:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini

Hot Line
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Rabu, 14 Juni 2006 03:33:41


Prancis Frustasi

Stuttgart, BPost
Beruntung, dua kaki Fabien Barthez yang terpaku di bawah mistar masih bisa menahan bola yang meluncur lemah ke arahnya. Bola hasil sundulan Daniel Gigax di menit ke-70 itu urung berbuah gol.

Pelatih Swiss Jakob Kuhn sendiri tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Raut mukanya yang semula begitu bergairah, tiba-tiba cemberut.

Dalam laga Grup G Piala Dunia 2006 di Stadion Daimler-Gottlieb, Stuttgart, Rabu (14/6) dinihari, Prancis dan Swiss hingga akhir pertandingan hanya bermain imbang 0-0.

Prancis yang menampilkan duet Thierry Henry dan Sylvain Wiltord di lini depan, praktis menguasai pertandingan. Sayang, banyak peluang terbuang percuma karena buruknya penyelesaian akhir Zenedine Zidane Cs.

Di babak pertama, Sundulan Henry menyambut umpan silang Wiltord, masih melesat di atas mistar gawang Swiss. Patrick Vieira juga mendapat peluang, tetapi tendangan jarak dekatnya masih melebar.

Sementara tendangan ke gawang pertama Swiss baru terjadi pda menit ke-20. Namun tendangan Tranquillo Barnetta masih terbaca Fabien Barthez. Meski hanya sesekali mengancam gawang Prancis, Alexander Frei mencatat peluang terbaik pada babak pertama setelah menyambut tendangan bebas Barnetta. Sayang, tendangannya masih membentur mistar. Bola rebound yang coba dimanfaatkannya tertahan bek Prancis.

Kejadian paling menarik pada paruh terjadi di menit-menit akhir. Ribery lolos dari jebakan off-side, dan di depan gawang dia mengirim umpan pada Henry. Striker Arsenal itu menendang bola tetapi mengenai tangan bek Swiss, Patrick Muller. Sayang wasit tidak melihatnya sebagai pelanggaran hingga kandas lagi peluang Prancis.

Di babak kedua, pertandingan kian seru. Para pemain Prancis tampak frustasi karena tak juga mampu memecah kebuntuan. Beberapa serangan yang dibangun dari bawah selalu gagal menerobos barisan belakang Swiss yang digalang Senderos.

Materi para pemain Prancis yang rata-rata generasi Piala Dunia 1998 itu cukup kelelahan menghadapi strategi yang diterapkan Alexander Frei cs, yakni dengan umpan-umpan panjang.

Bahkan di saat-saat genting tiga punggawa Prancis, Zenedine Zidane, Thuram dan Gallas terlibat adu argumen seru.

Memasuki 20 menit terakhir, Swis tampak meningkatkan tempo serangan. Namun lagi-lagi peluang menguap sia-sia. Hingga pertandingan berakhir kedudukan kacamata tidak berubah.

Dengan hasil ini Prancis dan Swiss berada di posisi dua dan tiga dengan sama-sama mengantongi satu poin. Pimpinan klasemen dipegang Korsel yang pada pertandingan sebelumnya secara dramatis menundukkan Togo 2-1.

Satu hal yang menarik dalam penampilan The Blues adalah para pemain kompak mengenakan armband bercorak bendera Prancis di tangan mereka. Dari tulisan yang tertera, armband tersebut tampaknya dimaksudkan sebagai bentuk simpati buat Djibril Cisse, yang batal tampil di Piala Dunia 2006 karena mengalami patah kaki tepat pada partai pemanasan terakhir mereka.

Riak-riak

Buruknya penampilan Prancis jelas tak lepas dari riak-riak yang mengemuka di dalam tim sendiri. Timnas Prancis benar-benar lekat dengan perang dingin antarpemain. Beberapa hari menjelang kick off Piala Dunia 2006, Fabien Barthez dan Gregory Coupet terlibat perang mulut. Dua kiper terbaik Prancis itu rebutan posisi starter.

Menjelang laga perdana Grup G melawan Swiss, masalah serupa kembali menerpa Les Bleus. Kini giliran striker David Trezequet yang mengkritik keputusan pelatih Raymond Domenech menempatkannya sebagai pemain cadangan. Domenech memutuskan menurunkan duet Thierry Henry-Luis Saha.

"Lihat apa yang terjadi di Brazil. Ronaldinho, Ronaldo, Adriano, dan Kaka bisa bermain bersama-sama. Demikian juga aku, bisa bermain bersama (Zinedine) Zidane maupun Henry," cetus Trezequet sebagaimana dilansir Reuters.

Trezeguet adalah penyerang terbaik yang dimiliki Prancis saat ini. Dia telah menyumbangkan 32 gol, satu gol lebih sedikit dari Henry. Trezeguet juga bersinar bersama Juventus. Namun, dalam setiap Piala Dunia dia selalu menjadi pemain cadangan.

Pembangku cadangan Trezeguet tidak lepas dari komentar Henry beberapa waktu lalu. Usai uji coba melawan Denmark, Henry mengaku lebih pas berduet dengan Saha. Meski berjanji akan selalu mematuhi keputusan pelatih, secara tidak langsung pernyataan Henry tersebut mempengaruhi keputusan Domenech.

Henry dan Trezeguet pernah ditandemkan dalam uji coba melawan Tiongkok. Itu dilakukan Domenech ketika Djibril Cisse mengalami patah tulang. Benar saja, Henry kurang bisa bekerja sama dengan Trezeguet. Keduanya memang menciptakan gol, tapi tidak lahir dari kerja sama yang apik di antara mereka.pwk/pdc/rtr


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Prancis Frustasi

645 Warga Loban Mengungsi


Spanyol vs Ukraina
Gengsi Laga Selevel


Depdagri Panggil Walikota Pekalongan


IBU TEGA BUNUH 3 ANAK KANDUNG
"Saya Sempat Memandikan Mereka"


Semoga Tak Dizalimi Lagi


Ketiduran Nonton PD Tahanan Polisi Kabur


Terancam Masuk Penjara


500 Ulama Adukan Gus Dur


Hari-hari Ba’asyir Di penjara (2-Habis)
Sempat Dilarang Shalat Jumat


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123