintah sendiri," kata Ketua
DPP PDIP Soetjipto di Surabaya, Minggu (7/5).
Sebelumnya Sekjen DPP PDIP, Pramono Anung menyatakan, berkumpulnya para kepala daerah
dan ketua DPRD asal PDIP, murni acara partai sehingga tidak ada kaitannya dengan
perkembangan politik di luar PDIP. Karenanya dia minta agar pertemuan itu tidak dicurigai
terlalu jauh.
"Itu konsolidasi rutin yang sering kita lakukan selama ini. Partai lain pun sering
melakukannya," ujarnya. Dia juga menegaskan, janji setia para kepala daerah asal PDIP
yang dituangkan dalam kontrak politik bukan untuk melawan pemerintah, tapi justru
mendukung program recovery nasional.
"Kami mendukung program pembangunan yang sedang berlangsung, seperti pemberantasan
korupsi, perumahan rakyat, dan pertanian," jelas Anung.
Selain itu, imbuh Anung, pelibatan para kepala daerah dan ketua DPRD dalam konsulidasi
partai sama sekali tidak kontraproduktif dengan tugas-tugas pemerintahan. "Yang
dibicarakan dalam pertemuan itu sama dengan program pembangunan yang sedang kita jalankan.
Semangatnya adalah mempercepat pembangunan bangsa, bukan sebaliknya," tegasnya.
Loyal
Sementara itu, Soetjipto menegaskan sikap oposisi konstitusional PDIP tetap mengacu
kepada visi dan misi pemerintah. "Kalau dulu, kita mengacu kepada GBHN untuk
menyikapi kebijakan pemerintah, tapi sekarang kita mengacu visi dan misi yang dijanjikan
pemerintah hasil Pemilu 2004," urainya.
Yang jelas, sebut mantan sekjen PDIP ini, oposisi konstitusional itu bukan berarti
tidak loyal kepada pemerintah, melainkan upaya menagih konsistensi pemerintah kepada
rakyat sebagaimana dikampanyekan di masa lalu.
"Kalau pemerintah berjanji untuk tidak impor beras tapi tetap impor, maka kami
menentang. Kalau pemerintah berjanji tidak menaikkan harga BBM tapi menaikkan, maka kami
menentang," cetusnya.
Sutjipto juga mengatakan, kontrak politik Hasta Prasetya (delapan janji setia)
yang ditandatangani kader PDIP se-Indonesia yang ada di eksekutif dan legislatif bukan
berarti tidak loyal.
"Kami tidak bicara loyal atau tidak loyal kepada pemerintah, tapi kami membangun
loyalitas berorientasi kepada rakyat, karena pemerintah sekarang dipilih rakyat,"
katanya.
Seperti diketahui, dalam pertemuan sekaligus Rakornas DPP PDIP akhir pekan lalu,
tercatat sekitar enam gubernur/wakil gubernur, 53 bupati/wakil bupati, 15 walikota/wakil
walikota, dan 117 ketua/wakil ketua DPRD asal PDIP se-Indonesia menandatangani Hasta
Prasetya.
"Hasta Parsetya kader itu merupakan pedoman mengarahkan kader kami agar
menjalankan kinerja yang pro-rakyat. Misalnya, kader harus menyoroti APBD/APBN yang lebih
banyak anggaran untuk birokrasi, bukan anggaran untuk publik," kata Sutjipto.
Amien-Iwan Fals
Terpisah mantan Ketua MPR Amien Rais bertemu penyanyi Iwan Fals. Selain membahas
berbagai persoalan bangsa, pertemuan itu juga membicarakan komentar Yudhoyono terhadap
aksi-aksi buruh. Ikut hadir dalam pertemuan yang dikemas dalam dialog di GOR Bulungan, itu
anggota FPDIP DPR Permadi, anggota FPAN Dradjat Wibowo dan penyair WS Rendra.
Amien menilai Yudhoyono kekanak-kanakan ketika mengeluarkan komentar adanya pihak
tertentu menjadi provokator aksi buruh. Pernyataan itu memperlihatkan kalau Yudhoyono
tidak memahami substansi persoalan yang sesungguhnya. "Itu lagu lama, kalau ada
demonstrasi mencari kambing hitam. Saya menganggap kuno, lagu lama bahwa demo digerakkan
oleh yang tidak puas," cetus mantan ketua umum DPP PAN itu.
Selain itu, Amien mengaku kasihan dengan sejumlah kandidat presiden yang kalah dalam
pemilihan presiden lalu. "Kasihan Pak Wiranto, kasihan Ibu Megawati, kasihan saya
sendiri. Kami tidak mungkin seburuk itu. Kita orang-orang yang bertanggung jawab,"
cetusnya.
Menurut Amien, persoalan yang terpenting adalah Yudhoyono-Kalla mau melihat langsung
persoalan yang sesungguhnya dialami masyarakat. Mereka harus bisa menyerap persoalan yang
terjadi serta mencarikan solusi yang tepat untuk itu.
"Pemerintah jangan berpikir muluk-muluk. Daripada nanti terlalu banyak menengadah
ke atas dan tersandung. Padahal, masalah di bawah sudah sangat serius. Yudhoyono-Kalla
jangan sombong dan jumawa. Kalau kekuasaan sudah jumawa, maka itu pertanda akan mengalami
guncangan yang lebih beruntun lagi," kata Amien.
Pertemuan sejumlah tokoh ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, Amien sering menggelar
pertemuan dengan sejumlah tokoh oposisi yaitu Wiranto, Gus Dur, dan Try Sutrisno. Mereka
kerap membahas berbagai persoalan kebangsaan dan memberikan sejumlah rekomendasi kepada
pemerintah. JBP/yus/kcm/mi