"APA bapak masih sakit?" Prof Dr Djoko Rahardjo melontarkan pertanyaan
itu dibarengi senyum kepada HM Soeharto yang mulai siuman pasca-operasi tiga jam yang
mendebarkan, Minggu (7/5) malam.
Soeharto, bekas orang kuat Indonesia itu, tampak berusaha menyunggingkan senyum
khasnya. Dia hanya berkata pendek, "sedikit".
Jawaban pendek itu cukup melegakan seluruh keluarga besar Cendana yang hadir di ruang
perawatan khusus VVIP Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP).
Penyembuhan Soeharto, jelas dia, akan memakan waktu lebih lama. "Ini disebabkan
faktor fisiknya sudah tidak prima lagi akibat faktor usia," kata dr Mardjo
Soebiandono SpB, ketua tim dokter kepresidenan dalam jumpa pers di RSPP, Senin.
Dalam kondisi seperti itu, Soeharto belum diizinkan menerima tamu agar terhindar dari
infeksi dan memberikan kesempatan untuk pemulihan secara optimal. Tim dokter menyarankan
seluruh rakyat Indonesia mendoakan Soeharto agar cepat sembuh.
Pro kontra perlu tidaknya Soeharto diajukan ke pengadilan terus bergulir. KH
Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan presiden ke-3, mengatakan, "saya hanya
menganjurkan satu hal. Pak Harto itu selain kejahatannya haruslah diingat kelebihan atau
jasa-jasanya untuk bangsa kita".
Gus Dur juga menyatakan keinginannya bisa mengunjungi Soeharto. "Saya masih
menunggu kabar tentang kondisi Pak Harto," ungkapnya kepada pers, di gedung PBNU, Jl
Kramat Raya, Jakarta, kemarin.
Senada, Wakil Presiden juga mengatakan bahwa sudah saatnya bangsa ini menghargai
jasa-saja Soeharto. Kalla ditemui usai mengunjungi Soeharto di Rumah Sakit Pusat
Pertamina, Jakarta malam tadi, terkesan dengan kondisi kesehatan Soeharto yang semakin
membaik.
"Beliau berkomunikasi dengan kita semua, tersenyum, bicara baik," kata Kalla
seraya pada kesempatan itu menyampaikan salam hangat Presiden Yudhoyono.
"Pemerintah siap membantu Soeharto jika yang bersangkutan perlu dirawat di luar
negeri sekalipun," imbuhnya.
Soeharto dirawat di RSPP setelah beberapa pekan sebelumnya Jaksa Agung Abdul Rahman
Saleh hendak memerintahkan tim kedokteran Kejaksaan Agung memeriksanya kembali terkait
dugaan korupsi.
Sebelumnya Soeharto sehat-sehat saja. Bahkan, Soeharto sempat menghadiri pernikahan
cucunya, Gendis Trihatmodjo dan menerima mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad
di kediamannya Jl Cendana.
Minta Dijenguk
Wakil Ketua DPR Zaenal Maarif, yang datang menjenguk Soeharto mengatakan pihak
keluarga meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Jaksa Agung Abdul Rahman
Saleh menjenguk Soeharto. Langkah itu agar jaksa yang memerintahkan rencana pemeriksaan
kembali Soeharto tahu kondisi sebenarnya.
"Ini agar Yudhoyono bisa pelajari lebih jauh lagi melalui jaksa agung bagaimana
sesungguhnya yang terjadi pada Pak Harto," kata Zaenal menirukan perkataan Siti
Hediyati yang akrab dipanggil Mbak Titiek.
Terpisah, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh menolak berandai-andai menanggapi tuntutan
sejumlah pihak yang menginginkan agar pemeriksaan mantan Presiden Soeharto dihentikan.
"Sekarang kita doakan saja bapak Suharto cepat sembuh dulu, baru dipikirkan apa
langkah selanjutnya," jelas jaksa agung, kemarin.
Terpisah, Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin menambahkan, semalam dia melihat
langsung proses operasi Soeharto. Selama empat jam operasi usus Soeharto sudah diangkat
sepanjang 40 centimeter. "Saya lihat sendiri," tuturnya.
Inisiatif
Koordinator Kontras Usman Hamid mengatakan, meski Soeharto berada dalam kondisi
memprihatinkan, hal itu bukan berarti harus dikeluarkan Surat Perintah Penghentian
Penyidikan (SP3) atas kasus-kasus dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan Soeharto.
Mestinya jaksa agung tetap harus mengambil langkah inisiatif untuk membentuk tim dokter
lainnya untuk mengetahui persis kondisi Soeharto.
"Jaksa agung mengambil inisiatif yang sifatnya alternatif, tidak lagi medis dengan
dokter sebelumnya tapi dokter lainnya untuk mengambil second opinion. Kalau perlu
dokter internasional," kata Koordinator Kontras Usman Hamid.
Penyelesaian kasus Soeharto tidak hanya melulu harus melalui keterangan Soeharto. Hal
itu juga bisa ditelusuri dokumen intelijen atau saksi-saksi yang masih ada. Karenanya,
kata Usman, kepastian hukum Soeharto dapat terjawab dengan baik apabila jaksa agung memang
bersungguh-sungguh.
Kata Munarman, pemeriksaan Soeharto atau pun kroninya tidak hanya terfokus pada dugaan
korupsi. "Pelanggaran HAM juga harus difokuskan mengingat masa kepemimpinannya yang
diktator."
Namun, mantan ajudan Soeharto, Letjen (Purn) Soeyono meminta bangsa Indonesia tidak
terbelenggu masa lalu dan sebaliknya bergerak ke masa depan.
"Sia-sia kutak-katik Pak Harto terus. Kalau kita tak percaya dengan tim dokter
paling ahli di Indonesia, mau percaya siapa lagi," katanya.
Kata Soeyono, bangsa Indonesia sebaiknya belajar dari bangsa lain mengenai bagaimana
mereka memandang dan memperlakukan mantan pemimpinnya.
Bangsa yang besar, seperti Amerika Serikat dan China, selalu menempatkan mantan
pemimpinnya di tempat yang baik dan terhormat. JBP/aco/yus/h10/yls/ewa/ade